TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tak Sebatas Maal Tangguh, Tapi Butuh Sistem Tangguh Hadapi Wabah


PSBB Surabaya telah dibuka, meski jumlah kasus positif Corona meningkat. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan pihaknya akan meluncurkan program 'Mal Tangguh Wani Jogo Suroboyo' setelah pencabutan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Surabaya di masa transisi menuju New Normal ( CNNI ndonesia, 12/6/2020).

Sejak digulirkannya kebijakan new normal, yang masih melekat diingatan kita adalah dimulainya pembukaan maal. Tak heran jika beberapa kalangan berpendapat bahwa kebijakan new normal tidak lebih sebagai bentuk penyelamatan bisnis para pemodal besar.  Dalam hal ini salah satunya adalah pemilik maal. 

Berangkat dari kondisi tersebut, tentu tidak heran jika langkah transisi menuju kondisi new normal terkesan dipaksakan. Terlebih melihat kurva angka terpapar covid-19 di Jawa Timur khususnya di Surabaya belum menunjukkan angka penurunan yang signifikan. 

Karenanya kebijakan maal tangguh yang dirilis Wali Kota Surabaya dengan pelaksanaan protokol yang ketat di maal dirasa bukan langkah solutif untuk menekan laju covid. 

Jika sebelum dibukanya PSBB saja, angka covid meningkat. Apalagi setelah dibukanya tempat publik termasuk maal. Karena dengan membuka maal tentu menambah tempat baru bagi berkumpulnya orang, meski dengan pengaturan, tapi tetap berpeluang menjadi sarana penyebaran Covid-19.

Menetapkan kebijakan ketat dengan membuka maal. Ibarat membuka pintu virus, tapi  berharap busa menekan virus lewat pengaturan, tentu bukan hal efektif. Karenanya memang bukan solusi tuntas. 

*Buah Sistem Kapitalis*

Alasan ekonomi yang selama ini didengungkan sebagai alasan harus segera dimulai new normal, mengindikasikan kelemahan sistem kapitalis dalam menangani pandemi. Negara tidak hadir secara total. Rakyat dipaksa diam di rumah. Tapi kebutuhan asasi pribadi atau sosial  dibiarkan mencari sendiri.

Dalam sistem kapitalis harta kepemiilikan umum bisa dimiliki secara bebas oleh individu (kapital, pemilik modal). Sehingga harta Malah berputar dalam kantong konglomerat.

Di saat pandemi karena bisnis konglomerat terhenti. Maka rakyat lagi yang harus menjadi penutup untuk berputarnya bisnis mereka. Lewat new normal akhirnya secara perlahan bisnis mereka bangkit lagi. 

Walau, sebagian ada yang berpendapat hal itu juga berpengaruh bagi roda ekonomi rakyat bawah. Khususnya para pekerja maal. Tentu belum seimbang  dibandingkan resiko peluang terkena covid di masa pandemi. Apalagi jika dibandingkan hak-hak mereka yang seharusnya di dapatkan dari harta kepemilikan umum. Tentu upah di maal hanya recehan saja.

*Sistem Islam Solusi Tangguh*

Sistem Islam yang tangguh terbukti berdiri selama 14 Abad. Memberlakukan aturan yang manusiawi. Kenapa manusiawi, karena aturan lahir dari pandangan hidup yang sesuai fitrah  dan akal manusia. 

Sistem Islam menetapkan fungsi negara sebagai periayah (penanggung jawab) atas urusan rakyat. Bukan sekedar regulator seperti kapitalisme.

Peran tanggung jawab ini terealisasi dalam pengaturan sistem ekonomi dengan dustribusi kepemilikan yang adil dan detail. Mana yang termasuk kepemiilikan pribadi, negara dan umum. 

Dari harta kepemilikan umum (air, api, dan rumput) dengan segala potensi di dalamnya, negara pergunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Sebagaimana hadits Rasulullah:

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ
Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Berdasarkan hadist di atas jelas bahwa harta kepemilikan umum yang melimpah berupa air, api dan rumput termasuk di dalamnya adalah kekayaan alam di laut, dan di darat yang jumlahnya melimpah haram dimiliki individu. Karena hak umum yang akan dipergunakan hasilnya untuk hajad rakyat umum. Sehingga kebutuhan asasi misalnya kesehatan, pendidikan bisa diambil dari kepemilikan umum ini. 

Di samping sistem yang tangguh dengan kesempurnaan aturannya. Islam juga didukung oleh sosok kepemimpinan yang amanah. Kepemimpinan yang berdiri atas tanggung jawab mengurusi rakyat dengan aturan Islam semata. Pemimpin yang amanah meniscayakan lahirnya pemimpin yang takut jika melihat rakyatnya sulit dan kelaparan.

Umar pun berfikir keras dan berdiskusi dengan ahlinya yaitu Sa'ad bin Abi Waqos ketika wabah melanda wilayah Syam. Sampai ditemukan solusi rakyat untuk menyebar dan tidak berkumpul untuk mengurangi penularan wabah. Atas kerja keras dan amanah inilah wabah bisa teratasi dalam waktu yang tidak lama. 

Gambaran sistem sistem dan kepemimpinan Islam dalam naungan khilafah  harus terus disadarkan dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat agar, ketimpangan demi ketimpangan, keruwetan demi keruwetan yang terjadi di tengah kehidupan umat bisa segera tertuntaskan. Dengannya Rahmad bagi seluruh alam terwujut. Allahu a'lam bi shawab

Oleh: Yuyun Rumiwati
Aktivis Forum Diskusi Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar