Betulkah Hanya Komunisme yang Berbahaya?



Usulan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) belakangan ini ramai dibicarakan dan dibahas. Di awal kemunculannya sudah banyak menuai kontroversi. Banyak tanggapan bahwa tidak ada urgensinya RUU ini dimunculkan ditengah pandemic saat ini. Bahkan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Zaitun Rasmin menganggap RUU HIP ini berbahaya sehingga seharusnya tidak lagi menjadi pembahasan di DPR bahkan harus dicabut. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Prof. Din Syamsudin bahwa RUU HIP ini sangat berbahaya. Ada dua bahaya yaitu, yang pertama tidak mencantumkan TAP MPRS No 25 Tahun 1966 tentang pelarangan komunisme. Yang kedua, menafsirkan pancasila secara sepihak atau subjektif. Ditambah lagi melupakan dan menghilangkan jejak agama dalam penafsirannya. Terutama menghilangkan posisi dan peran penting dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, yang seharusnya menjadi puncak yang mempengaruhi nilai-nilai lain (semarak.co). 

Penolakan terjadi tidak hanya terjadi dikalangan ulama, praktisi hukum, birokrat, praktisi pendidikan, tapi juga semua kalangan masyarakat. Hal ini dibuktikan oleh massa dari berbagai ormas mendatangi gedung DPRD Kebumen, Jawa Tengah. Mereka menuntut agar RUU HIP segera dihapuskan dan meminta aparat penegak hukum untuk menindak tegas para pelaku makar yang ingin mengganti pancasila. Dalam aksi tersebut terlihat massa membawa spanduk yang bertuliskan Kebumen Bersatu Tolak RUU HIP, Selamatkan Agama dan Negara dari Paham Komunisme, Basmi Komunis dan Antek-anteknya dan lain-lain (12/7/2020, newsdetik.com). 

Tentu menjadi sebuah hal yang sangat wajar jika banyak, bahkan hampir keseluruhan masyarakat menolak RUU HIP ini. Jika kita mau menengok kembali sejenak dahulu ada peristiwa yang begitu kelam dan menyakitkan, tindakan sadis juga biadab dari orang-orang komunis tersebut. 

Para santri, kyai, ulama, birokrat, bahkan para tentara dan jenderal tidak luput dari aksi keji mereka. Semua yang berhubungan dengan agama, terutama Islam pasti akan dihancurkan. Karena bagi mereka agama hanyalah sebuah candu yang menghambat kehidupannya. 

Itulah kenapa akhirnya masyarakat begitu masif menolak RUU HIP ini, dikarenakan ada trauma sejarah yang begitu memilukan dan siapapun tidak akan ada yang mau untuk mengulanginya kembali. 

Tapi apakah betul jika hanya komunisme saja yang perlu dikhawatirkan kemunculannya? Sebagai sebuah ideologi sampai kapanpun sosialis komunis akan terus eksis, jika para pengembannya masih tetap ada. Sebagaimana halnya ideologi kapitalis sekuler yang saat ini sudah eksis bahkan menjadi hegemoni diberbagai belahan dunia. 

 Yang membedakan ideologi sosialis komunis, juga halnya ideologi Islam dengan ideologi kapitalis sekuler saat ini adalah komunisme dan Islam hanya hidup atau diemban pada tataran individu saja. Belum pada tataran sebuah Negara sebagai pengembannya. Walaupun dulu pernah kedua ideologi itu dulu diemban oleh Negara dan menjadi Negara adidaya. Tapi semenjak keruntuhannya Uni Soviet dan juga Khilafah Utsmaniyah mengakibatkan hilangnya kedua ideologi tersebut dalam tataran Negara.  

Sekulerisme Kapitalisme Juga Berbahaya

Betulkah sekulerisme kapitalisme juga berbahaya? Sebelum menjawab pertanyaan itu sebaiknya kita kenali dulu apa itu ideologi sosialisme komunisme dan apa itu sekulerisme kapitalisme. Sebagai sebuah mabda atau ideologi yang melahirkan aturan-aturan kehidupan. Artinya, ideologi pada hakikatnya adalah pemikiran mendasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam mengenai hakikat kehidupan, yang kemudian melahirkan sistem kehidupan. 

Dengan definisi tadi jelas sekali bahwa di dunia ini hanya ada tiga ideologi tadi. Karena realitasnya hanya ketiga ideologi ini yang mampu memecahkan problematika kehidupan manusia, terlepas dari benar tidak solusi yang dihasilkan.  
       
