Testing the Water RUU HIP dan Khilafah-’isme’


Kelahiran kembali paham komunisme di Indonesia akhir – akhir ini menguat dan menjadi perbincangan hangat masyarakat di Indonesia. Bukan isapan jempol semata bahwa Ideologi terlarang tersebut mendapat angin segar kebangkitannya dengan adanya RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) di DPR baru – baru ini.

Walaupun pembahasan RUU HIP ini akhirnya di tunda setelah mendapat kecaman keras dari segenap elemen masyarakat. Rakyat Indonesia tentu merasa dikhianati karena RUU HIP ini diduga menumbuh suburkan paham Komunisme dengan tidak disertakannya TAP MPRS nomor XXV/MPRS/1966 tentang larangan ajaran komunisme/marxisme leninisme pada rancangan undang – undang tersebut. Sikap ini diduga kuat karena ingin “mendamaikan” paham terlarang tersebut dengan masyarakat Indonesia.

Seperti komentar Imam besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) yang mengaitkan dugaan itu dengan materi keadilan sosial. Pasal 6 ayat 1 RUU HIP membahas keadilan sosial sebagai sendi pokok Pancasila. Menurut HRS, keadilan sosial itu mirip persis dengan manifesto PKI yang pernah dibawakan DN Aidit pada tahun 1963. Saat itu, DN Aidit menyatakan, bahwa urat tunjang -yakni sendi pokok- Pancasila adalah Keadilan Sosial dam bukan Ketuhanan yang Maha Esa. [1] Ini tentu bertentangan dengan perumusan Pancasila yang menempatkan Ketuhanan yang Maha Esa sebagai sila pertama dan merupakan landasan bagi sila – sila yang lainnya.

Belum hilang diingatan kita bagaimana Partai Komunis Indonesia (PKI) membuat catatan kelam pada sejarah bangsa ini dengan melakukan pembantaian pada tokoh – tokoh ulama dan kyai di Indonesia. Pesantren – pesantren di rusak dan santri – santrinya di bunuhi. Dan tidak sampai disitu, kekejaman PKI dengan didasarai paham sosial komunisnya, terus berlanjut dengan ingin mengambil alih kekuasaan di negara ini dengan membunuh perwira serta pejabat militer Indonesia. 

Sudah jelas bahwa kita tidak mau paham terlarang ini bangkit dan mengancam jiwa serta kehidupan kita. Sehingga kita wajib menolak RUU HIP ini disahkan menjadi UU dan melegalisasi segala bentuk kekerasan sekehendak hati penguasa karena menafsirkan Pancasila sesuai dengan tafsiran mereka sendiri.

Bahkan organisasi Islam besar di Indonesia yaitu, NU (Nahdhatul Ulama) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) kompak meminta RUU HIP ini ditelaah kembali isi dan kandungannya. [2]

Hal ini diperkuat dengan perkataan peneliti Politik LIPI, Prof. Siti Zuhro bahwa, “RUU HIP hanya melihat dan merujuk Pancasila 1 Juni 1945. Hal tersebut mendistorsi Pancasila dan mengkhianati kesepakan para pendiri bangsa yang disepakati dalam berbagai dokumen autentik kenegaraan yang tercatat hingga sekarang,” [3]

Dan beliau mencurigai bahwa ini hanyalah permainan politik yang dilakukan oleh pemerintah atau testing the water, yaitu melakukan eksperimen reaksi masyarakat dengan melemparkan isu sensitif tersebut dan melihat responnya. Jika, respon yang didapatkan cenderung kontraproduktif, maka masalah ini akan ditarik agar kepercayaan masyarakat kepada pemerintah tidak menurun.

