Sudahi New Normal atau Menyesal


Kondisi saat ini sudah kembali seperti biasa, masyarakat pun kembali dengan kesibukannya seperti sebelum covid-19 melanda,bekerja, berjualan, liburan,nongkrong di café dan aktivitas normal lainnya. Tak ada yang takut lagi untuk keluar rumah dan sudah banyak masyarakat yang tidak lagi menggunakan maskernya. Sungguh ini adalah bencana besar bagi Indonesia, karena kita tau bahwa covid-19 masih mengganas di bumi Nusantara.

Kita harus tau bahwa penambahan jumlah kasus positif Covid-19 sampai dengan 13 Juni 2020 masih sangat tinggi, yaitu 1.014 kasus baru, sehingga total menjadi 37.420 kasus yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Ada empat provinsi dengan penambahan kasus di atas 100 yaitu Jawa Timur (tertinggi, 176 kasus baru), DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. [@BNPB_Indonesia]

Pemberlakuan new normal atau kenormalan baru selama pandemi virus corona yang direncanakan pemerintah dinilai belum tepat. Sebab Indonesia masih belum aman dari penyebaran Covid-19.

Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr. Iwan Ariawan menyampaikan, dengan jumlah kasus yang masih terbilang tinggi maka penerapan new normal beresiko tinggi terhadap makin masifnya penyebaran virus corona.

Hal tersebut dikatakan Iwan dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Para Syndicate, Minggu (21/6)[ Jakarta, CNN Indonesia ].

Kasus covid-19 di sejumlah provinsi pun belum sampai pada tahap aman. Para ahli epidemiologi mengkritik keras kebijakan new normal atau kenormalan baru yang digembar-gemborkan pemerintah karena tingkat risiko penularan sebenarnya masih sangat tinggi. Kurva pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak. Dengan demikian, Indonesia masih jauh dari akhir pandemi.

Menurut Tifauzia Tyassuma, Direktur Eksekutif Clinical Epidemiology and Evidence Based Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), peningkatan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini adalah akibat dari sejumlah sebab.

Pertama, imbas dari melonggarnya pergerakan orang yang pulang kampung atau mudik. Kedua, konsekuensi logis dari peningkatan jumlah tes PCR yang dilakukan pemerintah. Ketiga, adalah dampak kampanye new normal (kumparan, 13/06/2020).

Para ahli berpandangan bahwa tingginya angka kasus baru corona di berbagai daerah karena pelonggaran PSBB di tengah kondisi ketidaksiapan masyarakat ini adalah salah. Karenanya semestinya program new normal dicabut. 

 Sementara itu pihak pemerintah pun  beralasan karena faktor tes yang masif lah dan pelacakan secara agresif yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang menjadi penyebab maraknya penyebaran.

Berbicara soal tes seharasnya ini semua adalah tanggung jawab negara untuk melakukan tes dan pelacakan agar memastikan individu terinfeksi tidak menularkan ke yang sehat. 

Juga merupakan kewajiban negara mencari jalan keluar jitu bagi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak pembatasan selama masa karantina. Semestinya kelesuan ekonomi yang dialami pelaku ekonomi raksasa/kapitalis tidak menjadi pendorong kuat pemerintah memberlakukan new normal dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas. 

Sungguh kebijakan yang tumpang tindih, bukannya memberikan solusi dan penanganan yang tepat. Malah menambah masalah baru, inilah aturan yang di buat oleh sistem kapitalis yang tak mau rugi demi ekonomi, namun rakyatlah yang menjadi tumbal dari setiap kebijakan yang dibuat.
Ditambah lagi ada  bahaya berkurangnya kewaspadaan publik

Tingkat kewaspadaan publik berkurang akibat gaung kebijakan penerapan new normal atau disebut dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Padahal, tatanan normal baru harus juga disertai kedisiplinan masyarakat dalam menjaga jarak dan menggunakan masker sebab berkontribusi besar menghentikan rantai penularan dan mengendalikan Covid-19.

Fakta di lapangan selama beberapa hari ini yang diamati penulis, masyarakat masih terlihat kurang disiplin, sudah tidak terlalu memperhatikan aturan social distancing, dan sebagian masyarakat sudah tidak memakai masker ketika keluar rumah.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sebagian masyarakat iliterasi. Mereka kurang paham soal virus Covid-19, tidak melek fakta, tidak paham bagaimana hal ihwal kasus Covid-19 itu sebenarnya seperti apa.

Kedua, banyaknya hoaks atau rumor yang menyangsikan apakah benar Covid-19 ini adalah virus berbahaya. Akibatnya sebagian masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah.

Ketiga, euforia. Masyarakat yang sudah merasa “terkekang” di dalam rumah karena kebijakan pembatasan sosial atau social distancing merasa sangat jenuh. Kebijakan new normal ini dianggap angin segar dan menjadi momen “kemerdekaan beraktivitas” bagi sebagian orang.

Semua faktor ini jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan tinggi dan masyarakat yang semakin abai, dampaknya akan sangat berbahaya. Kita pun perlu berkaca dari pengalaman negara lain seperti Korea Selatan yang terpaksa menutup sekolah setelah satu pekan dibuka, kasus positif covid-19 meningkat lagi.

Jangan sampai akibat kebijakan new normal ini seperti kasus bencana “tsunami” (meskipun hanya perumpamaan). Ketika air laut surut dan ikan-ikan kemudian bermunculan di sekitaran pantai, orang-orang berduyun-duyun dan mendekat ke pantai mengambil ikan-ikan dengan perasaan sangat gembira. Tak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan tanpa dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang tanda-tanda tsunami. Akhirnya, beberapa menit kemudian air yang tinggi datang seketika melumat orang-orang itu dan juga semua yang ada tak pandang bulu.

Demikian juga dengan bahaya Covid-19 ini. Jangan sampai kebijakan new normal (yang sebenarnya abnormal) ini menjadi pintu baru ancaman meluasnya penularan Covid-19 karena ketidakdisiplinan masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan berat kita.

Kita tentu tak menginginkan Indonesia “panen corona” akibat new normal. Atau justru kurva penularan Covid-19 mencapai puncaknya setelah kebijakan ini.

Kita harus sadar bahwa tidak ada sistem terbaik selain Islam yaitu dibawah naungan Khilafah. Jika penderitaan dan peringatan yang kita alami selama ini tidak bisa membuat kita sadar dan hijrah pada sistem yang lebih baik, mungkin ada yang salah dengan hati dan aqidah kita. Allahualam bisawwab.[]

Oleh : Fitri Khoirunisa,A.Md 
Muslimah Ideologis Khatulistiwa

Posting Komentar

0 Komentar