Aroma Kapitalis di Balik Perjodohan Kampus dan Industri


Pendidikan bagi umat manusia disadari telah mampu menciptakan kemajuan peradaban unggul di muka bumi. Belajar menjadi inti dari aktivitas pendidikan. Tanpa belajar sesungguhnya tidak ada aktivitas pendidikan. 

Pendidikan berasal dari kata latin educare yang berarti ‘menarik keluar dari'. Sehingga pendidikan adalah sebuah aksi membawa seseorang keluar dari kondisi tidak merdeka, tidak dewasa, dan tergantung, kepada situasi merdeka, dewasa, dapat menentukan sendiri dan bertanggung jawab.

Kini Belajar dengan merdeka di kampus merdeka sudah bisa dinikmati siapa saja dari kalangan terpelajar di negeri ini. Mereka yang menghendaki kampus dan perguruan tinggi bebas tekanan, membuka lebar-lebar akses bagi ‘orang berduit’, pengusaha maupun investor agar berperan dalam pendidikan, sudah bisa terpenuhi harapannya. 

Tepatnya sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim  menginisisasi lahirnya Kampus Merdeka. Sebuah ekosistem pendidikan yang memberi ruang bagi lahirnya kebebasan melakukan inovasi pendidikan, dan membolehkan perusahaan-perusahaan multinasional, startup, BUMN, hingga organisasi dunia sekelas PBB untuk ikut andil dalam penyusunan kurikulum jika program studi baru dicanangkan oleh kampus-kampus negeri maupun swasta di Indonesia (radardepok.com, 8/2/2020)

Tidak tanggung-tanggung Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerjasama antara perguruan tinggi atau Kampus dengan Industri. (lensaindonesia.com, 04/7/2020) Sebagai sebuah strategi yang dianggap penting agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi untuk saling memperkuat keduanya. Sehingga kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan, dan menjadi generasi pendisrupsi revolusi industri 4.0

Ada sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan PTS yang dipersiapkan melakukan pernikahan massal pada tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri (antaranews, 27/5/2020). Perbandingannya bukan satu kampus dengan satu industri, tetapi satu kampus vokasi dengan banyak industri. Tahap berikutnya, perjodohan akan terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi.

Sebagai bentuk keseriusan dari program link and match ini telah dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman pengembangan pendidikan vokasi berbasis kompetensi antara lima kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian BUMN.

Mendikbud Nadiem meyakini bahwa perguruan tinggi memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan SDM unggul di Indonesia. Dia mengatakan bahwa sebagai ujung tombak penyiapan SDM sudah semestinya perguruan tinggi terus bergerak dan berbenah dalam memperkuat bekal para sarjana di Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman. Perguruan tinggi harus lebih cepat berinovasi dibandingkan jalur pendidikan lainnya karena harus adaptif dan berubah dengan lincah menyesuaikan dengan kebutuhan di dunia kerja.

Kata Nadiem, pemerintah, memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian.

Hal ini tentu saja sejalan dengan apa yang telah dicanangkan Presiden Jokowi sejak pertama kali dilantik. Dia mencanangkan vocasi training and vocasi school, sebagai proyek penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan memasukkannya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara tahun 2020-2024. 

Bentuk reaksi pemerintah ini disebabkan dua hal, pertama karena adanya bonus demografi yang didapatkan Indonesia di tahun 2020-2030. Kedua, karena masuknya para pekerja asing yang jumlahnya mencapai 95.335 orang hingga akhir tahun 2018. Karena itulah perlu dilakukan perbaikan daya saing SDM Indonesia, apalagi pada periode 2017/2018 Indonesia masih berada di urutan 36 dari 137 negara di dunia.



