TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tokoh Umat Jawa Timur Serukan "Songsong Dekatnya Kebangkitan Peradaban Islam"


Liqo Syawal dengan tema "New Normal, diantara Ancaman Krisis Ekonomi dan Dekatnya Kebangkitan Peradaban Islam" telah digelar secara live streaming di Kaffah Channel pada hari Sabtu, 13 Juni 2020.

Agenda ini dihadiri para ulama-ulama dan tokoh se-Jawa Timur dengan turut mengundang dua tokoh ulama nasional yaitu Ustadz KH. Rokhmat S. Labib dan Ustadz KH. Muhammad Ismail Yusanto.

"Kebijakan pemerintah atau regulasi seharusnya ditujukan kepada UMKM bukan kepada pengusaha-pengusaha yg sifatnya kapitalistik yang bermodal luar biasa besar, ini sungguh anomali. Bahkan opini pembukaan mall dihadiri, ini menunjukkan arah kebijakan penguasa tidak berpihak kepada UMKM."

Demikian tanggapan Bapak Wahyu Eka Dianto, S.Pt. selaku pengusaha property Syariah terkait kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi yg kembali membuka kran-kran ekonomi. Bapak Wahyu berharap ditengah covid-19 ini kebijakan pemerintah membalik fokus kepada UMKM. Dan berharap kedepan untuk para pengusaha dapat bahu membahu membuat 'pasar komunitas' agar uang dapat mengalir diantar komunitas sendiri dan menghidupkan kembali warung-warung kelontong atau tetangga sehingga lebih fokus berkontribusi membeli.

Sehingga dapat disimpulkan, pesan dari pengusaha ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tidak tepat sasaran dan lebih menguntungkan pengusaha-pengusaha besar.

Di sisi lain, Adinda Khotibul Umam dari kalangan aktivis mahasiswa memandang bahwa secara umum, aturan-aturan yg diterapkan penguasa tdk konsisten dan arah penanganannya kurang jelas. Awal Januari 2020 yang seharusnya menjadi persiapan menghadapi covid-19 cenderung disia-siakan, serta tdk diterapkannya UU No.6 tahun 2018 menunjukkan kegagapan pemerintah dalam menangani covid-19.

Termasuk ketika mahasiswa harus mengikuti pembelajaran secara daring yang seharusnya juga dipersiapkan sebelum covid-19 mewabah di negeri ini. Sehingga proses pembelajaran tidak termaksimalkan dan mahasiswa tidak mendapatkan materi perkuliahan secara maksimal.

Dalam sistem kapitalisme ini, keadaan mahasiswa rata-rata individualis dan jiwa pergerakannya kurang, apalagi dengan adanya sikap refresif penguasa atas adanya kritik kepada penguasa atas aturan-aturan covid-19 telah menyurutkan jiwa perjuangan mereka.

Tokoh intelektual Lukman Noerrochim, Ph.D memaparkan ketidaktepatan kebijakan new normal yang diambil pemerintah berdasarkan data-data secara ilmiah, bahkan pendapat-pendapat para ahli diabaikan. Beliau sebagai bagian dari para intelektual menyatakan dan menyeru akan tetap konsisten dalam masalah kajian-kajian ilmiah untuk menyampaikan data-data kepada pemerintah terlepas akan diperhatikan atau akan diabaikan.

Selain perwakilan dari kalangan pengusaha, mahasiswa dan intelektual, hadir pula dari kalangan jurnalis, Ustadz Rif'an Wahyudi. Salah satu yang beliau paparkan mengenai kebijakan new normal berdasarkan perspektif media, beliau menghimbau untuk para jurnalis agar dalam mewartakan sesuatu harus berbasis fakta sehingga ketika ada teori konspirasi harus terbukti. Sedangkan mengenai analisis berita, sudah termasuk akademisi untuk menganalisis sesuatu gambaran ke depan.

Sedangkan pandangan dari Ustadz Ismail Yusanto, beliau memakhlumi keinginan untuk segera ke keadaan new normal adalah sesuatu yang dapat dimengerti melihat dampak situasi pandemi di seluruh dunia. Namun, yang perlu diperhatikan apakah sudah saatnya new normal itu diterapkan?

Kemudian beliau memberikan penjelasan poin-poin yang menjadikan Indonesia belum memenuhi kriteria dari WHO untuk menerapkam new normal. Sehingga memunculkan pertanyaan, kenapa dipaksakan? dan apa resikonya? Diungkap oleh majalah tempo pada edisi paling akhir, bahwa para pengusaha melobi presiden dan menko, apabila hingga juni belum dibuka maka akan terjadi koleps.

Ini memunculkan situasi seperti simalakama, dihadapkan pada pilihan antara kesehatan ekonomi dengan kesehatan manusia. Dan terjadi ini karena kesalahan dari awal, dimana telah terbuang sekitar 1-2 bulan golden time. Ketika pandemi muncul di China, disikapi dengan mengabaikan wabah, menganggapnya enteng dan menegasikan dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas bagi seorang penguasa.

"Situasi ini memang berat, jikalau kita terus memperlonggar, maka tidak bisa tidak akan terjadi ledakan yang luar biasa dan ini sudah terjadi."

Ini adalah poin penting pertama menurut Ustadz Ismail Yusanto atas kebijakan new normal dimana terbukti setelah pelonggaran angka penambahan harian positif Covid-19 melonjak tembus 1200 orang. Sehingga beliau mempertanyakan apakah maunya begitu? Apabila membiarkan rakyat tertular begitu rupa, seberapa mampu rakyat menahan itu dna seberapa kuat alat kesehatan menampung mereka yang sakit?

"Tetapi jika tidak dilepas tidka dilonggarkan, ekonomi tidak bergerak, tumbang, pengangguran meningkat."

Mengenai poin penting kedua ini, menurut beliau tidak bisa tidak harus memulai dari nol lagi, yaitu dengan membendung dengan bendungan yang lebih keras dan tegas. Namun yang terlihat solusi ini tidak dilakukan oleh pemerintah, justru banyak orang menilai situasi sedang bergerak menuju herd immunity, yang artinya membiarkan masyarakat bertarung sendiri dengan virus corona dengan pertarungan yang tidak imbang. Dengan selingan canda beliau, tidak imbang di sini karena virus corona bisa melihat kita sedangkan kita tidak bisa melihat virus corona.

Host mempertegas atas kekurang seriusan pemerintah dalam menangani pandemi ini karena lebih mementingkan penyelamatan ekonomi dibandingkan penyelamatan rakyatnya. Ini semua tidak lain karena paradigma kapitalistik yang digunakan saat ini dengan menggunakan materi sebagai tolak ukurnya. Lalu bagaimana Islam mengatur penanganan pandemi? Seandainya dihadapkan pada kondisi buah simalakama seperti yang dipaparkan Ustadz Ismail Yusanto, mana yang harus diselamatkan terlebih dahulu, keselamatan ekonomi ataukah leselamatan rakyat?

Menjawab atas pertanyaan diatas, Ustadz Rokhmat S. Labib merinci beberpa titik pandang untuk menyikapi musibah pandemi ini. Pertama, realitas ini menunjukkan lemahnya manusia terhadap virus yang sangat kecil. Upaya yang keras untuk terhindar dari makhluk kecil ini, seharusnya mengantarkan pada upaya dengan berbagai macam cara agar terhindar dari neraka. Berbeda dengan kapitalisme yang hanya melihat aspek yang nyata berupa materi, sedang Islam selain melihat aspek yang nyata juga melihat aspek yang ghoib.

Kedua, cara paling efektif untuk menghambat terjadinya pertumbuhan dengan menghindarkan segala macam tindakan yang dapat menularkan penyakit kepada orang lain, agar memutus rantai penularan. Islam mengajarkan untuk tidak mencampur orang yang sakit dengan yang sehat. Cara ini efektif agar ekonomi tidak mandeg secara total, karena orang yang sakit dipisahkan dan orang yang sehat tetap produktif.

