TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Akhiri Derita Rohingya


Muslim Rohingya menjerit kembali, kelompok etnis beragama Islam di kawasan Rakhine, Myanmar terus dikejar oleh rasa ketidakamanan. Mereka ditindas, disiksa, hingga diasingkan dari negaranya sendiri.

Pelaku perdagangan manusia dibayar untuk mengangkut mereka dengan kapal laut dan memindahkannya ke kapal baru lalu ditinggalkan di tengah laut. Penyelundup itu sempat menyiksa pengungsi Rohingya, telinganya dipotong dan kepalanya dipukul sampai ada yang meninggal dunia.

Mereka bertahan hidup dengan mengandalkan sedikit beras dan kacang-kacangan. Mereka pun bergantung pada air hujan untuk minum. Terkadang mereka juga memeras pakaian basah dan meminum tetesan airnya. Beberapa penumpang pun terpaksa meminum air seni agar tetap hidup.

Sebanyak 99 pengungsi etnik Rohingya yang didominasi perempuan dan anak-anak itu akhirnya pun ditolong oleh nelayan setempat setelah mereka terombang-ambing di tengah laut lepas selama lima bulan. 

Pada Senin (21/06), terdapat satu kapal nelayan yang melintas dan memindahkan mereka semua ke kapalnya. Perlahan kapal itu pun mendekat ke pantai. Namun sekitar empat mil dari pesisir Pantai Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, mesin kapal itu rusak.

Beberapa hari terombang-ambing, melintas kapal nelayan lokal lainnya yang melihat para pengungsi Rohingnya tersebut. Kapal itu pun memberikan cadangan makanan dan minumannya kepada para pengungsi.

Setelah melakukan penyelamatan, nelayan itu meminta kepada Abdul (kapten kapal yang datang) untuk dilaporkan ke pemerintah desa. Lalu, pemerintah desa melaporkan ke panglima laot (sebutan bagi pimpinan adat laut di Aceh). Setelah berita ini tersebar dan koordinasi dengan banyak pihak, pemerintah desa bersama panglima laot, beberapa masyarakat dan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) menuju lokasi untuk melihat kebenarannya.

Di tengah pandemi virus Corona, hal ini tentu menjadi tantangan bagi pihak setempat, namun bagaimanapun mereka putuskan untuk tetap tarik ke darat. Panglima laot Seunuddon, Aceh Utara, M Hasan, mengungkapkan, alasan membawa mereka ke darat adalah “harus membantu sesama hamba Allah karena orang Aceh sifatnya harus membantu, karena orang Aceh tidak bisa melihat orang lain sengsara. Badan mereka kurus semua, khususnya anak-anak. Rasa iba dan kasih sayang kami muncul seketika,” katanya. (Republika.co.id, 28/6/2020)

Bagaikan Satu Tubuh
“Janganlah kamu sekalian saling mendengki, saling menipu, saling memarahi dan saling membenci. Muslim yang satu adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Oleh karena itu, ia tidak boleh menganiaya, membiarkan, dan menghinanya. Takwa itu ada di sini [Rasul menunjuk dadanya tiga kali]. Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim yang satu terhadap Muslim yang lain itu haram mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim).

Sejak 14 abad lalu, melalui hadits tersebut Rasulullah saw menegaskan bahwa kaum Muslim adalah bersaudara. Beliau mengimplementasikan hal itu dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Sekalipun tidak kenal satu sama lain, bahkan tanah airnya pun berbeda, mereka gembira dipersaudarakan atas dasar keimanan demi menggapai ridha Allah SWT.

Karena menganggap seseorang sebagai saudara, ia tidak akan rela membiarkannya nestapa. Ia tidak akan rela saudaranya diembargo pihak lain sehingga kekurangan sandang, pangan, dan kehilangan tempat tinggalnya. Kesadaran, perasaan, dan jiwanya akan senantiasa tersayat melihat saudaranya di negeri yang lain tengah getir menghadapi kesulitan hidup. Sebagaimana Muslim Rohingya yang terus ditindas dan diasingkan oleh negerinya sendiri.

Umat Butuh Khilafah
Semua realitas di atas menambah daftar panjang betapa besar penderitaan umat Islam sekarang. Sebab Rohingya tak sendirian. Nasib serupa juga dialami oleh Muslim Pattani Thailand, Moro Filipina, Uyghur, Palestina, Suriah, dan lain-lain. Semua penderitaan kaum Muslim ini semakin meneguhkan kesimpulan tentang betapa butuhnya umat terhadap Khilafah.

Hanya Khilafah yang akan bisa menolong warga muslim Rohingya dari ketertindasan selama ini. Negara Khilafahlah yang bisa menerapkan secara nyata konsep bahwa muslim yang satu dengan muslim yang lain bagaikan satu tubuh karena tidak ada lagi sekat-sekat kebangsaan.

Dengan demikian Khilafah akan melindungi darah seluruh kaum muslimin, melindungi mereka dari segala bentuk penindasan terutama dari kaum kafir.

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Makna, al-Imam Junnat[un] [Imam/Khalifah itu laksana perisai] dijelaskan Imam an-Nawawi:

“Maksudnya, ibarat tameng. Karena dia mencegah musuh menyerang [menyakiti] kaum Muslim. Mencegah masyarakat, satu dengan yang lain dari serangan. Melindungi keutuhan Islam, dia disegani masyarakat, dan mereka pun takut terhadap kekuatannya.”

Atas izin Allah, di bawah naungan Khilafah, perlindungan terhadap harkat dan martabat umat Islam di berbagai wilayah termasuk muslim Rohingya dapat diwujudkan secara nyata. Wallahu a’lam.[]

Oleh: Nur Syamsiyah
(Aktivis Muslimah Malang)

Posting Komentar

0 Komentar