Batasan Usia Sekolah, Noda Pendidikan untuk Semua


Dalam beberapa hari terakhir telah terjadi protes yang dilakukan sejumlah orang tua siswa di daerah Jakarta. Orangtua siswa merasa tidak puas dengan sistem PPDB yang diterapkan pada tahun ini. Mereka mempermasalahkan sistem baru zonasi yang dituding telah mengutamakan usia. Di Jakarta protes keras orang tua murid terjadi saat Konferensi Pers Dinas Pendidikan DKI Jakarta di kantor Disdik DKI, Kuningan Jakarta Selatan Jum'at pagi (26/06/2020), orang tua murid yang diketahui bernama Hotmar Sinaga ini marah karena anaknya yang berusia 14 tahun, gagal masuk SMA, karna terlalu muda.(Kompas.tv, 27/06/2020)

Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS Anak) pun menerima banyak laporan dan protes dari orang tua siswa terhadap mekanisme pembatasan usia pada sistem PPDB tahun ini. Hal itu membuat KOMNAS Anak angkat bicara. Komisi Nasional Perlindungan Anak meminta Pemerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta tahun ini dibatalkan atau diulang. Alasannya kebijakan batas usia yang diterapkan Dinas pendididkan DKI Jakarta dinilai bertentangan dengan PERMENDIKBUD nomor 44 tahun 2019. "PEMENDIKBUD nomor 44 tahun 2019 salah dilakasankan dan diterjemahkan dalam JUKNIS Dinas Pendidikan DKI Jakarta, kami menyebutkan gagal paham dari PERMENDIKBUD no 44 tahun 2019, kata Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait di tV One minggu , 28 juni 2020. Arist juga menambahkan alasannya," karena apa ? Karena penerapan  PERMENDIKBUD nomor 44 tahun 2019 di tempat yang lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Batam, Riau dinilai tidak bermasalahkarna dia menerapakan pasal 25 ayat 1 yang menyediakan afirmasi zonasi, jarak dan paling akhiir nanti isia untuk kuota berikutnya" ujar arist. (Viva News.com, 28/06/2020).

Dijelaskan juga dari sumber yang sama bahwa sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana mengatakan pemenuhan kuota atau daya tampung terakhir pada seleksi PPDB, menggunakan usia peserta didik yang lebih tua berdasarkan surat keterangan lahir atau akta kelahiran. 

Menurut Nahdiana sekolah berbasis zonasi berbasis kelurahan dan irisan kelurahan dengan mempertimbangkan keunikan demogarafi Jakarta, mulai dari tingkat kepadatan penduduk yang tidak sama di tiap kelurahan, bentuk hunian vertikal yang ada di Jakarta, hingga sebaran sekolah yang tidak sama di setiap keluarahan. Menurut Arist itu adalah alasan yang tidak masuk akal, karna implementasi permendikbud nomor 44 tahun 2019 bukan hanya khusus untuk satu wilayah  tapi berlaku umum untuk semua daerah di Indonesia.

Kisruh pada sistem penerimaan siswa baru sistem zonasi dan perbedaan tentang tata cara penerapan yang terjadi saat ini adalah gambaran dari sebuah negara yang dinalai telah gagal dalam memenuhi dan menjamin pelayanan dalam bidang pendidikan. Bersekolah merupakan salah satu cara menuntut ilmu dan merupakan hak dasar bagi umat yang seharusnya dijamin oleh Negara. Ditambah lagi pemberlakuan kuota karena terbatasnya kemampuan menyediakan fasilitas pendidikan hingga lahirlah sistem zonasi . Dimana hal itu menghantarkan beragam kisru yang  bisa saja terjadi di setiap tahunnya. sehingga hal itu berimbas pada penelantaran hak umat.

Semua hal itu wajar jika terjadi di negeri ini yang menjadikan kapitalis sebagai sistem untuk mengatur kehidupnya. Sistem yang tegak atas liberalisme yang membiarkan umat memenuhi setiap kebutuhannya secara mandiri dan mengaburkan peran negara dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan.

Sudah sewajarnya kita kembali ke dalam sistem Islam. Dimana di dalam Islam menuntut ilmu dianggap sebagai  kewajiban. Seperti sabda Rosulullah saw yang berbunyi "menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki laki dan perempuan". Dengan demikian  negara akan senantiasa menjamin setiap individu agar dapat menunaikan kewajibannya tersebut dan memastikan setiap orang dapat dengan mudah mengakses segala kebutuhan dalam kehidupan. Hal itu dikarenakan  negara memposisikan dirinya sebagai pelayan dan pengurus umat. Yang itu dilakukannya semata mata karna ketaatannya kepada Allah swt. Allahu a'lam bi showab.

Oleh : Ummu Nafeeza




Posting Komentar

0 Komentar