Menimbang Kembali Link and Match Kampus dan Industri

Karl Marx pernah meramalkan “basis dari gerak sejarah sistem pendidikan dunia ditentukan oleh basis kapital (ekonomi)”. Tampaknya, ramalan marx itu telah terbukti dalam realita dunia pendidikan saat ini, khususnya di Indonesia. Sebab sejatinya pendidikan tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan suatu bangsa dimana pendidikan itu berada. (medianeliti.com, 27/7/2020)

Era revolusi industri 4.0 saat dimana generasi millenial tumbuh dan berkembang, menuntut SDM yang kreatif, inovatif dan berdaya saing. Perlu ada paradigma baru di dunia pendidikan dalam beradaptasi dengan kebutuhan industri.

Tapi akan berbahaya jika paradigma pendidikan dibawa kemana saja, semaunya. Terlebih lagi jika akhirnya menyeret pendidikan menuju pusaran kapitalis yang hanya berorientasi materialistis. Ini adalah perkara ironi. Sebab semboyan kapitalis adalah Knowlegde Based Economy. Ilmu pendidikan menjadi dasar keberhasilan pertumbuhan ekonomi. Artinya, pendidikan dalam frame kapitalis bukan dimaksudkan untuk melahirkan pribadi-pribadi berkarakter dan mulia karena memiliki kapasitas keilmuan yang tinggi, tetapi menyiapkan mereka untuk menjadi mesin industri bagi kepentingan ekonomi.

Jika demikian yang terjadi maka pertanda buruk bagi para sarjana, out put perguruan tinggi. Mereka jadi kehilangan ruh. Tidak lagi mampu menjalani tugas pendidikan sebagai penuntut ilmu, sebab tersibukkan dengan berbagai persiapan diri untuk menjadi pekerja, menjadi mesin-mesin penggerak industri yang mengabdi pada kepentingan-kepentingan kapitalis dalam rangka melanggengkan kepentingan para pemodal.

Al hasil muncul ‘madzhab ijazah’. Menjadikan Ijazah, meraih gelar sarjana sebagai tujuan akhir pendidikan. Ijazah menjadi jalan kemudahan memperoleh pekerjaan dan  profesi bergengsi. Maka dengan sebab ijazah konon masa depan dapat diraih, ditemukan, bahkan ditentukan. 

Padahal pendidikan semestinya bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan kapital (profit). Sebab pendidikan adalah bidang kehidupan manusia yang paling vital dan fundamental bagi proses menuju bangsa yang cerdas sehingga berujung pada kesejahteraan dan kemakmuran. Pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan manusia yang berarti mempersiapkan manusia agar dapat hidup dalam masyarakat secara utuh.

Namun pendidikan memang tidak berdiri sendiri. Pendidikan sangat terkait dengan berbagai kepentingan pihak dominan, terutama para pemegang kekuasaan politik dan kekuasaan modal. Dalam kaitannya dengan industrialisasi, kepentingan kapitalisme dalam dunia pendidikan telah bisa disaksikan sejak era tahun 1970-an. Sejak itu bersamaan dengan tegaknya pilar ideologi pembangunanisme (developmentalism) yang dibawa oleh pemerintah orde baru. Pendidikan mulai kehilangan ruhnya sebagai satu pilar utama peningkatan SDM yang memiliki visi mencerdaskan kehidupan bangsa. Pola hubungan pendidikan harus selalu menyesuaikan dengan proses industrialisasi. (medianeliti.com, 27/7/2020)

Kini semakin kasat mata, pendidikan terjebak ke dalam revolusi industri 4.0 yang digagas barat. Sejatinya hal ini adalah alat penjajahan gaya baru berkedok kemajuan teknologi. Dimana mekanisme kesuksesannya ditempuh melalui pemberdayaan strategi pendidikan yang mengarah kepada link and match antara dunia pendidikan dan industri. Menetapkan fakultas dan jurusan pendidikan sesuai kebutuhan pasar, dan mengarahkan kurikulumnya sejalan dengan pencapaian target out put pendidikan yang berdaya guna dan berhasil guna bagi dunia usaha dan dunia industri.

