Benarkah Materi Ajar Khilafah dan Jihad akan Diganti dengan Moderasi Islam?


Dikutip dari Republika.co.id  2/7 bahwa seluruh materi ujian Madrasah yang lalu, materi yang mengandung konten khilafah dan jihad (perang) telah diperintahkan oleh Kemenag untuk ditarik dan diganti. Ajaran tentang khilafah dan jihad telah dianggap ajaran yang berkonten radikal, oleh karenanya ada 155 buku pelajaran Agama Islam telah dihapus oleh Kemenag Fachrul Razi tentang ajaran yang dianggap radikal tersebut. 

Meskipun untuk materi khilafah dan jihad tetap ada di dalam buku - buku tersebut, namun pastinya setelah dirubah dengan mengalihkan atau menyempitkan pemahaman tentang khilafah hanya sebatas pengetahuan dan jihad sebatas kesungguhan perjuangan manusia dalam menuntut ilmu, mencari nafkah dan dalam melawan hawa napsu belaka. 

Kemenag juga telah memastikan di dalam buku - buku tersebut akan memberi penjelasan bahwa khilafah tidak lagi relevan di Indonesia. Adapun buku - buku ajar baik di MI, MTs maupun MA sebatas berorientasi pada penguatan karakter, ideologi Pancasila dan anti korupsi. Dan untuk menyiapkan generasi yang akan datang, generasi yang betul - betul bisa menjaga perdamaian, persatuan dan toleransi demi keutuhan NKRI dan kejayaan Islam di Indonesia.

Menag juga telah mengungkapkan bahwa penghapusan konten khilafah dan jihad yang dianggap radikal merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dibangun dimulai dari sekolah. Dengan pembangunan rumah moderasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) serta penguatan bimbingan perkawinan. Adapun program moderasi beragama lainnya yang tengah dijalankan yaitu pelatihan bagi guru dan dosen, penyusunan modul pengarusutamaan Islam wasathiyah serta madrasah ramah anak.

Tentu saja, apa yang menjadi program pemerintah melalui Kemenag tersebut dihawatirkan bertujuan menghilangkan peran agama (Islam) yang sesungguhnya dalam mengatur tatanan kehidupan umat Islam khususnya dan seluruh manusia secara umum. Hal tersebut juga merupakan penyesatan sistematis terhadap ajaran Islam.Sebab setiap ajaran Islam yang dianggap berpotensi mengganggu kepentingan rezim lalu dihapus.

Beginilah sistem demokrasi - kapitalis - sekulerisme yang melahirkan sistem kehidupan berasal dari pemikiran manusia tidak berdasarkan bimbingan wahyu Allah. Setiap kebijakan yang dibuat berdasarkan hawa napsu belaka.Termasuk dengan kebijakan penghapusan ajaran khilafah dan jihad yang telah jelas merupakan bagian dari ajaran Islam adalah dampak penerapan sistem kapitalis - sekulerisme.

Kebijakan tersebut telah menghasilkan kurikulum Pendidikan sekuler anti Islam. Kurikulum yang menjadi rujukan mengarahkan anak umat memperjuangkan tegaknya Islam, diganti materi yang mendorong mereka mengganti Islam dengan sistem buatan manusia.

Tentu saja, sebagai bagian umat islam yang sadar akan bahaya dari penghapusan ajaran Islam terkait dengan ajaran khilafah dan jihad kita  harus menolak hal tersebut.  Program pemerintah yang nyata - nyata telah menyesatkan dengan memutarbalikkan makna khilafah dan jihad yang sesungguhnya. Umat Islam harus cerdas. 

Umat juga harus menyadari pentingnya  ajaran khilafah dan jihad yang akan membangkitkan dan menyatukan seluruh manusia dalam aturan yang berasal dari Sang Pencipta. Dan tentu saja ada pihak - pihak yang tak ingin melihat umat Islam bersatu dan bangkit kembali. Mereka akan melakukan segala upaya untuk membendung penegakan khilafah. Oleh karena itu mereka menyerang ide khilafah dan jihad dengan menyerang dalil wajibnya khilafah dan jihad bagi umat Islam.

Sudah saatnya kita mencari kebenaran tentang ajaran Islam yang sesungguhnya dari Al-Quran dan Sunah Rasulullah. Yang menjadi pedoman bagi kehidupan kita, agar kita dapat menjalankan seluruh perintah dan larangan Allah sebagai bentuk penghambaan kita kepada Sang Khalik - Sang Mudabbir. Sehingga setiap perbuatan kita di dunia sesuai perintah dan larangan Allah. Dan itu semua hanya dapat terwujud di dalam sistem Islam yaitu Khilafah. Yang akan mampu mengatasi setiap permasalahan kehidupan bagi muslim maupun non muslim. Wallahu'alam bishawwab.[].

Oleh: Atika Kurniawarni Ummu Aisyah

Posting Komentar

0 Komentar