TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sudah Layakkah New Normal?



Pandemi yang terjadi beberapa bulan  ini telah membuat tatanan kehidupan  semerawut dalam segala bidang. Tatanan pendidikan, ekonomi, sosial dan yang lainnya. Dampak terlihat beberpa bulan ini terutama dari segi ekonomi anjlok. Banyak pengusaha-pengusaha yang gulung tikar atau menghentikan proses produksinya, memutus hubugankerja dengan karyawannya. Pengusaha yang memiliki modal besar pun di masa pandemi ini tumban apalagi dengan para pelaku UMKM  tidak sedikit yang tidak bisa bertahan dan kehilangan penghasilannya. Para pengusaha asing yang menanam modal di Indonesia tentunya kelimpungan  dengan kondisi ini, karena sudah pasti mereka akan rugi.

Beberapa bulan ini cukup melelahkan bagi semua pihak dengan adanya virus corona ini yang telah menelan banyak korban jiwa, baik itu  masyarakat biasa, kaum intelektual, dan nakes itu sendiri. Cukup melelahkan apalagi nakes banyak yang menjadi korban karena langsung berhadapan dengan pasien. 

PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) sudah diberlakukan di berbagai wilayah dan sudah berlangsung lama. Namun belum membuahkan hasil yang signifikan untuk pengurangan kasus positif corona. Apalagi ketika menjelang lebaran seolah-olah semuanya kacau, orang-orang tumpah ke pasar. Pandemi terus terjadi tanpa henti, walaupun ada beberapa yang sembuh tapi belum dikatakan pandemi ini mereda. Dengan kecarut-marutan yang terjadi pemerintah mengumumkan untuk menjalani New Normal, artinya tatanan kehidupan baru yang mana masyarakat menjalani kehidupan seperti biasanya dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan.

Namun yang menjadi pertanyaan, sudah layakah New Normal?Sedangkan kurva pandemi virus corona ini belum melandai? Semua orang tentunya ingin hidup normal kembali seperti sediakala sebelum ada pandemi ini, apalagi para kepala keluarga yang biasa mencari nafkah di luar rumah. Namun ada keganjalan dalam New Normal ini, karena kita semua tahu bahwa pandemi ini belum berakhir, akan berbahaya ketika masyarakat melakukan interaksi dan kehidupan seperti biasanya. 

Walaupun dengan new normal ini tetap melakukan protokol kesehatan yang berlaku, namun hal ini tidak menjamin masyarakat patuh terhadap aturan yang ada toh PSBB saja masih banyak di langgar. Apalagi di bidang pendidikan, ketika anak-anak bersekolah kembali apalagi tinggkat dasar, tidak menjamin mereka memahami protokolkesehatan yang ada. New normal ini alhasil bukan solusi baik untuk ekonomi atau pendidikan, jika tetap dilakukan akan membahayakan kesehatan masyarakat  ketika pandemi ini belum berakhir.

New normal dengan pertahanan imun dikembalikan kepada masing-masing orang atau tang dikenal dengan herd imunity, seolah-olah seperti hukum rimba, siapa yang kuat imunnya itu yang akan tetap hidup. Tentunya hal ini kebijakan yang salah kaprah mementingkan ekonomi terus berlangsung dengan taruhan nyawa masyarakat. 

Melihat kondisi seperti ini semakin terlihat betapa bombroknya sistem kapitalisme ini, lebih mementingkan materi daripada nyawa  manusia. Di dalam Islam nyawa seseorang sangat dihargai dan dilindungi, seperti dalam hadist “Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding dengan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak” (HR. Nasai 3987,  Turmudzi 1455 dan disahihkan al-Albani).

Satu nyawa pun di dalam Islam sangat di jaga keberlangsungan hidupnya apalagi dengan ribuan nyawa. Masa pandemi seperti ini melindungi nyawa atau kesehatan masyarakat bagian tangung jawab negara yang tidak boleh abai dalam penanganan pandemi. Oleh karena itu kembalilah kepada kehidupan Islam yang yang kaffah, menyelesaikan permasalahan manusia dengan hukum Allah, yang akan nampak Islam rohmatan lil a’lamin. Wallahu’alam bishowab.

Oleh : Evalasari, S. Pd.

Posting Komentar

0 Komentar