Hasilnya bakal spektakuler. Sebab dari bonus demografi diprediksikan bahwa Indonesia akan mendapatkan 70% jumlah penduduk usia produktif dari total 268 juta penduduk. Ini adalah sasaran empuk, pangsa pasar tinggi incaran kapitalis. Bukan hanya sebagai konsumen dari produk teknologi yang akan dihasilkan, namun juga sebagai aset berharga. Sebab dari sana akan terlahir tenaga-tenaga terdidik bagi pasar tenaga kerja mereka. 

Maka semakin nyatalah usaha kapitalis untuk menjadikan pendidikan sebagai alat penjajahan, yang akan memuluskan jalan mereka untuk menghegemoni negara-negara di dunia, menguasai kekayaan alam dan tinggal berpangku tangan menantikan aliran keuntungan dari hasil pengelolaannya oleh tenaga-tenaga muda usia produktif. Sungguh naif.

Terlebih lagi jika para penguasa mengamputasi tanggung jawabnya kepada umat dengan mengamalkan konsep good governance atau reinventing government. Secara sadar atau tidak, negara akan abai kepada rakyatnya dan mengutamakan kepentingan pengusaha, investor, dan para korporasi yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Sebab penerapan konsep kapitalis ini mengharuskan negara berlepas tangan dari kewajiban utamanya sebagai pelayan rakyat. Negara hanya menjadi pendukung, katalisator, regulator, pembuat aturan bagi kepentingan siapa pun yang ingin mengeruk keuntungan dari dunia pendidikan (tintasiyasi.com,30/6/2020).

Tetapi malang tak dapat dielak untung tak bisa ditolak. Wabah covid-19 yang menyerang dunia sekarang ini telah memperlihatkan lemahnya imunitas kapitalis dalam mencegah dan mengantisipasi dampaknya terhadap ekonomi. Setidaknya hal ini bisa diamati dari tergerusnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sebagai pusat negara pengusung kapitalisme. Terpuruknya sektor industri di AS memaksa bisnis restoran dan industri perhotelan tutup. Kinerja bisnis dan industri mengalami penurunan yang sangat massif. Pasar tenaga kerja juga menurun drastis. Tak sedikit buruh dan pekerja yang terkena PHK, seperti halnya yang terjadi negara-negara berkembang.

Akibat serangan virus corona menurut Departemen Tenaga Kerja Amerika, tingkat pengangguran melonjak 14,7% pada April lalu. Sekitar 20,5 juta pekerjaan hilang selama wabah covid-19 menyebar. Berdasarkan data pemerintah, sudah 26 juta orang di AS yang mengajukan klaim bantuan pengangguran. Bahkan hal ini terjadi tidak hanya di level menengah ke bawah, namun kelas menengah atas hingga para pemegang modal layaknya pengusaha juga menjerit terdampak covid-19. Oleh karena itulah kinerja industrinya kian menurun dan daya saing industrinya pun semakin terpuruk. Tentu saja kondisi ini memberi pengaruh besar pada negara-negara penganut kapitalis lainnya di dunia (alwaie, 1-31 juli 2020)

Maka jika kini kapitalis sebagai sebuah sistem kehidupan nyaris ambyar, masihkah layak untuk dijadikan sandaran dalam berbagai bidang tak terkecuali pendidikan ?. Apakah belum waktunya untuk mencampakkan sistem rapuh ini, lalu mengubah haluan menuju pelabuhan harapan bersama Islam sebagai satu-satu sistem kehidupan terpercaya dan benar. 


Solusi Pendidikan Islam Niscaya Terpercaya dan Benar

Allah swt berfirman, 
“Dan carilah (pahala) di negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (TQS Al Qashash 77).

Proses mencari ilmu pengetahuan tidak berhenti hanya setelah ilmu itu didapatkan, tapi harus dicari upaya untuk mengamalkannya, memanfaatkannya demi kebahagiaan dan terpenuhinya kebutuhan, kemaslahatan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.

