Apa yang Nampak di Mulut Begitu Membenci Khilafah, di Dalam Dada Mereka Lebih Dahsyat


Surat Al Imran ayat 118,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lag. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."

Orang kafir dan munafik, begitu membenci ajaran Islam khilafah. Kebencian itu, begitu nampak dari apa yang diucapkan oleh mulut-mulut mereka. Sementara, kebencian didalam dada mereka, lebih berkerak, lebih dahsyat lagi.

Mulut-mulut mereka, menyebut Khilafah sebagai ajaran Terlarang. Khilafah dituding paham. Khilafah dibahasakan Khilafahisme dan ingin disejajarkan dengan Komunisme. Khilafah dituduh memecah belah, menimbulkan kerusakan dan kekacauan.

Padahal, Khilafah adalah ajaran Islam yang bersumber dari Wahyu, bukan paham atau isme yang berasal dari buah pikiran manusia. Khilafah adalah ajaran Islam yang hukumnya wajib, bukan terlarang. Bagaimana mungkin, sesuatu yang diwajibkan Allah SWT mau dilarang manusia ?

Yang memecah belah dunia Islam adalah nasionalisme demokrasi. Semangat kebangsaan inilah, yang membuat kaum muslimin tidak lagi peduli dengan kondisi saudaranya.

Lihatlah, bagaimana penderitaan kaum muslimin di Uighur, Suriah, Palestina, Rohingya, Yaman, Afghanistan, Irak, Afrika, dan berbagai belahan bumi lainnya. Rezim Saudi, Iran, Turki, Malaysia, Pakistan, yang memiliki tentara dan peralatan perang, tak pernah menggunakannya untuk membela saudara muslim, karena bukan dari bangsanya, bukan dari negerinya.

Ikatan nasionalisme demokrasi, telah mencabut ikatan akidah Islam, persaudaraan Islam, yang diikat dengan kalimat tauhid. Penderitaan kaum muslimin di dunia, justru bermula setelah Khilafah Islamiyyah di Turki diruntuhkan oleh Mustofa Kamal La'natullah, pada tahun 1924.

Hari ini, kita kembali menyaksikan dahsyatnya kebencian mulut pendengki Khilafah, yang marah pada umat Islam di Cirebon, karena redaksi sumpah atas nama Allah SWT, menghapus Khilafah yang semula mau disejajarkan dengan Komunisme, sebagai ancaman keutuhan Negara.

Mulut-mulut mereka, menebarkan kebencian dan fitnah terhadap Khilafah. Mereka lapor Mendagri, Menkopolhukam, Menpan RB, agar semua rakyat dipaksa menghapus keyakinan Khilafah ajaran Islam.

Khilafah hendak dikriminalisasi, disamakan dengan Komunisme. Padahal, tidak ada satupun fakta kini dan fakta sejarah, yang menimbulkan kerusakan negeri ini, karena ulah Khilafah.

Pemberontakan Madiun dan Gestapu, itu semua kerjaan PKI. PKI tidak menerapkan Khilafah, PKI adalah penganut ideologi Komunisme.

Hari ini, kerusakan karena menumpuk hutang, menjual BUMN, menyerahkan tambang dan SDA ke asing, menarik pajak mencekik, kenaikan tarif listrik dan harga BBM, mau memecat jutaan ASN, mau mengubah Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila, itu semua bukan kerjaan Khilafah. Itu semua karena negeri ini menerapkan sekulerime demokrasi, itu semua kerjaan dan ulah rezim sok pancasilais.

Kalau bukan Khilafah yang membuat rakyat lapar, bukan Khilafah yang membuat rakyat kritis  masuk penjara, bukan Khilafah yang membuat TKA China merebut peluang kerja, bukan Khilafah yang amatiran menangani wabah Corona, bukan Khilafah yang bikin kalung anti virus Corona, bukan Khilafah yang melepaskan Timor Timur, bukan Khilafah yang curang saat pemilu dan pilpres, lantas atas dasar apa Khilafah dipersalahkan?

Semua tuduhan itu tak lain mengkonfirmasi betapa kaum kufar dan orang munafik, begitu membenci Khilafah. Untuk mencari peta jalan kebajikan, kita wajib mengambil jalan yang diselisihi kaum kafir dan munafik. Karena itu, pastikan diri tetap konsisten membela Islam, berada pada garis perjuangan menerapkan syariat Islam melalui dakwah, menyeru umat agar menegakkan Khilafah. [].

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Aktivis, Advokat Pejuang Khilafah

Posting Komentar

0 Komentar