TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Simalakama 'Back to School' di Tengah Pandemi



Wacana pelaksanaan tahun ajaran baru bagi para peserta didik yang direncanakan pada tanggal 13 Juli 2020 sebagai bagian pelaksanaan sektor pendidikan dalam kebijakan new normal masih menuai kontra.Tidak hanya di kalangan para orang tua, pihak sekolah demikian pun dengan federasi serikat guru. Hal ini tentunya bukan tidak beralasan, jika mengacu pada data kasus anak yang terinfeksi virus mematikan ini.  

Berdasarkan data Rumah Sakit Online Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan menunjukkan jumlah kematian pada anak yang tercatat dengan status orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) cukup tinggi. Kasus kematian pada anak dengan status ODP per 22 Mei 2020 tercatat sebanyak 41 anak dan dengan status PDP mencapai 383 anak. Kementerian Kesehatan hingga Sabtu 30 Mei 2020 pun menunjukkan terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak berusia kurang dari 18 tahun. Kasus tertinggi dilaporkan terjadi di DKI Jakarta sebanyak 333 kasus, Jawa Timur sebanyak 306 kasus, Sumatera Selatan sebanyak 181 kasus, Sulawesi Selatan sebanyak 151 kasus, Jawa Tengah sebanyak 100 kasus dan Nusa Tenggara Barat sebanyak 84 kasus. Dari jumlah tersebut, terdapat 29 kasus kematian akibat corona pada anak yang dilaporkan.  (Kompas.com 04/06).

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan juga mengatakan tingkat kematian anak akibat virus corona di Tanah Air merupakan yang tertinggi di negara ASEAN jika dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Jika menilik data-data tersebut, tentunya wajar jika muncul kekhwatiran yang sangat besar dari berbagai pihak jika proses pembelajaran kembali ke sekolah.

Dampak Yang Mengkhawatirkan
 
Dengan kondisi yang masih sangat mengkhawatirkan ini, rasanya sangat disayangkan apabila wacana kebijakan back to school di tahun ajaran ini akan benar-benar dilaksanakan. Walaupun pelaksanaan rencana kebijakan ini hanya akan diterapkan pada daerah yang tergolong sudah aman dari virus.   

Tentunya kita tahu bersama bahwa dunia anak adalah dunia belajar sambil bermain. Rasa kebersamaan dan kebahagiaan bertemu dengan para guru, dan teman-temannya setelah berbulan-bulan di rumah saja tentunya akan menyulitkan pihak sekolah dan para orang tua dalam pengawasan anak agar tetap patuh pada protokol kesehatan covid-19. Tidak adanya jaminan bahwa para anak didik akan mematuhi untuk terus menjaga kebersihan, mencuci tangan, menggunakan masker, mengganti masker jika sudah kotor, dan menjaga interaksi satu sama lain akan sangat sulit untuk membendung penyebaran virus ini.

Kondisi semakin mengkhawatirkan di tengah belum jelasnya metode protokol kesehatan yang akan ditetapkan oleh pemerintah di sekolah dan kurangnya fasilitas sekolah untuk menunjang proses pembelajaran di tengah kondisi pandemi, menunjukkan ketidaksiapan pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Kondisi ini menjadikan potensi penyebaran virus yang semakin besar. Sebagaimana yang terjadi di Prancis dan Korea Selatan yang muridnya banyak terpapar setelah memulai proses belajar mengajar dilaksanakan disekolah.

Islam melindungi Kesehatan dan Akal

Sejarah telah mencatat kesuksesan Khalifah Umar bin Khaththab dalam menyelesaikan serangan wabah ‘Thaūn Amwās yang menyerang wilayah Syam yang menimpa rakyatnya. Kesuksesan ini tentunya karena sistem aturan yang ditetapkan oleh Beliau yaitu aturan Islam sebagaimana yang telah di contohkan Rasulullah SAW sebagai suritauladan kita bersama. Ketika dahulu terjadi wabah penyakit lepra, Rasulullah Saw memerintahkan ummatNya:  “Larilah dari orang yang sakit lepra, sebagaimana kamu lari dari singa.” (H.R. Bukhari dan Muslim). 

Hadits yang mengisyaratkan kepada kita semua untuk tetap menjaga jarak dan menghindari orang yang telah terkena penyakit menular.
Anak sebagai aset generasi bangsa dan tonggak peradaban dunia tentunya tidak lepas dari perlindungan islam baik kesehatan fisik maupun akalnya.

Dalam upaya perlindungan dari penyebaran virus corona, islam memiliki aturan kebijakan yang tegas, cepat, tanggap, konsisten dan sistematis diantara memenuhi kebutuhan gizi anak, pelayanan kesehatan dasar, tetap melakukan tindakan karantina dan isolasi, serta pembatasan fisik (social distancing/ physical distancing) agar anak-anak tidak ikut tertular. Oleh karenanya, jika kondisi masih dalam suasana pandemi maka pembelajaran online di rumah dengan kesiapan prosedur kebijakan dan tekhnis dari pemerintah menjadi salah satu alternatif. 

Dalam upaya kesehatan akal, islam sangat memperhatikan sektor pendidikan. Islam mewajibkan kaum Muslim untuk terus belajar menuntut ilmu dan berpikir untuk meningkatkan intelektual baik melalui pendidikan formal sekolah maupun informal di rumah. 

Disinilah kekhasan islam dalam mengatur sinergitas pembelajaran anak di sekolah dengan menyediakan seluruh saranan dan prasarana memadai dengan biaya yang gratis, dan mewajibkan para orang tua menjadi orang tua pembelajar dirumah. Sehinggga proses pendidikan tidak hanya menunjang di sekolah, namun juga di rumah. Hal ini disebabkan karena orang tualah sebagai pembentuk karakter dan kepribadian islam pertama seorang anak agar terhindar dari pengaruh negatif dari luar. Keseluruhan ini tentunya hanya akan tercapai jika dilakukan sesuai dengan prosedur syariat islam. 

Wallahu’alam bisshwab.

Oleh : Nurhikmah, SKM., M.Kes (Pengiat Opini Media Kolaka)

Posting Komentar

0 Komentar