Ketika wabah telah menyebar secara luas, sesuai hadist nabi Saw agar segera dilakukan lockdown. Namun karena upaya ini tidaklah pernah dilakukan, maka tidak tepat untuk menanyakan bagaimana Islam menyelesaikan masalah ini, yang seharusnya dari sejak awal Islam diterapkan untuk mensetting kehidupan.

Begitu pula tentang ekonomi, kapitalisme menjadikan SDA diserabkan kepada perusahaan swasta dan juga asing. Di dalam Islam SDA milik umum dan dikelola oleh negara.

"Pandemi ini menunjukkan kepada kita, betapa lemahnya negara yang dikelola dengn siatem kapitalisme. Dan ini akan tetap bermasalah selama tidak dikelola dengan Islam," begitu statement akhir dari Ust Rokhmat S. Labib.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan KH Thoha Cholili, mewakili dari kalangan ulama dalam menanggapi kebijakan new normal. Beliau mengingatkan bahwa semua musibah telah ditetapkan oleh Allah dan menghimbau agar segera mengefektivitaskan syariat Islam.

Di sesi kedua, membahas tentang kebangkitan Islam. Penjelasan diawali oleh ustadz Ismail Yusanto menjelaskan bahwa seorang muslim dikatakan bangkit jika ke dalam dirinya kembali seluruh pemikiran dan pemahaman Islam dan dengan itu menjadi seorang muslim yang sebenarnya.

Kebangkitan umat Islam dapat terjadi jikalau kembali kepada kehidupan Islam, sehingga penting bagi kita berjuang bersama-sama untuk melanjutkan kehidupan Islam. Dan usaha ini mendapatkan perlawanan dari musuh-musuh Islam baik dari barat mau pun dari kalangan umat muslim sendiri. Umat Islam harus bangkit, karena hanya umat Islam yang dapat membawa dunia pada peradaban yang lebih baik. 

Di sesi kedua, Ustadz Rokhmat L. Labib menegaskan bahwa ketika sistem kapitalisme ini dilanjutkan, maka tidak akan bisa memberikan apa-apa. Karenanya dibutuhkan sistem yang baru yang dapat mensejahterakan rakyat, dimana Islam mampu mewujudkannya. Untuk itu dibutuhkan perubahan tahrir yang dapat merubah sistem yang dilahirkan dari akal manusia ke sistem ang diturunkan Allah Swt.

Lalu siapa yang mengarahkan perubahan ini? Tentunya mereka yang tahu jalan, memiliki keahlian, punya kemampuan dan punya pengetahuan tentang Islam. Yang artinya yang dapat menjadi motor penggerak adalah para ulama-ulama sebagaimana hadist nabi Saw yang menyatakan bahwa mereka para ulama adalah pewaris para nabi, yaitu mewarisi ilmu dari para nabi bukan mewarisi ilmu dari yunani.

Penjelasan Ustadz Rokhmat S. Labib ditutup dengan candaan ringan namun tajam, yaitu ketika ada ulama yang mengajak kepada demokrasi misalnya berarti bukan mewarisi ilmu dari nabi namun mewarisi ilmu dari yunani.

Kembali ditegaskan oleh beliau, ketika ingin suatu perubahan harus ada perubahan mindset terlebih dahulu, mereka harus merubah pemahamannya terlebih dahulu, inilah jalan perubahan. Dan ketika bicara peluang perubahan maka harus kembali pada diri umat Islam, maukah merubah mafahim dalam diri mereka.

Agenda liqo syawal ditutup doa yangdipimpin oleh Kyai Abdul Karim Wulyo, pengasuh PP Al Ihsan Nganjuk. Dan diakhiri dengan pemutaran dua nasyid sebagai penyemangat. (ds/amu)

Reporter: Dewi Srimurtiningsih

Posting Komentar

0 Komentar