TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tahun Ajaran Baru, Orangtua Ikut Pilu


Tahun ajaran baru akan segera tiba, dimana biasa anak-anak dan para ibu riang gembira menyambutnya. Sibuk dengan semua aktivitasnya dari yang daftar hingga yang lulus bahkan perlengkapan sekolah yang serba mahal pun akan tetap dibeli demi si buah hati bisa pergi kesekolah. Namun berbeda halnya dengan tahun ini, sejak Indonesia juga menjadi salah satu wilayah yang terdampak covid-19. Semua aktivitas harus dihentikan demi menyelamatkan nyawa manusia, seperti diketahui hingga sekarang belum juga ditemukan vaksin untuk wabah penyakit ini.

Sejak lockdown gagal diterapkan kemudian dilanjutkan PSBB tidak juga kita melihat pengurangan aktivitas kecuali hanya pada anak sekolah, kantor tetap jalan meski tidak rutin. Tidak juga kurva covid melandai, bagaimana mungkin akan diterapkan new normal dimana semua aktivitas akan dikembalikan seperti sedia kala. Hati orangtua mana yang tidak merasa was-was melihat fenomena ini terjadi, mungkin memang berat mengajari anak dirumah tapi lebih berat lagi melepasnya ke sekolahan yang tidak mungkin bisa terjaga kesehatannya. Tidak ada jaminan bisa melakukan protocol kesehatan pada anak-anak, secara mereka juga tidak paham mengapa dunia bermain mereka yang leluasa dihentikan.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020. Langkah pembukaan sekolah dikhawatir mengancam kesehatan anak karena penyebaran virus corona (Covid-19) belum menurun. Bahkan kasus Covid-19 pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain.
Retno mengungkapkan, dari data Kementerian Kesehatan terdapat sekira 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Usia anak yang tertular itu berkisar 0-14 tahun. (Okezone.com)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020. Meski Indonesia sedang menghadapi pandemi, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari. Salah satu alasannya, dimulainya Tahun Ajaran Baru berbeda dengan tanggal dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk tatap muka. (Kumparan.com)

Hampir 1000 anak terinfeksi covid, baik karena tertular ortunya atau lingkungannya. Maka rencana Tahun ajaran baru dengan sekolah new normal akan menghadapi kerawanan masalah tersendiri. Kita bisa melihat bagaimana aktivitas diluar negeri, ketika mereka menerapkan new normal pada kondisi yang terinfeksi tidak lagi ratusan namun tetap saja mereka yang melakukan protocol kesehatan terbaik juga kecolongan. Dimana kemudian beberapa guru dan siswa tertular covid-19, bagaimana lagi jika itu diterapkan di Indonesia yang tidak punya standar kesehatan yang memadai? Harusnya pemerintah serius untuk menyelamatkan nyawa manusia dulu baru kemudian berfikir untuk memperbaiki ekonomi sekaligus bisa melakukan aktivitas seperti biasa kalau sudah normal. 

Bila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah. Kekhawatiran inilah yang muncul dibenak para orangtua, karna tidak ada yang dapat mengontrol aktivitas anak-anak sekian banyak. Jika dirumah mereka masih mampu diawasi oleh ortu, meski kadang orangtua harus memikirkan banyak cara untuk mengajak anaknya belajar.

Memang mustahil dan sangat membingungkan kita berada ditengah pandemi, negara tak bisa bersikap sebaiknya pelindung. Malah kita diabaikan terlalu lama dan berjuang sendiri, itulah cara berfikir kapitalis yang tak pernah mau rugi, yang mereka fikirkan hanya keuntungan meski rakyat kecil jadi korban. Mereka lebih senang melihat kita hancur daripada ekonomi yang hancur. Maka jangan paksa anak kembali kesekolah dan berilah pemahaman kepada anak-anak kita bahwa sekolah dirumah sama saja dari pada mereka disibukkan dengan kurikulum yang membingungkan. Mungkin lelah kelas online tanpa tatap muka langsung, namun itu lebih baik daripada sekolah benar-benar dibuka dan anak-anak kita terancam tertular covid-19.

Sudah saatnya umat sadar bahwa kapitalis benar-benar mengiris kita secara perlahan, tidak pernah memberikan sebuah solusi terbaik untuk kita dalam kondisi apapun. Kehancuran ekonomi kapitalis sudah dimuali sebelum pandemic, maka biarkan saja seperti itu agar mereka tak pernah mampu bangkit lagi. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan semua masalah ini tanpa harus menyakiti umat. Namun solusi ini yang tidak diambil kapitalis karena menyakini itulah kehancuran bagi mereka dan ancaman keruntuhannya.

Islam akan benar-benar mengguling peradaban kapitalis hingga tak akan mampu bangkit lagi. Sudah saatnya kapitalis ditinggalkan dan kembali menghidupkan syariah dimuka bumi ini. Dan khilafah sebagai sistem yang pernah diterapkan di muka bumi ini benar-benar akan melindungi harta, jiwa kaum muslimin yang selama ini tertindas. Bahkan nonmus pun akan hidup damai sejahtera seperti dahulu. Sekarang saatnya bangkit dari keterpurukan dan meninggalkan kapitalis agar membususk selamanya tak mampu bangkit, mari meraih kejayaan Islam kembali.

Wallahu A’lam.[]

Oleh : Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom

Posting Komentar

0 Komentar