TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Wacana Peleburan Pendidikan Agama dan PKN, Solusikah?


Pada pekan ini beredar dokumen tentang penyederhanaan Kurikulum 2013 (K-13) yang dibahas dalam FGD struktur kurikulum SD, di mana pada dokumen tersebut tertuang rencana melebur mata pelajaran Pendidikan Agama dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Pancasila dan Kepercayaan (MediaIndonesia.com, 18/06/2020).

Masalah daring yang panjang belum menyeluruh dirasakan peserta didik hingga ke pelosok, kini muncul wacana baru peleburan mata pelajaran Pendidikan Agama dan PKN. Hal ini justru menuai kontra dari berbagai ormas dan praktisi pendidikan.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas adalah salah satu tokoh ormas yang tidak setuju dengan wacana tersebut. Dia menilai telah terjadi uoaya pendangkalan agama dan sekularisasi.

Hal senada ditegaskan Pimpinan Lembaga Pendidikan Maarif PBNU KH. Arifin Junaedi dengan menolak wacana peleburan mapel tersebut. Dia berpandangan bahwa mapel Pendidikan Agama yang berjalan saja masih kurang, kenapa justru mau dilebur (MediaIndonesia.com, 18/06/2020).

Peleburan Pendidikan Agama dengan Mapel yang dianggap semisal tentu saja mengurangi porsi konten dari nilai agama. Usia peserta didik sekolah dasar adalah usia yang sangat perlu ditanamkan pemahaman agama, karena agama adalah pondasi bagi pola pikir dan pola sikap seseorang.

Terlebih negeri ini mayoritas muslim, seharusnya peserta didik usia SD dibina dengan Pendidikan Agama Islam. Negera harus memberi porsi lebih untuk pelajaran Agama Islam, mengingat generasi milenial mengalami krisis multidimensi, terutama dekadensi moral dan aqidah yang bengkok. Jika negara abai dengan tumbuh kembang pemikiran generasi, apalagi jauh dari nafas agama Islam, niscaya negara akan memanen generasi yang bobrok lima tahun ke depan.

Kenyataannya, saat ini generasi milenial sudah jauh dari nafas Islam. Cara pandang mereka adalah kebebasan sesuai dengan tatanan kehidupan yang diamini negara. Kenakalan remaja, narkoba, kriminalitas, hingga HIV-Aids adalah buah dari ketidakseriusan negara dengan agama.

Sistem kapitalisme yang mencengkram ranah pendidikan turut andil dalam kemerosotan moral. Sekularisme alias pemisahan agama dengan kehidupan begitu kuat merasuki kurikulum pendidikan yang ada, bahkan di tingkat dasar. Jelas jika wacana peleburan Pendidikan Agama dengan PKN digoalkan, maka bencana besar bagi negara ini akan terjadi, yakni hilangnya generasi cerdas yang bertaqwa.

Sekolah dengan kurikulum yang ada memiliki metode pembelajaran sebatas mentransfer ilmu, tidak sampai pada tataran siswa paham apa yang dimaksud dari ilmu tersebut. Belum lagi tingginya biaya pendidikan yang menjerat rakyat, tentu hanya yang memiliki uang saja yang bisa merasakan pendidikan dengan fasilitas unggul. Sudah kurikulum yang berlaku tak menjamin ketaqwaan siswa, menjangkau biayanya juga harus berpeluh-peluh.

Berbanding terbalik dengan sistem Islam. Islam mengatur pedidikan sebagai pintu mencerdaskan generasi dengan aqidah Islam. Kurikulum pendidikan berbasis aqidah Islam saja, tidak boleh yang lain. 

Metode pembelajaran dalam sistem Islam dengan talqiyan fikriyan muatsaron. Yakni metode pembinaan sampai mempengaruhi akal dan jiwa siswa, sehingga siswa mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan dan mengamalkannya.

Aqidah Islam ditanamkan sejak usia dini dengan mengaitkan fakta yang ada dengan Sang Pencipta. Sehingga siswa tidak didoktrin, namun diberi pemahaman dengan penjabaran yang benar mengenai manusia, alam semesta dan kehidupan, serta hubungannya dengan sebelum dan sesudah kehidupan. Porsi tsaqofah Islam jauh lebih besar dibanding mata pelajaran umum.

Selain pemberian metode pembelajaran yang berpengaruh pada akal dan jiwa siswa, Islam juga mewajibkan kholifah menjamin pendidikan di seluruh penjuru negeri dengan biaya murah, bahkan gratis. Kholifah juga harus menjaga pemikiran rakyatnya, termasuk siswa agar tidak menyimpang dari aqidah Islam. Sehingga suasana keimanan tetap terjaga jika negara turun tangan dan melayani semua urusan rakyat dan generasi terbaik dan cerdas akan senantiasa ada di setiap masa.

Wallahu a'lam bish showab.[]

Oleh Afiyah Rasyad

Posting Komentar

0 Komentar