Demikianlah Islam mengajarkan keseimbangan hidup. Ikhtiar manusia termasuk usaha pendidikan harus memberi dampak signifikan bagi pencapaian hidup di dunia, tetapi juga perlu diimbangi dengan kerja keras untuk meraih akhirat. Sebab hidup manusia hanya sekejap saja di dunia. Maka perbekalan menuju ke tempat kembalinya haruslah dikumpulkan. 

Inilah visi dan misi Islam yang bertolak belakang dengan kapitalisme. Islam memberikan pemahaman yang benar tentang kehidupan dan menempatkan sisi kemanusiaan pada konteks yang tepat. Maka sistem dan budaya yang terpancar dari aqidah Islam, akan mampu menjelaskan hakikat manusia dan memecahkan persoalan dengan benar. Islam tidak mengabaikan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi Islam mengaturnya dengan takaran yang pas, termasuk saat manusia menginginkan penguasaaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sejalan dengan kemajuan di bidang industri.

Islam memberikan jalan keluar dengan penerapan aturan-aturannya secara praktis dan sistematis akan memungkinkan tercapainya keinginan untuk meraih sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. Penerapan Islam sebagai sebuah sistem adalah keniscayaan, agar keinginan dan kebutuhan tidak diabaikan, atau terpenuhi dengan cara yang tidak tepat.

Meski cara hidup dan arah pandang manusia berubah mengikuti perkembangan teknologi, namun kecenderungan dan kebutuhan manusia tidak akan berubah. Karena itulah islam datang untuk mengaturnya secara keseluruhan agar kecenderungan dan kebutuhan manusia terpenuhi secara benar.

Kecanggihan Islam dalam memenuhi kecenderungan dan kebutuhan manusia serta mengatur kehidupan mereka sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Sehingga obor Islam sebagai pelopor kemajuan peradaban dunia terbukti hingga abad modern sekarang. Sebab Islam selalu mendorong umatnya untuk senantiasa mencari ilmu demi kemashlahatan hidup. Islam menghargai ilmu, dan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu hingga beberapa tingkatan

Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan generasi andalan, dari golongan sarjana dan ilmuwan di berbagai bidang. Hal ini dikarenakan di dalam Islam pendidikan memiliki peran penting bagi terbentuknya manusia berkepribadian yang handal. Menguasai tsaqofah Islam, matang dalam aqidah, senantiasa melekat pada dirinya syariah Islam, mahir berbahasa arab, mumpuni dalam ilmu-ilmu Al quran dan hadits serta berbagai ilmu murni maupun terapan untuk menjalankan fungsinya sebagai khalifah fi al ardh, sebagai pemimpin, pelayan, dan pengayom umat.

Al khindi, seorang muslim yang terlahir dari keluarga pejabat pemerintahan di masa khalifah harun Al Rasyid. Meski terkenal sebagai ilmuwan di bidang kedokteran, namun pemikiran dan penemuannya mengungguli ilmuwan lainnya. Karya-karya mencakup berbagai bidang, seperti astronomi, matematika, geometri, kedokteran dan farmasi. Al khindi juga menorehkan tinta emas dalam bidang mekanik dengan menjadi insinyur peradaban dalam proyek pembangunan dan industri untuk penggalian kanal dan pembukaan jaringan sungai Dajlah dan Furat. Penguasaan berbagai ilmu kimia mengantarkannya mampu membuat parfum, dan menciptakan berbagai aromanya, memahami cara pembuatan besi serta pencampurannya dengan baja berdasarkan ukuran tertentu, hingga menjadi sebilah pedang yang tajam. Kitab Kimiya Al Ithr wa At Tash’idat, kitab Shina’at As Suyuf, serta kitab Al Ghidza’ Wa Ad Dawa’ telah menjadi bukti nyata, hitam di atas putih akan kontribusi besar Al Khindi bagi lahirnya industri kimia modern serta kemajuan industri perlogaman, pertambangan, dan industri farmasi.

