TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Bisnis Zina Merajalela, Khilafah Solusinya



Kabar penangkapan artis FTV Hana Hanifah (HH) oleh aparat Polrestabes Medan, Sumatera Utara, menggegerkan jagat hiburan tanah air. Apalagi, dara kelahiran 30 April 1995 itu dikabarkan diciduk karena dugaan kasus prostitusi online. Aparat Polrestabes Medan mengamankan HH di kamar hotel mewah pada Minggu (12/7) malam. 

Penangkapan tersebut dilakukan setelah polisi mendapatkan informasi terkait dugaan prostitusi online yang menyediakan jasa kencan dengann artis.

Pemain sinetron  ini diamankan dengan seorang pria berinisial A yang berusia 35 tahun.

Kapolrestabes Medan juga menyebutkan pada saat dilakukan penangkapan, petugas menemukan dan mengamankan sejumlah barang bukti. Antara lain satu kotak alat kontrasepsi, dua handphone dan kartu ATM.

Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko mengatakan bahwa model cantik ini diketahui memiliki tarif hingga puluhan juta rupiah. (Jppn.com, 14 Juli 2020)

Kasus tersebut seakan menambah dari daftar kasus serupa. Yaitu kasus prostitusi online yang melibatkan para artis.

Kapitalisme Membuka Peluang Bisnis Zina

Sungguh peristiwa tersebut sangatlah miris. Para artis yang menjadi idola kaum remaja justru terlibat bisnis zina. 

Sebuah bisnis yang berkembang pesat dalam sistem demokrasi-Kapitalis. Sistem yang menjamin kebebasan berprilaku tiap individu. Selain itu sistem ini juga meletakkan standar kebahagiaan hanya pada kapital (Materi). Tanpa memandang halal atau haram lagi. Selagi ada untung materi maka peluang akan tetap di cari.

Kapitalisme telah membentuk watak rakyat berorientasi materi. Prinsip ekonomi yang terjadi adalah penawaran dan permintaan. Selagi ada permintaan jasa prostitusi maka penawaran juga semakin tinggi. Konsep jual-beli dalam hal ini menjadi asas untung-rugi. Termasuk dalam hal prostitusi. Baik mucikari, PSK dan Konsumen semua standarnya sama. Sama-sama menuruti nafsu syahwatnya demi kebahagiaan materi semata. Tanpa memandang status dan agama. 

Kehidupan yang hedonis menuntut para artis  harus eksis. Demi suatu pencitraan di media. Maka kehidupan artis kerap dengan barang-barang mewah. Lalau jika bayaran selama menjadi artis kurang. Jalan pintas bagi mereka yang tidak beriman adalah terlibat bisnis prostitusi. Hingga saat ini, bisnis prostitusi online yang melibatkan para artis masih laris-manis. Sebuah cara instan untuk bisa meraup kekayaan. Tanpa mengedepankan keimanan.

Islam Mengharamkan Prostitusi

Islam adalah agama yg sempurna. Dalam Islam, semua harta di dunia adalah milik Allah SWT. Jika hamba ingin memiliki harta maka harus seizin yang punya. Yaitu Allah SWT.

Allah SWT memberikannya tata aturan supaya kepemilikan harta menjadi halal. Beberapa diantaranya dengan cara hibah (hadiah), waris, mahar, nafkah, zakat, pemberian negara dan bekerja. 
Bekerja dibolehkan asalkan halal dan Allah SWT benarkan. Seperti menjadi guru, dokter, koki, satpam, berdagang dan lain-lain. Sedangkan bekerja menjual diri adalah haram. 

Keharaman bisnis prostitusi telah jelas. Prostitusi erat kaitannya dengan zina. Allah SWT Mengharamkan zina. Apalagi mengambil keuntungan atas perzinahan. Semua yang terlibat mendapat dosa besar di sisi Allah SWT.

Dalam Islam, setiap aktivitas yang mendekati zina saja diharamkan. Lebih-lebih berzina dan menjual diri malah sangat dilaknat Allah SWT. Oleh sebab itu, orang yang mendekati atau bahkan melakukan zina akan mendapat adzab yang amat pedih. Allah SWT bersabda dalam Surat al-Isra’ ayat 32.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

Allah SWT memberikan wewenang kepada negara untuk menjatuhkan sanksi yang tegas. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nur ayat 2:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “.

