Utang Luar Negeri Bengkak, Ekonomi jadi Merangkak?


Pembengkakan Utang Luar Negeri Indonesia di catat oleh Bank Indonesia (BI) pada akhir April 2020 menjadi sebesar USD 400, 2 Miliar. Hal ini terjadi dipengaruhi arus modal masuk pada Surat Berharga Negara dan Penerbitan Global Bond pemerintah sebagai salah satu bagian pemenuhan pembiayaan, termasuk dalam penanganan wabah Corona. 

Defisit anggaran yang semakin tinggi tak bisa dihindari sebesar Rp. 356,1 triliun atau naik 42,8 % . Dengan kenaikan 122,6 % dibanding tahun lalu. Dengan tambahan utang pemerintah per april 2020 sebesar Rp. 5.172,48 triliun. (Vivanews)

Utang Luar Negeri Indonesia terbagi menjadi 2 sektor yaitu sektor swasta dan sektor publik. Direktur Eksekutif BI Onny Widjarnako memberikan keterangan bahwa struktur ULN Indonesia masih sehat. Asal didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. (https://asiatoday.id/read/utang-indonesia-membengkak-jadi-usd4002-miliar-pada-april-2020)

Lesunya ekonomi Indonesia salah satunya diakibatkan oleh pandemi Covid-19 yang terus meluas. Disisi lain juga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal 1 2020 hanya mencapai 2,9 %. Dari awal ekonomi Indonesia telah mengalami kelesuan yang di dominasi faktor domestik yaitu salah langkah dalam mengelola. Faktor internasional seperti Covid-19 adalah tambahan pemberat ekonomi. 

Jika pada Maret 2019 jumlah penduduk miskin 25,1 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk rentan miskin dan hampir miskin mencapai 66,7 juta jiwa atau 25% dari total penduduk Indonesia. 

Dengan angka kemiskinan yang terus naik dengan hutang yang membengkak masihkah Ekonomi Indonesia sehat? Padahal, fakta dilapangan menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia terpukul secara tragis. Bukan hanya karena adanya Covid-19 Ekonomi negeri menurun tapi dari struktur ekonomi yang memang sudah rentan diawal. 

Jika kita bagi dari jumlah utang luar negeri dan jumlah penduduk Indonesia 257 juta jiwa. Maka kita akan dapati perkepala mendapatkan hutang sekitar Rp. 20 juta. Sungguh angka yang fantastis untuk utang yang masih terkategori sehat. Padahal kita lihat bahwa ekonomi kita telah mengalami sakit yang kronis. Waraskah para pemimpin negeri?

Bergantungnya ekonomi Indonesia pada utang luar negeri jelas menjadikan negara ini tidak independen dalam mengambil kebijakan dan senatiasa tersetir oleh negara pemberi modal utang. Wajar bila kita dapati kebijakan yang diambil oleh penguasa tidak lagi melihat pada kesejahteraan rakyat tapi para pemilik modal. Inilah dampak dari sistem kapitalisme yang dianut oleh negara ini.

Sistem Islam dalam negara Khilafah akan membentuk ekonomi yang berdiri sendiri tanpa campur tangan asing, aseng dan asong. Khilafah tidak akan bergantung pada asing untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Dan akan mewujudkan ekonomi kuat dengan swasembada penuh terhadap kekayaan negeri. Khilafah akan mengelola kekayaan negeri untuk dikembalikan kelada rakyatnya hingga negara tidak akan berhutang pada negara lain. Apalagi negara kafir yang memusuhi kaum muslimin.

Dan ingatlah akan firman Allah Azza Wa Jalla bahwa,

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 141)

Maka, sudah seharusnya kamu muslimin hanya menjadikan Islam saja sebagai pengatur kehidupan mereka dalam bingkai khilafah.

Wallahu A'lam bisshawwab.[]

Oleh: Afra Salsabila Zahra 
Aktivis Remaja

Posting Komentar

0 Komentar