TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Setelah BPJS Naik, Tagihan Listrik Naik?



Di masa pandemi ini banyak sekali keprihatinan yang harus dipikul oleh rakyat. Setelah kenaikan iuran BPJS yang dirasa tidak pada waktu dan kondisi yang tepat, kini di tambah lagi dengan tarif listrik yang mengalami kenaikan hingga empat kali lipat.

Walaupun ini bukan yang pertama kalinya rakyat mengalami perihal tarif listrik naik, maka sangat wajarlah di masa-masa sulit seperti saat ini rakyat mengeluh, karena beban hidup terasa semakin mencekik. Padahal di akui oleh masyarakat, pemakaian listrik sama saja dengan bulan-bulan sebelumnya. Masyarakat beranggapan bahwa pihak PLN  telah menaikkan tarif listrik secara diam-diam. Namun hal tersebut di elak oleh pihak PLN bahwa tidak ada kenaikan selama pandemi.

Di lansir dari finance.detik.com (7/6). PT PLN (Persero) angkat suara untuk merespons keluhan-keluhan tersebut. Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Syahril memastikan seluruh anggapan itu tidak benar. PLN tidak pernah menaikkan tarif listrik karena bukan kewenangan BUMN. Bob juga menegaskan kenaikan tagihan listrik pelanggan terjadi karena adanya kenaikan pemakaian dari pelanggan itu sendiri.

Bob Syahril juga menjelaskan lonjakan tagihan yang dialami sebagian pelanggan bukan disebabkan oleh subsidi silang. Akan tetapi karena ada perubahan saat perhitungan yang semula berdasarkan angka catat meter menjadi angka rata-rata. (Sindonews.com, (7/6)). 

Walaupun lonjakan tagihan listrik sudah di klarifikasi oleh pihak PLN, seharusnya negara sadar bahwa dalam kondisi pandemi seperti saat ini rakyat butuh hadirnya negara untuk mengayomi segala kebutuhan hidup termasuk juga dalam hal kelistrikan. Hal ini diakibatkan adanya liberalisasi kelistrikan oleh sekelompok elit kapitalis. Liberalisasi ini di perkuat setelah disahkannya undang-undang kelistrikan no.2 tahun 2020. Dimana UU ini salah satunya mengatur soal unbundling vertikal yang berpotensi membuka ruang bagi keterlibatan pihak swasta. 

Inilah akibatnya ketika sistem kapitalis di peruntukkan untuk mengatur kehidupan. Negara yang seharusnya menjamin ketersediaan listrik malah hanya menjadi regulator semata yang akhirnya rakyat tidak bisa banyak memperoleh haknya terhadap energi listrik dengan mudah dan murah. Karena pelayanan terhadap publik hanya dijadikan sebagai ajang bisnis dan  pengelolaan yang berorientasi pada keuntungan.

Sangat berbeda dengan sistem Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah yang tidak hanya mengatur perkara ibadah ritual saja, tapi juga punya solusi atas segala permasalahan hidup. Sistem Islam pun mampu mengatur segala aspek kehidupan termasuk perkara kelistrikan. 

Dalam pandangan Islam, listrik termasuk dalam kepemilikan umum. Listrik sebagai bahan bakar termasuk dalam kategori api yang merupakan hak milik umum. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW. "Kaum muslim berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput, dan api" (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah). 

Hadist tersebut menyebutkan benda-benda yang menjadi kebutuhan dan menguasai hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu, barang apa saja yang dibutuhkan dan menguasai hajat hidup orang banyak, maka kepemilikan atas benda tersebut bersifat umum dan tidak boleh dikuasai oleh individu. Sumber daya alam yang menjadi milik umum tersebut wajib di kelola negara dan mengatur pemanfaatannya, yang kemudian hasilnya di kembalikan pada rakyat dalam bentuk subsidi, termasuk juga didalamnya perihal kelistrikan. 

Islam juga mewajibkan negara (Khilafah) untuk bertanggung jawab memenuhi kebutuhan listrik setiap rakyatnya yang kaya maupun yang miskin, baik yang hidup dikota maupun yang hidup di pedalaman. 

Jadi sudah saatnya bukan, Islam di peruntukkan untuk mengatur kehidupan manusia di muka bumi ini. Karena hanya dengan Islamlah negara (Khilafah) hadir sebagai ra'in yang bertanggung jawab mengurusi semua urusan rakyatnya dengan penuh ketaqwaan bukan dengan prinsip untung rugi. 

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa Allah menguasai hati manusia, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. (TQS. Al-Anfal [8]:24).[]

Oleh: Muyessaroh 
Muslimah Ideologis Khatulistiwa

Posting Komentar

0 Komentar