TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Senjata Makan Tuan: Mengulik Negeri 'Paman Sam' Tertusuk dari Dalam



Sebagai negara adidaya yang tegak dengan ideologi kapitalisnya, Amerika Serikat terus-menerus menghadapi masalah dan penderitaan yang tiada henti. Padahal sejak tanggal 4 Juli 1776, dengan suara bulat, delegasi dari 13 koloni Inggris memproklamirkan kemerdekaan, yang menjadi awal berdirinya Amerika Serikat. Negara baru ini berhasil mengalahkan Inggris dalam Perang Revolusi. Perang ini merupakan perang kemerdekaan pertama yang berhasil mengalahkan imperium Eropa. Namun keruntuhannya telah tampak terasa di tahun 2020 ini untuk menyusul saudara palsunya Uni Sovyet.

Paling tidak ada 3 hal yang menyebabkan Amerika Serikat terus-menerus dirundung masalah. Pertama, praktik politik pemerintahan demokrasi. Kedua, propaganda palsu kebebasan dan HAM dibalik agenda militer penjajahan dan peperangan. Serta ketiga, ekonomi kapitalis berbasis riba dan mata uang kertas dollar. 

Konstitusi yang berlaku pertama kali dirumuskan pada tanggal 17 September 1787. Beberapa amandemen dilakukan, memodifikasi pasal-pasalnya, namun tetap tidak mengubah isi teks aslinya. Sepuluh amendemen pertama dikenal dengan Bill of Rights, disahkan pada tahun 1791 dan mengatur mengenai jaminan hak-hak sipil dasar dan kebebasan. Inilah pangkal utama pondasi yang lemah dari Amerika Serikat, sebagaimana kelemahan pondasi asas Sosialismenya Uni Sovyet.

Didorong oleh doktrin “Manifest Destiny” yaitu doktrin keyakinan kuat bahwa Amerika Serikat ditakdirkan untuk meluas melintasi benua. Ditambah dengan slogan-slogan kebebasan, demokrasi, Hak Asasi Manusia, maka di sepanjang abad ke-19, Amerika Serikat memulai ekspansi besar-besaran ke wilayah Amerika Utara lainnya, menyingkirkan penduduk asli, menduduki serta membeli teritori-teritori baru, dan secara bertahap menjadikannya sebagai negara bagian yang baru. 

Banyak yang mengatakan kekuatan senjata dan teknologi yang dimilikinya menjadikan Amerika Serikat negara adidaya setelah perang Dunia II berakhir. Namun tidak sedikit juga yang mengatakan kekuatan Amerika ada pada Ilusi Mata Uang Dollarnya. Menjadikan negeri-negeri Islam dibawah pengaruh sihir “PetroDollar” dan termasuk konsumen  dari peradaban barat tersebut.

Tahun 2020 ini jumlah utang negara AS begitu mengkhawatirkan. Jumlahnya mencapai US$ 25 triliun atau setara Rp 375 kuadriliun. Meski begitu mereka menilai saat ini bukan keputusan yang tepat untuk menghentikan utang. Para ekonom sepakat bahwa Amerika Serikat harus terus menumpuk utang untuk mencegah kejatuhan ekonomi yang lebih dalam lagi. Bahkan pengawas defisit mendesak Paman Sam untuk terus meminjam.

Tentu saja, akan ada konsekuensi jangka panjang dari utang yang menggunung itu. Ujungnya akan muncul tingkat suku bunga yang lebih tinggi, inflasi yang lebih besar dan kemungkinan pajak yang lebih tinggi. Dan yang lebih parah adalah jurang antara yang kaya dan miskin semakin melebar dan membesar.

Amerika Serikat juga menjadi negara dengan pengeluaran militer tertinggi di dunia. Ketika terlibat perang bersama Inggris, propaganda AS menampilkan konsep perang ideologi secara sederhana, Inggris dan Amerika berperang demi 'mempertahankan demokrasi' di seantero dunia. Di abad ke-21 kedok AS sebagai penguasa moral semakin terkuak ketika Presiden George W Bush mengumumkan Operasi Pembebasan Irak pada Maret 2003 dengan alasan Irak memiliki senjata pemusnah massal dan melakukan pelanggaran berat hak asasi. 

Tapi seperti diketahui dunia saat ini, klaim bahwa Irak punya senjata pemusnah massal ternyata suatu kebohongan. Dunia pun paham bahwa AS menyerang negara berdaulat dengan alasan demi membawa kemerdekaan, kebebasan, dan demokrasi, sebenarnya hanya ingin mengejar kepentingan nasionalnya serta bisnis dari militer dan peperangannya.

Akhirnya perang demi perang telah di lewati pada Semenanjung Korea, Vietnam, Irak, dan Afghanistan dan membuat citra Amerika semakin merosot. Hari ini kekuatan militer AS boleh jadi masih yang terkuat dan terbaik di dunia, namun AS sudah kehilangan pengakuan sebagai negara penjaga moral. Termasuk propaganda “War On Terorisme” berbalik arah kepada diri mereka sendiri hingga lahirnya “Khilafah Palsu” ala ISIS.

Hari ini kasus matinya George Flyod membuat kebohongan AS sebagai pembela Kebebasan dan Rasisme tidak bisa ditutupi lagi. Protest muncul dari rakyat mereka sendiri, termasuk Occupy protes “We are 99%” melanjutkan krisis Subprime mortgage sehingga runtuhnya raksasa lembaga keuangan ala Lehman Brothers tahun 2008. Hal ini semakin menambah pijakan kaki Paman Sam semakin goyah dan tidak akan mampu berdiri tegak sebagaimana orang yang gila karena penyakit ayan dari konsep ribawi.

Peter Turchin (2017) sudah memprediksi di tahun 2020 Amerika Serikat akan mengalami puncak keruntuhannya karena gejolak politik yang melanda negara-negara Barat. Prediksi suram dari seorang  ahli yang menggunakan matematika untuk meramalkan jalan sejarah.

Turchin merupakan seorang profesor dari departemen ekologi dan biologi evolusioner di University of Connecticut menyatakan bahwa peristiwa sejarah seperti pertumbuhan dan runtuhnya kerajaan atau agama diikuti dengan pola yang dapat didefinisikan dengan jelas. Jika AS runtuh, maka Eropa dan Barat secara keseluruhan akan mengalami nasib serupa.

Dan prediksi ini berbasis pada ilmu pengetahuan, bukan 'ramalan.' Ini didasarkan pada ilmu sosial yang solid dengan teori cliodynamics dalam memperlakukan peristiwa sejarah. Model yang disusun dari sejumlah faktor diantaranya meningkatnya pendapatan dan ketidaksetaraan kekayaan, bahkan menurunnya kesejahteraan sebagian besar orang Amerika, meningkatnya fragmentasi politik dan disfungsi pemerintah. 

Lebih jauh lagi, kekacauan akan didorong oleh faktor penting dan kunci dari keterpurukan Amerika Serikat yaitu "overproduksi elite" (ledakan elit) dalam menggerakkan gelombang kekerasan politik. Meningkatnya ketimpangan tidak hanya mengarah pada pertumbuhan kekayaan besar, tetapi juga menghasilkan lebih banyak pemegang kekayaan. '1 persen' menjadi '2 persen.' 

“Overproduksi elite” umumnya mengarah ke kompetisi intra-elite yang secara bertahap melemahkan semangat kerja sama, yang diikuti oleh polarisasi ideologis dan fragmentasi kelas politik. Hal ini terjadi karena semakin banyak pesaing, semakin banyak dari mereka yang kalah, dan akan banyak yang merasa tidak puas, seringkali berpendidikan tinggi dan sangat cakap, namun telah ditolak aksesnya ke dalam posisi elit. 

Stagnasi dan penurunan standar hidup serta menurunnya kesehatan fiskal negara sebagai akibat dari jatuhnya pendapatan negara dan meningkatnya biaya juga memicu potensi kemerosotan drastis. Makanya beliau mengusulkan mendesain ulang rollercoaster. 

Namun bisa kah itu terjadi? Dan mampukah Amerika menyusun kembali rollercoaster-nya? Selama masih berpegang kepada Bill of Rights, propaganda Demokrasi dan kebebasan yang semu, serta ilusi Dollar, maka jangan harap rollercoaster ini akan berjalan. 

Wallahu’alam.[]


Oleh Wandra Irvandi, S. Pd. M. Sc.

Posting Komentar

0 Komentar