Dunia industri juga tidak akan melupakan jasa besar Jabir Ibn Hayyan. Ilmuwan, peneliti besar yang layak mendapat gelar Bapak Kimia ini telah melahirkan karya besar sehingga di abad 14 karyanya menjadi sumber rujukan terpenting dalam ilmu kimia di belahan dunia barat dan timur. Dia menemukan cara efektif untuk memurnikan logam dan mencampur baja untuk keperluan industri serta menjaga besi dari karat. Merumuskan cara-cara istimewa dalam mewarnai kulit, membuat pernis, mengeraskan kain tenun, serta keperluan sehari-hari lainnya yang menggunakan bahan-bahan kimia. Al Jamal Al ‘Isrun yang meliputi dua puluh makalah tentang kimia adalah hasil karyanya. Demikian pula Al Ahjar yang manuskripnya tersimpan di perpustakaan nasional di Paris adalah bukti kepopuleran Jabir.

Karenanya begitu  berharga pesan Imam Asy syafii kepada para pemuda di kemudian hari
“Demi Allah sesungguhnya hidupnya pemuda adalah dengan ilmu dan ketaqwaannya”

Mendekatkan para pemuda dengan iman, dan ketaqwaan kemudian meneguhkan mereka dengan ilmu pengetahuan adalah hal utama yang dapat mengantarkan pada terciptanya generasi yang siap beramal secara unggul dan berkualitas dalam naungan institusi Islam, khilafah.() 

Oleh : Azizah S.PdI
Alumni Pasca Sarjana STIB Banyuwangi

REFERENSI :

https://www.antaranews.com/berita/1554796/ciptakan-sdm-unggul-kemenperin-konsisten-benahi-pendidikan-vokasi
https://www.antaranews.com/berita/1577354/mendikbud-pernikahan-massal-smk-dan-industri-saling-menguntungkan
https://www.lensaindonesia.com/2020/07/04/strategi-pemerintah-fasilitasi-perjodohan-kampus-dengan-industri.html
https://www.antaranews.com/berita/1488868/kemenperin-program-penerimaan-vokasi-industri-tembus-20000-pendaftar
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/01/kebijakan-kampus-merdeka-beri-otonomi-perguruan-tinggi-buka-prodi-baru
https://m.republika.co.id/berita/qd1azl384/mendikbud-kampus-merdeka-hasilkan-lulusan-berdaya-saing
https://teknoia.com/dampak-covid-19-pada-bisnis-84dba2cc6727
https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/GNlY529b-jppi-kampus-berpotensi-jadi-agen-kapitalis
https://jabar.idntimes.com/news/jabar/bagus-f/kebijakan-kampus-merdeka-mendikbud-disebut-kapitalisme-pendidikan
https://www.radardepok.com/2020/02/kampus-merdeka-kampus-terjajah-korporasi/
https://www.mediasulsel.com/kampus-merdeka-ketika-institusi-pendidikan-hanya-sebatas-penghasil-pekerja/
https://www.tribunnews.com/bisnis/2017/09/29/indeks-daya-saing-indonesia-naik-ke-peringkat-36-dari-137-negara
https://www.radardepok.com/2020/02/kampus-merdeka-kampus-terjajah-korporasi/
http://kagama.co/tahun-ini-dirjen-wikan-nikahkan-100-prodi-vokasi-dengan-dunia-kerja-dan-dunia-industri
https://media.neliti.com/media/publications/226432-kapitalisme-pendidikan-analisis-dampakny-db6db7db.pdf
Al wa'ie. Media Politik dan Dakwah Edisi Dzulqaidah, 1-31 Juli 2020
Dr. 'Aidh Al Qarni, M.A. Selagi Masih Muda. Bagaimana Menjadikan Masa Muda Begitu Bermakna.
Muhammad Gharib Ghaudah, 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam.
Noeng Muhadjir, Ilmu Pemdidikan dan Perubahan Sosial Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, hal 15-20
Prayitno, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, hal 1-5
Qori Ratna, 100 Ilmuwan Muslim Para Pelopor Sains Modern.
Shabir Ahmed., dkk. Islam & Ilmu Pengetahuan.

Posting Komentar

0 Komentar