Ideologi sosialisme komunisme, secara mendasar ideologi ini didasarkan kepada akidah materialisme. Akidah ini menyatakan bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan semuanya berasal dari materi (benda). Materi bagi mereka bersifat azali. Tidak diciptakan oleh Tuhan, tetapi ada dengan sendirinya.

Materialisme adalah tolak ukur segala sesuatu, sesuatu yang real tidak lain adalah segala sesuatu yang bersifat material atau fisikal. Sehingga keberadaan Tuhan tidak pernah mereka yakini, karena tidak bisa dibuktikan baik secara material atau fisikal. Karena itulah ideologi ini terkenal sebagai ideologi yang anti Tuhan atau anti agama. 

Berbeda dengan ideologi sosialisme komunisme, ideologi kapitalisme didasarkan kepada akidah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Akidah ini mengakui bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan ini berasal atau diciptakan oleh Tuhan. Namun hanya sebatas itu saja. Dengan kata lain akidah ini mengakui bahwa Tuhan itu Sang Pencipta saja, tapi tidak mengakui Tuhan sekaligus sebagai Sang Pengatur. 

Konsekuensinya kehidupan manusia tidak perlu diatur oleh Tuhan, tetapi cukup oleh manusia itu sendiri. Manusia dipandang memiliki kewenangan mutlak mengatur dirinya. Oleh sebab itulah didalam Negara yang menerapkan ideologi kapitalisme ini peran Tuhan terpinggirkan. Tidak boleh ada peran agama yang ikut campur dalam ranah publik apalagi sampai ranah kenegaraan. Yang diperbolehkan hanya sebatas ibadah spiritual atau di ranah privat saja. 

Justru jika dilihat lebih seksama diantara kedua ideologi tadi, sekulerisme kapitalisme terlihat lebih berbahaya. Kenapa? Karena sekulerisme pada hakikatnya sama dengan komunisme. Sama-sama menafikan peran Tuhan dalam kehidupan sosial dan bernegara. Jika ideologi komunisme secara terang-terangan dan gamblang mengatakan tidak percaya adanya Tuhan. Tidak demikian dengan ideologi sekulerisme kapitalisme. Secara halus mereka menafikan peran tuhan dalam kehidupan, tapi sangat nyata dan jelas terlihat dari aturan-aturan yang dibuatnya. 

Jika kita sebagai umat muslim melihat ada tanda-tanda munculnya sebuah paham komunisme pasti akan segera menolaknya dengan tegas, bahkan berusaha memberantas sampai ke akar-akarnya. Tetapi tidak demikian untuk sekulerisme, menganggap bahwa pemahaman tersebut tidaklah berbahaya dikarenakan masih boleh atau bebasnya kita untuk beribadah. Padahal jikalau kita mengetahui dan memahami apa itu sekulerisme tentu kitapun akan keras menolaknya, sama halnya dengan komunisme. 

Diibaratkan sebuah tanaman bonsay, seorang muslim yang hidup didalam negeri yang menganut ideologi sekulerisme kapitalisme akan tumbuh tidak maksimal dan kerdil selamanya. Karena dikondisikan oleh lingkungan sekitarnya sedemikian rupa untuk tidak bisa tumbuh besar dan kuat. 

Sesungguhnya Islam itu tidak pernah bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, baik lingkup individu, sosial masyarakat, juga Negara. Hukum didalam Islam itu lengkap dan sempurna. Tidak hanya mengatur masalah dirinya dengan Tuhannya saja, tapi juga mengatur dirinya sendiri, serta hubungannya dengan manusia lainnya. Inilah sekulerisme, pemisahan kehidupan dengan agama. Selama manusia itu menjalankan perintah agama sebatas individu akan tetap diperbolehkan, tetapi tidak lebih dari itu. Jika sudah merambah ranah yang lebih luas tentu akan dihadang dengan segala cara.

Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt, dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 120, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” 

Allah telah mengabarkan kepada Rasul-Nya, orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang dan rida sampai kita mengikuti ajaran mereka. Tapi hal ini dilakukan dengan cara halus, hampir tidak terlihat. Menggiring kaum muslim secara perlahan meninggalkan Alquran dan Assunah. Dengan paham sekulerisme tersebut. 
Padahal jika kita selalu berpegang teguh dengan apa yang Allah sampaikan dalam firman-Nya, Alquran surat Al Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” Tentu tidak akan pernah kita sedikitpun “berpaling” dari ajaran-Nya. Wallahu ‘alam bishshowab.[]

Oleh Anjar Rositawati S. Pd 
Aktivis Muslimah dan Pemerhati Generasi

Posting Komentar

0 Komentar