Syariah Islam Solusi Pandemi


Penyebaran virus corona secara global, baik dari segi jumlah kasus dan korban jiwa masih terus bertambah dari hari ke hari.

Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 9.341.861 (9,3 juta) kasus hingga Rabu (24/6/2020) pagi.
Bagaimana dengan Indonesia? kurva kasus positif virus Covid-19 di Indonesia naik menjadi 49.009 orang per 24 Juni 2020. Jumlah ini berdasarkan data yang masuk ke pemerintah pusat hingga Rabu siang, baik tes real time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) maupun Tes Cepat Molekuler (TCM).

Fakta yang tidak bisa ditutupi, pandemi terus meluas dan menyebar pada 216 negara di dunia, bahkan tren penyebarannya kian massif. Indonesia sebagai negeri terbesar muslim ini juga terdampak sama, bukan hanya krisis kesehatan yang ditimbulkan, efek domino akibat pandemi juga berdampak pada sektor ekonomi, pengangguran PHK massal, hingga ancaman resesi. 

Sektor politik tidak kalah mendapatkan goncangan yang dahsyat, pasalnya masyarakat menilai banyak kebijakan pemerintah yang sekedar  test the water, sehingga terkesan serampangan dan coba-coba. Kebijakan diambil hanya melalui kaca mata kapitalistik, dengan pertimbangan ekonomi semata. Salah satunya dengan skenario new normal yang terkesan dipaksakan, rakyat diminta berdampingan dengan virus. Negara tidak lagi peduli dampak kesehatan dan keselamatan nyawa rakyat, bahkan lepas tangan dalam menjamin kesehatan dan keamanan yang merupakan hak setiap warga negara.

Sistem Kapitalisme-Liberalisme yang menjadi punggawa dunia saat ini, nyatanya gagal menghadapi pandemi. Sistem ini adalah sistem cacat, yang menjadikan nilai materi sebagai nilai tertinggi. Lahir dari pandangan hidup sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dan mengagungkan kebabasan. Sistem ini pula yang diterapakan di negeri ini, menjalankan roda pemerintahan berangkat dari paradigma keliru yang menganggap bantuan atau pelayanan kepada rakyat adalah beban negara. Berbeda jauh dengan sistem Islam, perlindungan dan pelayanan bagi rakyat adalah kewajiban yang harus ditunaikan, amanah kepemimpinan yang harus dipertanggung jawabkan.

Sistem ekonomi Kapitalis dibangun atas dasar kebebasan, baik kebebasan kepemilikan harta, kebebasan pengelolaan harta maupun kebebasan komsumsi. Pendapatan terbesar negara diambil dari pajak, wajar kemudian rakyat dijadikan sapi perah untuk menghidupi roda pemerintahan. Lihatlah penetapan pajak disegala lini semakin mencekik, BPJS naik, tagihan listrik membengkak, kebutuhan sehari-hari yang mengharuskan rakyat merogoh kocek dalam-dalam menjadikan keadaan rakyat menengah kebawah semakin terpuruk.

Melihat kenyataan ini, hal yang sangat wajar jika masyarakat menginginkan alternatif pengganti pada sistem usang yang terbukti menyengsarakan rakyat. 
Tuntutan untuk keluar dari jerat kapitalisme adalah suatu hal yang normal, karena fitrahnya manusia cenderung pada kebenaran dan kebaikan, sebaliknya berusah melepaskan diri daei berbagai bentuk penindasan dan kezaliman.

Sistem Islam Alternatif Pengganti

Menghadirkan Islam sebagai sistem alternatif pengganti bukanlah hal yang berlebihan. Karena Islam bukan sekedar agama ritual, tapi juga sebagai Ideologi yang terpancar darinya berbagai macam aturan kehidupan. Bahkan Islam satu-satunya ideologi yang shahih karena aturannya bersumber dari wahyu ilahi, sesuai dengan fitrah manusia, rasional dan menentramkan jiwa.

Meski berbagai stigmatisasi dan monsterisasi yang dilakukan untuk menghalangi tegaknya sistem Islam, maupun berbagai propaganda busuk yang dihembuskan para pendengki untuk menghalangi laju kebangkitan Islam, tetap saja tidak mampu merubah, bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Mereka juga tidak akan mampu menghapus goresan tinta emas kegemilangan sistem Islam yang pernah menaungi 2/3 belahan dunia.

Sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah, berbeda sama sekali dengan sistem pemerintahan lain yang ada di dunia. Ia bukan demokrasi, bukan monarki, bukan otokrasi, bukan pula oligarki. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia, yang akan menerapkan seluruh ajaran Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dari definisinya, sistem pemerintahan Islam khilafah, memiliki tiga esensi yaitu: ukhuwah, syariah, dan dakwah.

Pertama, ukhuwah. Karena khilafah akan menyatukan seluruh kaum muslim dunia yang saat ini disekat dalam ikatan nasionalisme. Umat islam memiliki aqidah yang satu, digali dari Al Qur'an dan Hadits yang sama. Bahkan umat Islam digambarkan oleh Rasulullah saw seperti satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit, bagian tubuh yang lain ikut merasakannya. Ukhuwah seperti ini hanya akan menjadi nyata jika sistem Islam yang menaungi.

Kedua, melaksanakan syariah. Keradaan Khilafah bertujuan untuk menerapkan syariah Islam. Seperti yang kita ketahui, sasaran taklif hukum Islam tidak hanya berlaku untuk individu, tetapi juga masyarakat dan negara. Syariah Islam adalah rahmatan lil 'alamin, memberikan rincian hukum baik dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial,dan peradilan terintegrasi dan berlaku untuk seluruh manusia tidak terkecuali bagi non muslim. Aturan yang bersumber dari pencipta manusia, yang pasti adalah aturan terbaik.

Allah SWT berfirman:
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"
(QS. Al-Ma'idah : 50)

Islam juga memerintahkan kita masuk ke dalam Islam secara kaffah (totalitas), menyambut seruan Allah dengan sami'na wa atho'na, mendengar dan mentaati. Tidak lagi melihat disukai atau tidak, dibenarkan atau tidak oleh hawa nafsu manusia.

Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah : 208)

Tanpa adanya sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah, mustahil Islam kaffah bisa mewujud secara nyata.

Ketiga, dakwah. Sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah, akan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia. Sewaktu Rasulullah saw berdakwah di Makkah, hanya sedikit penduduk masuk Islam. Namun setelah baginda hijrah ke Madinah, membangun daulah Islam disana, maka praktis pada saat itu Islam diemban oleh institusi negara, penyebarannya begitu cepat meluas di seluruh Jazirah Arab hingga kita saksikan manusia berbondong-bondong masuk Islam.

Melihat ketiga esensi sistem pemerintahan Islam diatas, sudah pasti akan memberikan keberkahan dan kebaikan bagi tatanan dunia global, termasuk Indonesi. Sehingga layak dijadikan alternatif pengganti sistem usang Kapitalisme-Liberalisme yang terbukti gagal membawa manusia kepada kesejahteraan dan kemuliaan.
Karenanya, kita harus kembali kepada aturan yang berasal dari Allah SWT, zat  yang pasti menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya.  Disinilah Khilafah menemukan relevansinya. Umat Islam, sebagai pemilik khilafah (shahibul khilafah), dituntut untuk bisa menguraikan bagaimana Khilafah bisa menjadi solusi bagi kehidupan, terlebih dalam kondisi pandemi saat ini. Gagasan Islam sebagai soslusi, tidak lagi sekedar wacana, namun sudah seharusnya kita sambut dengan suka cita, terlebih dalam kondisi krisis mutlidimensi saat ini. 

Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan sistem kesehatan terbaik, gratis dan berkualitas. Hanya sistem ekonomi Islam yang bisa memutus rantai kemiskinan dan mencegah berbagai ancaman krisis, terintegrasi dengan sistem politiknya yang mandiri, tangguh dan mampu menghimpun segenap kekuatan Umat Islam secara global.

Untuk itu, mari tetap istiqamah mengkaji Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna, mengamalkan syariah-Nya, mendakwahkannya, sambil melayakkan diri, semoga sistem Islam, yakni Khilafah tegak melalui tangan-tangan kita. 
Aamiin Allaahumma Aamiin. []

Oleh Ernadaa Rasyidah
Penulis Bela Islam

Posting Komentar

0 Komentar