Antara Abu Lahab, Yahudi dan Kaum Muslim



Sebenarnya Abu Lahab punya waktu sepuluh tahun untuk ‘membuktikan’ Al-Qur’an itu ‘salah’ sejak Allah SWT berfirman:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka).” (QS Al-Lahab [111]: 1-3)

Bagaimana caranya?

Cukup (pura-pura) masuk Islam dan (pura-pura) baik. Lalu beberapa tahun kemudian, cukup berkata, “Bukankah orang yang masuk Islam itu diampuni seluruh kesalahan masa lalunya? Bukankah setelah masuk Islam, aku selalu taat dengan perintah Allah dan Rasul-Nya?”

Maka, pastilah banyak orang Islam yang murtad karena sudah menganggap firman Allah SWT dalam QS Al-Lahab tersebut salah.

Namun Abu Lahab selalu konsisten untuk membuktikan bahwa ayat tersebut benar, sampai akhir hayatnya, dia menjadi penentang Islam nomor satu. Maka terbukti benarlah Al-Qur’an.


Sedangkan kaum Yahudi jauh lebih beruntung dari Abu Lahab, karena tanpa diberi batas waktu (deadline) untuk ‘membuktikan’ Al-Qur’an ‘salah’, sejak Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik… (QS Al-Maidah [5]: 82) 

Namun kaum Yahudi selalu konsisten untuk membuktikan bahwa ayat tersebut benar. Kaum Yahudi Bani Qunaiqa, Bani Nadzir, Bani Khuraizah terus menunjukkan permusuhan yang paling keras kepada Rasulullah SAW, Kaum Muslimin dan Negara Islam/Khilafah.

Begitu juga kaum Yahudi lainnya dari bani lainnya terus berupaya meruntuhkan Khilafah Islam, hingga seorang Yahudi dari Bani Dunamah yakni Mustafa Kamal Laknatullah (Aaamiin) berhasil meruntuhkan khilafah pada 1924, seraya menegakkan sistem demokrasi di Turki ---ibu kota terakhir Khilafah Utsmani.

Tapi itu kan dulu. Sekarang masih banyak kesempatan bagi kaum Yahudi untuk ‘membuktikan’ Al-Qur’an ‘salah’.

Bagaimana caranya?

Tidak perlu masuk Islam. Cukup (pura-pura) baik. Misalnya, dengan menarik mundur semua tentara dan pemukiman liar Yahudi di Palestina, lalu meminta maaf karena selama ini telah menzalimi kaum Muslimin khususnya di Palestina. Pertahankanlah (pura-pura) baik selama beberapa tahun lalu berkata, “Apakah kami masih tampak paling keras memusuhi umat Islam?”

Maka, pastilah banyak orang Islam yang murtad karena sudah menganggap firman Allah SWT dalam QS Al-Maidah tersebut ‘salah’.

Bagaimana dengan kaum Muslimin?

Bila kaum Yahudi Dulu dan Kaum Yahudi Sekarang tetap konsisten membuktikan Al-Qur'an itu benar. Lain halnya dengan kaum Muslimin.

Kaum Muslimin Dulu, begitu mendengar Allah SWT berfirman:

“Pada hari ini telah Ku-SEMPURNA-kan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-CUKUP-kan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-RIDHA-i Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah [5]: 3)

Langsung: "Kami dengar dan kami taat (sami’na wa atha’na)." Sehingga begitu Rasulullah SAW wafat, mereka sibuk mencari siapa pengganti Rasulullah SAW sebagai kepala negara (khalifah) selama tiga hari hingga dibaiatlah shahabat Abu Bakar as-Shiddiq ra sebagai khalifah pertama. 

Jadi mereka berdebatnya hanya dalam persoalan siapa yang pas menjadi khalifah. Bukan sistem pemerintahan apa yang akan diterapkan (padahal waktu itu ada sistem kerajaan yang sedang berjaya diterapkan oleh Romawi dan Persia dan sebelumnya ada negara polis [negara kota-negara kota yang menerapkan sistem demokrasi di Yunani]). Karena mereka yakin seratus persen apa makna “SEMPURNA”, “CUKUP” dan “RIDHA” pada Al-Maidah ayat 3 di atas.

Islam agama yang “SEMPURNA” karena hanya Islam saja satu-satunya agama yang bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum minallah; akidah dan ibadah mahdah) dan hubungan manusia dengan dirinya (hablum binafsih; makanan+minuman, pakaian, akhlak) tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minannas; sistem politik; sistem ekonomi, sistem pergaulan pria-wanita; sistem pendidikan; sistem sanksi; politik luar negeri, dll yang hanya dapat tegak bila ada kepala negara yang menerapkannya [khalifah] dan sistem pemerintahan yang menerapkan itu semua disebut negara Islam/khilafah).

Kesempurnaan itu merupakan nikmat dari Allah SWT yang “CUKUP” tidak perlu ditambah atau pun dikurangi karena sudah cukup. Kaum Muslimin hanya tinggal menjalankannya saja sehingga Allah SWT “RIDHA”.

Bagaimana dengan Kaum Muslimin Sekarang?

Celakanya, selalu berupaya membuktikan bahwa QS Al-Maidah tersebut salah dengan selalu berupaya membuktikan Islam itu bukan agama yang “SEMPURNA” sehingga dalam pemerintahan mengadopsi sistem demokrasi. Seolah-olah nikmat Allah ini belum “CUKUP” sehingga mencari kenikmatan lain (kufur nikmat). Lantas bagaimana Allah SWT akan “RIDHA”?

Maka berlakulah firman Allah SWT:

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit...” (QS Thaahaa [20]: 124)

Subhanallah, meski Indonesia Allah SWT karunia kekayaan alam yang melimpah, kehidupan rakyatnya menjadi sempit karena ----Yang dalam Islam wajib dikelola negara, haram diserahkan kepada swasta apalagi asing, lalu hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat melalui pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan keamanan gratis--- oleh kaum Muslimin Sekarang, melalui sistem demokrasi diserahkan kepada swasta dan asing (dengan istilah privatisasi dan investasi) untuk sebesar-besarnya kesejahteraan para penjajah dan antek-anteknya. Sehingga negara tidak punya uang lagi untuk membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan keamanan (muncul istilah pencabutan subsidi dan penarikan pajak).

Akibatnya kita semua merasakan kesempitan dalam penghidupan!

Sadarlah, wahai para pengusung demokrasi, bila mengaku Muslim jangan mencoba membuktikan Al-Qur’an itu salah! Ingatlah, kita semua akan mati, bagaiman bila dibangkitkan di akhirat kelak dalam keadaan buta?

Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’” (QS Thaahaa [20]: 124-126)

Maka, marilah mendukung bahkan bergabung dengan para pejuang tegaknya syariah dalam naungan khilafah.... tak usah malu atau pun ragu, karena umur hanya Allah yang tahu.[]


Oleh: Joko Prasetyo
Angkatan Pertama Jurnalistik Fakultas Dakwah UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Posting Komentar

0 Komentar