Berzina dengan alasan ekonomi tidak pernah dibenarkan dalam Islam. Sebuah pekerjaan yang hina di sisi Allah SWT. 

Khilafah Mencegah Bisnis Zina

Dalam Islam penguasa bertugas menjadi pelindung dan penjaga rakyat. Rosulullah SAW bersabda:

"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.’” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Penguasa di dalam Islam berkuasa untuk menerapkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Sejatinya fenomena bisnis zina tidaklah cukup dengan razia dan pembinaan. Kerena masalah utamanya adalah penerapan sistem kapitalis-demokrasi. Sebuah sistem yang mengakomodir kebebasan berperilaku. Dan prinsip ekonomi yang keliru. Prinsip yang mengedepankn keuntungan tanpa pertimbangan halal-haram. Sudah saatnya umat mencampakkan sistem kufur ala kafir penjajah tersebut.

Berbeda halnya dengan sistem Islam dalam naungan Khilafah. Khalifah akan mengadopsi sistem ekonomi dan sistem pergaulan yang berdasar Al-Qur'an dan Sunnah. Khilafah akan membuat Undang-Undang yang berkaitan dengan tindakan preventif dan kuratif.

Pertama, Khalifah akan memenuhi segala kebutuhan pokok setiap warga negara baik muslim maupun nonmuslim. Dengan cara langsung semisal pendistribusian zakat fitrah dan mal kepada mustahik. Negara juga bisa membagikan tanah atau harta Kepemilikan negara kepada rakyat yang membutuhkannya.  

Kebijakan negara secara tidak langsung semisal membuka lapangan kerja baru, mewajibkan para wali memberi nafkah dengan cara bekerja yang halal dan sebagainya. Sehingga tidak ada alasan bisnis zina karena faktor ekonomi.

Kedua, Khalifah akan membatasi interaksi pria dan wanita supaya tidak berkhalwat dan ikhtilat (campur antara pria-wanita bukan mahram). Baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya.

Ketiga, Khalifah akan melarang wanita keluar rumah atau safar tanpa seizin dan pendampingan dari mahramnya jika dilakukan selama sehari-semalam. Hal ini untuk menjaga kehormatan wanita. Agar tidak terjebak bisnis zina.

Keempat, Khalifah akan mengontrol setiap media agar tidak mengandung konten pornografi dan pornoaksi. Hal ini penting agar tidak ada permintaan jasa prostitusi.

Kelima, Khalifah akan melarang beredarnya miras dan narkoba.

Keenam, Khalifah tidak akan mengizinkan penjualan kontrasepsi secara bebas di pasaran. Serta penjualan obat-obat kuat ilegal.

Ketujuh, Khalifah akan membuat regulasi tempat hiburan dan penginapan agar tidak menimbulkan kemudharatan.

Kedelapan, Khalifah akan memberikan sanksi cambuk 100 kali bagi pezina yang belum menikah, serta diasingkan selama satu tahun. Lalu bagi pezina yang sudah menikah akan dirajam di depan umum hingga mati. Bagi para mucikari akan diberikan sanksi ta'zir.

Demikianlah sistem Khilafah akan menjaga segala faktor-faktor yang merusak kehormatan, nasab dan keturunan. Membendung penyebaran pemikiran hedonis dan kapitalis. Dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Sebagai upaya edukasi dan penebusan dosa bagi pelakunya. Hal ini sebenarnya telah terbukti selama kurang lebih 14 abad lamanya. Sejak masa Rosulullah Saw hingga Khilafah Turki Utsmaniyah.

Rakyat terjamin kebutuhan pokok dan sekundernya sesuai sistem ekonomi Islam. Sehingga tidak ada bisnis zina karena ekonomi dan nafsu angkara murka. Sebuah cara instan ingin kaya tapi menjerumuskn diri ke neraka. Padahal kebahagiaan hakiki adalah dengan taat pada Allah SWT. Manusia yang mulia disisiNya adalah yang bertakwa. Bukan yang berharta tapi terlibat bisnis zina.

Sudah saatnya umat kembali kepada Islam secara kaffah. Dengan menerapkan Syariah dalam naungan Khilafah. Maka  umat Islam akan tetap terjaga dari kerusakan dan perzinahan. Wallahu a'lam bi ash-showab.[]

Oleh Najah Ummu Salamah
Praktisi Pendidikan, Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar