TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Zona Hijau Tak Se-Asyik Sekolah Alam



Pemerintah telah menetapkan bahwa daerah yang berstatus zona hijau diizinkan melakukan pembelajaran secara tatap muka. Walaupun, semuanya diserahkan kepada masing-masing daerah, apakah akan menerapkan pembelajaran tatap muka atau tidak. Dikutip dari (tribunnews/28/6/2020)

Penetapan aturan yang bisa dikatakan sebagai  kebijakan bersyarat dari pemerintah mengenai siswa belajar dengan tatap muka di zona hijau ini sendiri menghadapi banyak polemik. Yang bahkan pemerintah sendiri pun belum meyakini atau terkesan ragu-ragu tentang kebijakan yang dibuat. Hal ini terlihat dari sekolah-sekolah di wilayah zona hijau tidak serta merta dibuka, tetapi akan dilakukan dengan persyaratan, dan tetap mengikuti protokol kesehatan sesuai kebijakan daerah.

Banyak orang tua yang masih ragu dan khawatir untuk melepaskan anaknya kesekolah dikarenakan tidak adanya jaminan kepastian zona hijau yang di terapkan pemerintah, juga menimbang kelayakan fasilitas kebersihan sekolah terutama yang berada di daerah. Pendapat pro dan kontra juga terjadi di kalangan orang tua, dimana sebagian orang tua berpendapat dan meyakini bahwa wabah covid-19 bukanlah sesuatu yang harus di tanggapi serius bahkan dianggap sudah berakhir namun di sisi lain banyak juga orang tua murid yang masih ragu dan menunggu sambil melihat situasi hingga adanya kepastian.

Seperti yang banyak diberitakan bahwa anak terjangkit covid 19 di Indonesia belum  mencerminkan angka yang sebenarnya dikarenakan proses pendataan yang sulit, dan memakan waktu. apalagi bahwa data yang diumumkan saat ini tidak ada klasifikasi menurut usia. Menurut IDAI tercatat sudah 14 anak yang positif covid-19 meninggal dunia berdasarkan data pasien dari laporan dokter yang merawat dan dinyatakan sebagai angka kematian anak tertinggi di Asia. Sehingga kemungkinan keadaan sekarang ini diibaratkan layaknya puncak gunung es yang siap runtuh setiap saat.   

Media penularan virus covid-19 pada anak-anak tidak hanya lewat saluran pernapasan, tapi juga fases dan saluran pencernaan. Maka terbayang dampak penularannya akibat anak yang belum terampil membersihkan diri ketika buang air. Bahkan upaya menjaga kesehatan dalam rangka menjalankan protokol kesehatan seperti rutin mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak pada usia remaja pun masih sangat minim kesadaran. Sehingga kemungkinan kondisi mudah tertular dan mudah menularkan akan meningkat tajam.

Dalam situasi pandemi seperti  sekarang bahkan sudah banyak para ahli yang mengingatkan dan beranggapan agar pemerintah berhati-hati dalam mengambil keputusan. Karena jika mengambil kebijakan prematur, tidak menutup kemungkinan dampak wabah yang lebih besar, maka bukanlah hal yang tepat untuk menyegerakan proses belajar mengajar di sekolah dan harus dipertimbangkan dengan seksama, apalagi melihat sejumlah kelonggaran dan ketidak perdulian banyak orang terhadap himbauan jaga jarak dan membatasi ke tempat keramaian akibat abai dengan seriusnya ancaman covid-19 terhadap anak-anak.

Sehingga dalam hal kebijakan terhadap kesehatan dan pendidikan anak, pembuat kebijakan seharusnya mempertimbangkan dengan seksama dampak kondisi pandemi saat ini terhadap anak pada khususnya, Mencari solusi yang menyangkut pendidikan dan kesehatan anak kepada para ahli di bidangnya jangan hanya berlomba-lomba menerapkan konsep New Normal yang seolah dipaksakan tanpa melihat dari kesiapan dan perlunya tindakan tersebut dilakukan dan tidak hanya konsentrasi mengurusi dan mementingkan pertimbangan ekonomi semata.

Melihat seringnya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini terkesan inkonsistensi, memaksakan, bahkan tidak memberikan solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi pada rakyat dan anak pada khususnya adalah akibat kegagalan dari penguasa dalam menjamin kenyamanan dan keselamatan jiwa rakyat. Karena pemimpin yang sebenarnya adalah mereka yang berkuasa  dan memiliki kemampuan ri'ayah (mengurusi) serta pelayanan atas segala kebutuhan rakyatnya dengan tepat. 

Pemimpin Yang mengupayakan segala kemampuan yang ia miliki untuk menyegerakan penanganan wabah dan menghentikan penularan sesuai tuntunan syariat. Saat ini betapa sering kita melihat betapa memilukannya nasib rakyat di tengah ketidak pastian dan pemerintah seolah melakukan pembiaran. Hal ini dikarenakan nasib rakyat sekarang berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan serta kelayakan dalam meri'ayah.

"Orang-orang bodoh yang lemah, yang membicarakan urusan umum. Dia bukan ahlinya untuk berbicara tentang urusan khalayak ramai, tetapi tetap saja dia menyatakannya."
(As-Syathibi, al I'tisam, II/681)

Maka upaya perlindungan terhadap anak seharusnya menjadi bagian dalam upaya peri'ayahan, karena jika sekolah secara tatap muka tetap dipaksakan bukannya merasakan kegembiraan dan kebahagiaan seperti sekolah di alam terbuka tapi malah perasaan mencekam yang akan dirasakan dan mendera utamanya para orang tua. Karena mustahil mewujudkan generasi sehat jika pemangku kebijakan abai dan bahkan tidak cakap dan tidak memiliki pemikiran cemerlang dalam melakukan perlindungan secara utuh terhadap anak-anak generasi mendatang.

Wallahu 'alam bi showwab.

Oleh : Ummu Azwa 
Muslimah Ideologis Khatulistiwa

Posting Komentar

0 Komentar