TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara 'Hate Speech' dan Dakwah



CEO Facebook, Mark Zuckerberg terhempas dari daftar 3 orang terkaya di dunia karena membiarkan unggahan yang berasal dari  Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang aksi protes menentang rasisme. Unggahan yang dimaksud berbunyi, "when the looting starts, the shooting start," dikutip dari Tempo, 6 Juni 2020.

Penurunan kekayaan Mark dipicu oleh pernyataan Unilever PLC yang akan menghentikan iklan di Facebook, Instagram, dan Twitter di AS, selama sisa tahun ini seraya mengutip istilah  "perpecahan dan kebencian selama pemilihan terpolarisasi ini periode di AS".

Kemudian,  Jumat (26/6) Facebook Inc menyatakan akan mulai melabeli konten yang tetap layak diberitakan meski melangar kebijakan perusahaan, jika memiliki bobot kepentingan publik lebih besar ketimbang risiko yang ditimbulkannya.

Perubahan kebijakan Facebook ini terjadi seiring merebak kampanye boikot iklan "Stop Hate for Profit". Seruan boikot sendiri dimulai beberapa kelompok hak-hak sipil Amerika Serikat (AS) untuk menekan Facebook agar bertindak mengatasi ujaran kebencian dan informasi yang salah.  (kontan.co.id, 27/6/2020)

Beberapa perusahaan menegaskan tidak akan memasang iklan di facebook, Twitter dan instagram hingga akhir tahun karena maraknya postingan pengguna media sosial tersebut terkait dengan ujaran kebencian dan kondisi politik yang terpolarisasi. 

Mereka  mengklaim bahwa platform teknologi khususnya Facebook mendapat untung dari unggahan pengguna yang membagikan ujaran kebencian dan menyebarkan informasi yang salah.
==

Ujaran kebencian dan Nilai Materi

Menurut Wikipedia, ucapan kebencian atau ujaran kebencian (Inggris: hate speech) adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.

Mendengar istilahnya saja tentu tidak mengenakkan ditelinga, apalagi untuk melakukannya. Namun, sampai saat ini belum ada  definisi secara hukum mengenai apa yang disebut hate speech. Namun, sayangnya hate speech tersebut dikeluarkan dari mulut kepala negara AS terhadap aksi rasialisme dinegaranya sendiri.

Sepantasnya seorang kepala negara  tidak mengeluarkan pernyataan yang berbau rasisme, namun hukum pun mampu berbuat apa-apa. Malah facebook yang kena imbasnya. Mungkin begitulah cara kapitalis dalam menyelesaikan persoalan hukum dinegaranya. 

Kebebasan bagi kapitalis di ukur dari seberapa besar kepentingan dan untung rugi yang didapatkan. Sehingga aturan yang dibuat siap berubah kapan saja menyesuaikan dengan situasi kondisi yang ada.  Apalagi standar penilaiannya  sangat relatif, disandarkan pada akal  yang dangkal, jauh dari landasan agama.

Pandangan Islam Terhadap Hate Speach
Islam tidak mengenal adanya ujaran kebencian. Namun yang ada adalah seruan atau dakwah untuk mengajak pada perbuatan yang ma’ruf  dan mencegah kemungkaran. Dakwah adalah upaya untuk mengubah manusia baik perasaan, pemikiran, maupun tingkah lakunya dari jahilyah ke Islam, atau sudah Islam menjadi lebih kuat lagi keislamnya.

Semuanya dilakukan adalah sebagai bentuk kasih sayang pada sesama.  Agar dijauhkan dari kemaksiatan dan kemungkaran. Bukan karena ada kepentingan atau mencari keuntungan duniawi.  Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada islam, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran [3]:104)

Dakwah merupakan suatu kewajiban yang diemban bagi setiap mukalaf. Baik secara individu, berjamaah dan negara.  Dalam melakukan dakwah tujuan semata-mata hanya mencari ridho Ilahi, bukan karena pandangan manusia dan keuntungan materi. Maka ketika seruan atau ajakan untuk kebaikan disampaikan maka tiga komponen tadi harus saling terkait dan bekerja sama.

Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati (menyusahkan) orang-orang yang berada di atasnya. Maka mereka mengambil kapak dan membuat lubang di bagian bawah kapal.

Orang-orang yang berada di atas pun mendatanginya dan berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Ia berkata, “Aku menyusahkan kalian, sementara aku memerlukan air.”

Jika orang-orang yang berada di atas bertindak (mencegahnya) maka hal itu akan menyelamatkannya, dan  menyelamatkan  mereka  semuanya.  Tetapi jika  mereka  membiarkan  tindakan  tersebut,  maka mereka mencelakakannya, dan mencelakakan mereka semuanya. (HR Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam memandang masyarakat sebagai institusi yang harus dipelihara oleh setiap anggotanya. Masing-masing anggota masyarakat harus bertanggung jawab memelihara urusan publik baik berbicara maupun bertindak. Hal ini menunjukkan relasi yang sesungguhnya antara individu dengan masyarakat. 

Berbeda dengan pandangan kapitalis yang mendominasi masyarakat saat ini, yang berpendapat bahwa masyarakat semata-mata terdiri dari individu yang bebas berbuat sebagaimana yang mereka inginkan.  Baik pemerintah maupun  masyarakatnya  sering  melakukan pelanggaran hukum-hukum syariat, asalkan tidak mengganggu negara.

Maka jelaslah dengan syariat, Hate Speech  tidak akan terjadi  dalam sebuah negara. Siapa pun dapat menyampaikan  kebenaran kepada penguasa, jika itu adalah kebaikan. Sedangkan penguasa wajib mematuhinya jika memang sesuai dengan syariat tanpa tapi. Jadi kebijakan negara tidak lahir dan  dikendalikan oleh tangan-tangan kapitalis.[]

Oleh Sri Nova Sagita
Institut Kajian Politik dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar