TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sengketa Tiada Akhir Laut China Selatan


Wilayah Laut China Selatan merupakan lokasi strategis yang krusial, yang menjadi rumah bagi beberapa rute pengiriman tersibuk di dunia. Wilayah ini diyakini memiliki cadangan sumber daya alam seperti minyak dan gas yang melimpah. Maka tak heran jika China mati-matian mengklaim sebagian besar wilayah sengketa ini dengan terus memperluas 'agresi' di perairan tersebut. Namun tak hanya China, kawasan ini telah diperebutkan oleh banyak negara, termasuk Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Taiwan.


Tak mau hal ini berlarut, Indonesia sebagai salah satu negara penandatangan "Hukum Laut UNCLOS 1982", mengambil sikap tegas dengan menolak klaim China di Laut China Selatan. Hal itu tertuang dalam dalam sebuah surat yang ditulis oleh misi tetap Indonesia untuk PBB, kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Divisi Urusan Kelautan dan Hukum Laut lembaga itu. Mengenai penolakan Indonesia atas klaim China ini, Plt Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah membenarkan kabar tersebut saat dihubungi oleh CNBC Indonesia.


Meski ditentang banyak pihak, awal tahun ini China telah menyetujui pembentukan dua distrik untuk mengelola pulau Paracel dan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan. 


UNCLOS atau Konvensi PBB tentang Hukum Laut merupakan perjanjian internasional yang diadopsi hampir 40 tahun yang lalu. Indonesia merupakan salah satu negara penandatangan Hukum Laut UNCLOS 1982.


Komentar Indonesia disampaikan di saat ketegangan terus meningkat di wilayah Laut China Selatan antara China dan AS, serta beberapa negara lainnya. Klaim China, dibalas AS dengan menyatakan Beijing telah melakukan sesuatu yang ilegal. Militer kedua negara bahkan terlibat ketegangan di kawasan ini. Pekan kemarin, tentara China (PLA) mengusir kapal perang AS yang tengah berpatroli dengan Paracel. (CNBCIndonesia.com, 01/06/2020)



Kabar terkait sengketa laut China Selatan seolah tak pernah usai dan malah dijadikan sebagai modus bagi dua kubu besar dunia yaitu China dan AS untuk saling adu kekuatan. Berita masuknya kapal China ke wilayah perairan Indonesia pun sudah akrab di telinga dan seolah tak ada penyelesaian yang jelas apalagi tegas

.
Sengketa laut China Selatan menunjukkan kepada kita bahwa saat ini negeri-negeri muslim seolah tak berdaya menghadapi 2 kekuatan besar dunia efek sekat nasionalisme yang sengaja diciptakan oleh musuh Islam sejak beberapa puluh tahun silam, jauh sebelum runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki. Tak ada langkah konkret yang diambil untuk menjaga perbatasan wilayah yang kaya akan potensi alam. Hal ini terbukti dengan masih beraninya kapal asing memasuki garis batas wilayah Indonesia dengan motif mencari ikan ataupun lainnya, padahal perjanjian internasional sudah diteken bersama.



Kondisi yang terjadi hari ini kaum muslimin diadu domba oleh musuh Islam sehingga tidak ada pilihan lain bagi negeri-negeri muslim selain memberikan dukungan kepada salah satu pihak yang bersengketa, AS atau China. Padahal kaum muslimin dengan segenap potensi SDA maupun SDM seharusnya bersatu melawan 2 kekuatan besar tersebut, menciptakan kekuatan baru yang tak tertandingi, tentunya dalam bingkai Khilafah Islam.


Khilafahlah yang akan menyatukan negeri-negeri kaum muslimin dan menjaga perbatasan wilayahnya dengan langkah konkret penuh ketegasan, sehingga musuh Islam pun segan dan enggan untuk mengganggu. Terlebih lagi menjaga wilayah perbatasan adalah wajib kifayah sebagaimana jihad, di mana jika sebagian telah melakukannya, maka kewajiban tersebut dianggap gugur dari sebagian yang lainnya. Allah SWT telah memerintahkannya di dalam firmanNya,


“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (TQS. Ali Imran: 200)
Menjaga wilayah perbatasan adalah amal yang utama dan taqarrab yang agung. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda,
“Menjaga wilayah perbatasan satu hari di jalan Allah, lebih baik daripada dunia serta isinya.” (HR. Bukhari)
“Menjaga wilayah perbatasan satu malam di jalan Allah, lebih baik daripada seribu malam yang pada malamnya mengerjakan shalat sunnah serta siangnya berpuasa.” (HR. ath-Thabrani).

Oleh Lely Ummu Arin

Posting Komentar

0 Komentar