Hal ini terbukti dengan permainan lidah yang dilakukan pemerintah selanjutnya, yang melempar opini dan menyamakan paham terlarang komunisme dengan khilafah yang jelas berbeda dan tidak mungkin sama. Mereka mengatakan bahwa mereka menolak paham – paham terlarang seperti, komunisme, marxisme, leninisme dan Khilafah-isme. Yang mana ini merupakan kesalahan fatal dan menyakiti umat Islam karena ajaran Islam yang mulia disandingkan dengan paham terlarang tersebut. Bahkan, menambahkan ‘isme’ dibelakang kata Khilafah pun merupakan kesalahan yang tidak dapat ditolerir. Karena isme merupakan bentuk pemahaman atas suatu ajaran, atau kepercayaan yang dibuat oleh manusia. 

Sedangkan Khilafah ialah bentuk Daulah Islamiyah yang berlandaskan petunjuk dari Tuhan seru semesta alam. Allah SWT. melalui ajaran yang dibawa baginda Nabi Muhammad SAW. Menyamakan antara yang haq dan yang bathil tentu tidak dapat diterima selamanya. Karena Islam bukanlah kebathilan selayaknya paham Komunisme yang mengingkari keberadaan Tuhan.

Dan lagi – lagi, salah besar jika Radikalisme yang selalu dituding ke depan hidung umat Islam dikatakan sebagai masalah utama di Indonesia. Menurut Siti Zuhro, justru ketimpangan dan kemiskinanlah yang menjadi persoalan utama negeri ini.

Dan penyebab utama itu semua adalah paham sekulerisme yang terus menggerogoti negeri ini. Paham yang memisahkan agama dari kehidupan ini pula yang turut melahirkan undang – undang pembangkangan terhadap keberadaan Pencipta, termasuk pula RUU HIP ini yang ingin menggeser posisi sila ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ dengan sila ‘Keadilan Sosial’.Ini adalah hal yang membahayakan, mengingat faktor aturan agama akan didistorsi dan dianggap rendah dibandingkan  aturan yang dibuat oleh manusia. 

Sebagai makhluk lemah ciptaan Allah SWT. otak kita yang terbatas tidak mampu menciptakan aturan paripurna dalam mengatur kehidupan manusia seluruhnya. Buktinya, peraturan – peraturan yang dibuat oleh manusia selalu mengalami revisi – revisi dan perubahan. Dan hal itu disebabkan masalah – masalah yang bermunculkan ketika aturan itu diterapkan. Sehingga, habislah waktu kita hanya untuk membuat dan merevisi aturan – aturan tersebut saja. Sementara kita tahu, bahwa peraturan -  peraturan tersebut tidak akan pernah sempurna dalam menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang menjadi hajat bagi seluruh umat manusia di dunia ini.

Di sisi lain, islam memiliki aturan yang sempurna yang apabila diterapkan, maka rahmat dan kasih sayang Allah Tuhan yang Maha Menciptakan akan tersebar kesegenap penjuru bumi. Dan aturan ini bebas cacat karena berasal dari sang pemilik jiwa manusia, Dzat yang Maha Mengetahui sisi keterbatasan dan kelemahan manusia. Sehingga, aturan yang diciptakan sudah tentu diperuntukkan bagi kebahagiaan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, hanya Islam lah yang mampu menciptakan suasana kondusif bagi manusia untuk melaksanakan tujuan hidupnya di dunia ini. Yaitu, beribadah kepada Allah SWT. Wallahu A’lam.[]

Oleh : A. M. Sina 
Penulis Forum Ruang Sastra


Sumber :
[1]https://web.facebook.com/MuslimahNewsID/photos/-ruu-hip-buruk-rupa-cermin-dibelah-oleh-ustazah-pratma-julia-sunjandarijune-20-2/1569751539869322/?_rdc=1&_rdr
[2]https://makassar.tribunnews.com/2020/06/14/geger-gotong-royong-di-ruu-hip-disoal-nu-mui-akhirnya-mahfud-md-menko-jokowi-angkat-bicara?page=all
[3]https://republika.co.id/berita/qbwwap377/siti-zuhro-ungkap-alasan-mengapa-ruu-hip-patut-ditolak

Posting Komentar

0 Komentar