TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sudah Tiga Tahun, Kapan Keadilan Didapat?


Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengucapkan selamat ulang tahun ke-59 kepada Presiden Joko Widodo yang berulang tahun pada hari ini, 21 Jumi 2020. Novel berharap Jokowi sebagai kepala negara tetap berpihak pada penegakan hukum.

"Selamat ulang tahun Pak Presiden Jokowi. Semoga bapak tetap ingat dan peduli dengan masalah kemanusiaan dan penegakan hukum yang sangat perlu sikap keberpihakan bapak," kata Novel Baswedan dilansir dari Antara, Minggu (tirto.id 21/6/2020).

Wajar kiranya jika Novel Baswedan berharap kepada pemimpin negeri ini untuk bisa memberikan sikap yang tegas mengenai kasusnya. Setelah kurang lebih 3 tahun lamanya seakan-akan menggantung dan tidak ketemu ujungnya. Para pelaku penyiram air keras tersebut akhirnya diadili dan dijatuhi 1 tahun hukuman penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Hukuman yang begitu ringan diberikan menjadi perhatian publik. Semakin terlihat janggal dikatakan dalam kasus ini adanya faktor ketidaksengajaan oleh si pelaku terhadap Novel Baswedan. Kuasa hukum pelaku justru mengatakan bahwa kerusakan mata yang dialami Novel bukan karena air keras, tetapi karena penanganan yang salah dari para dokter. Novel melihat banyak permasalahan dalam penyelesaian kasusnya tersebut. Bukan hanya tuntutan satu tahun penjara yang dianggap keterlaluan, tetapi ada lagi yang lainnya. 

Satu hal yang disorot oleh Novel adalah status kedua terdakwa yang tengah menjalani proses pengadilan apakah pelaku sebenarnya atau bukan. Ia menilai ada upaya untuk mengalihkan pelaku sebenarnya, serta menutupi adanya sosok yang berperan sebagai aktor intelektualis. 

Novel juga menyoroti proses persidangan yang disebutnya tidak jujur dan objektif sehingga memanipulasi fakta. Hal itu ditunjukkan dengan tidak diperiksa saksi kunci dalam persidangan serta barang bukti yang hilang dan berubah. Novel menduga ada upaya menghukum terdakwa sehingga sehingga kasus bisa ditutup dengan formal dengan vonis ringan (tribunmataram.com, 15/06/2020).

Sungguh sebuah ironi, seorang penegak hukum tidak mendapatkan keadilan hukum di negerinya sendiri. Sebagai seorang penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Seharusnya mendapatkan prioritas untuk dijaga keamanan dan keselamatannya. Tentu saja itu semua berkaitan dengan profesinya yang bertugas menemukan dan memberantas segala macam bentuk korupsi di negeri ini. Hal ini yang membuat tidak amannya para koruptor, mereka lalu berusaha bagaimana caranya untuk bisa membungkam siapapun yang ingin memberantasnya. 

Kasus Novel hanyalah satu  gambaran dari sekian banyaknya kasus penegakkan hukum yang buruk. Sistem yang tidak mampu menjaga keamanan rakyatnya, tidak dapat memberikan keadilan yang seadil-adilnya. Seperti fenomena gunung es, hukum yang tajam hanya berlaku untuk rakyat jelata tapi selalu tumpul keatas bahkan kebal hukum bagi mereka yang memiliki banyak uang dan kekuasaan. 

Jadilah praktek dan pelaksanaan hukum di negeri ini mayoritas dijalankan berdasarkan pesanan. Praktek suap meyuap, hadiah, kolusi, dan nepotisme menjadi permainan yang tidak tabu lagi. Layaknya hukum rimba, siapa yang kuat maka dialah pemenangnya. 

Diketahui bahwa hukum yang dipakai di negeri ini adalah hukum warisan jaman kolonial Belanda. Hukum buatan manusia yang rentan dimanipulasi, dipermainkan, dan sarat kepentingan. Sangat memungkinkan dipengaruhi oleh pihak-pihak yang memiliki akses kekuatan modal dan kekuasaan. Alih-alih akan menyelesaikan persoalan, yang ada justru membuat masalah baru dan pastinya semakin pelik.  

Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai kasus ini. Apakah didalam Islam ada hukum yang mengatur masalah pidana ini? Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Penegakan hukum dan keadilan merupakan bagian yang juga diatur dan diperhatikan. Termasuk diantaranya masalah hukum pidana yang diatur melalui Al-Ahkam al-Jinayah (hukum pidana Islam). 

Didalam Islam kasus yang terjadi pada novel Baswedan terkategori tindak pidana qishas, yaitu tindak pidana yang berkenaan dengan kejahatan terhadap orang, seperti membunuh atau menganiaya. Bagi pelaku tindak pidana ini akan dikenakan hukum qishas atau diyat dari individu yang menjadi korban. Sehingga Novel bisa menuntut hukuman yang sama dengan yang terjadi pada dirinya atau memaafkan sipelaku. 

Allah Swt berfirman didalam Al-qur’an surat Al-Baqarah, ayat 178-179 
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu atas kamu qishas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang (diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb mu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, suapaya kamu bertakwa.” 

Sedangkan dalil dari sunnah diantaranya adalah hadist Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang menjadi keluarga korban terbunuh maka ia memiliki dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa qishas (balas bunuh). (HR. al-Jama’ah). Dan masih banyak lagi hadist yang berkaitan dengan qishas ini. 

Allah sebagai tasyri’ atau pembuat hukum tentunya tidak akan menetapkan sebuah hukum tanpa ada maslahat didalamnya. Bisa dipastikan ada hikmah agung yang menyertai setiap hukum, demikian juga hukum qishas ini. Diantara hikmahnya adalah mencegah masyarakat melakukan kejahatan dan menumpahkan darah orang lain. Menjadi sarana taubat dan pensucian dari dosa yang telah dilanggarnya. Serta mewujudkan keadilan bagi korban dan keluarganya.
 
Jadi masihkah ada keraguan akan hukum Islam? Padahal Allah lah sebaik-baiknya pembuat hukum dan bukan manusia yang menjadi tempatnya kesalahan dan kealpaan. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah (5):50). Wallahu’alam Bishshowab.

Oleh : Anjar Rositawati S.Pd

Posting Komentar

0 Komentar