TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sekolah di Tengah Wabah Bikin Gelisah


    Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Jika tahun sebelumnya, hampir semua anak sekolah beserta orang tuanya begitu bergembira menyambut tahun ajaran baru dengan segala euforia rutin yang seolah sudah mendarah daging. Membeli alat dan kebutuhan sekolah sebagai amunisi memulai tahun ajaran baru. Tapi nampaknya tahun ini sangat berbeda. Tahun ajaran baru di tengah pandemi justru memicu adanya rasa khawatir terutama dalam diri seorang ibu yang akan melepas anaknya ke sekolah dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang belum dipastikan kondisi kesehatannya. 

    Rupanya kekhawatiran yang dirasakan seorang ibu ini bukanlah hisapan jempol semata. Data yang berasal dari IDAI seolah menjawabnya dengan lugas. Dilansir dari laman kumparan, data IDAI mengatakan, hingga tanggal 18 Mei 2020 jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus. Sedangkan jumlah anak yang berstatus PDP meninggal sebanyak 129 orang dan 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 129 anak meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP). 

Yang menyedihkan, 14 anak meninggal dengan status positif Covid-19. Dalam artikel online okenews, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti juga mengungkapkan, dari data Kementerian Kesehatan terdapat sekitar 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Usia anak yang tertular itu berkisar 0-14 tahun. Melihat data tersebut, Retno meminta Kemendikbud dan Kemenag untuk merujuk dari negara lain yang telah melakukan pembukaan sekolah agar dapat melakukan evaluasi bahkan kajian lebih lanjut sebelum memutuskan kebijakan yang memicu kekhawatiran orang tua.

   Dalam okenews juga dikatakan bahwa pembukaan sekolah pada beberapa negara dilakukan setelah kasus positif Covid-19 menurun drastis bahkan sudah nol kasus. Tapi meski begitu, masih saja ditemukan kasus penularan Covid-19 yang menyerang guru dan siswa. Peristiwa ini terjadi di Finlandia, yang kita tau mereka mempunyai sistem kesehatan yang baik dan persiapan pembukaan yang matang. 

   Begitu juga di Negara China, pembukaan sekolah dilakukan setelah tidak ada kasus positif Covid-19 selama 10 hari. Selain itu, China juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat sebagai upaya preventif saat pembukaan sekolah. Para guru yang mengajar juga telah menjalani isolasi terlebih dahulu selama 14 hari sebelum sekolah dibuka.

   Serangkaian kasus yang dilandasi data dan opini dari para ahli hendaknya membuat mata terbuka bahwa memaksakan kebijakan pembukaan sekolah bukanlah suatu hal yang dibenarkan. Anak-anak yang menjadi objek dalam kebijakan ini, memiliki tingkat kesadaran yang rendah terhadap bahaya penularan virus corona. Jumlah anak didik yang tidak sedikit di sekolah, juga dapat membuat pengawasan yang tidak maksimal pada masing-masing anak untuk tetap tertib mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. 

Usia anak-anak juga cenderung kurang berhati-hati dalam melakukan apapun, sehingga tidak menjamin mereka akan berpikir jauh sebelum melakukan apapun dengan teman sebaya. Bisa jadi, mereka tidak segan untuk saling berbagi minum dalam botol minum yang sama, bisa jadi mereka akan bermain dengan riang tanpa peduli bahaya corona yang mengancam, dan bisa jadi orang tua juga lengah karena anak-anak yang aktif bergerak. 

  Maka dari itu, pembukaan sekolah pantas disebut sebagai pemantik kluster kedua penyebaran COVID 19. Interaksi yang melibatkan banyak orang menggunakan protokol yang tidak menjamin, sementara peluang terburuk penularan dari hasil interaksi terbuka lebar patut diperhitungkan untuk mencegah pelonjakan kurva tingkat kedua. Karena mengingat fasilitas kesehatan yang kurang memadai dan tenaga medis yang mulai jatuh berguguran, penanganan akan semakin sulit jika kemungkinan terburuk itu akan terjadi. 

  Tapi begitulah kiranya wajah kapitalisme yang menyongsong paham liberalisme, lebih mengedepankan profit daripada kemaslahatan rakyat yang seharusnya diperjuangkan sesuai amanah. Kapitalisme yang sejak awal sudah dikuliti oleh kasus pandemi COVID 19 dan mengalami kebobrokan regulasi serta sistem, tidak mau terpuruk terlalu lama terutama dalam sektor perekonomian. 

Sehingga dengan adanya new normal yang ditandai pembukaan kegiatan sekolah, diduga kuat karena rezim saat ini terbukti tidak mampu memberikan tunjangan fasilitas selama proses pembelajaran secara daring. Tidak hanya itu, pembukaan sektor ekonomi melalui dalih new normal seolah memberi bukti bahwa kapitalisme lebih memilih untuk memperjuangkan perekonomian agar tidak anjlok daripada memperhitungkan nyawa generasi penerus bangsa yang beresiko tertular virus

  Solusi ditengah pandemi saat ini bagaikan berjalan dipinggir jurang. Salah sedikit akan menimbulkan akibat fatal karena menyangkut nyawa dan pertumbuhan generasi mendatang. Maka sudah sepatutnya solusi yang diberikan saat ini adalah solusi yang sesuai dan terbukti valid dalam menyelesaikan permasalahan krusial yang tidak hanya berlaku secara parsial. 

  Solusi islam menawarkan adanya solusi yang menyelesaikan permasalahan dengan tetap memperhatikan sisi kemanusiaan yang ada. Syariat islam memiliki tujuan untuk menjaga jiwa yang dalam hal ini syariat islam tidak akan membiarkan jutaan generasi penerus bangsa terancam keselamatan jiwanya melalui kebijakan yang sangat berisiko di tengah wabah. Sehingga kebijakan pembukaan sekolah bukan alternatif terbaik bagi seorang pemimpin di tengah wabah yang belum juga usai. Selain itu, sistem pendidikan yang dibentuk dalam daulah islam dirancang menjadi tangguh dalam kondisi apapun melalui tiga komponen yang menjadi pilarnya. 

Pertama, keluarga yang mampu berkontribusi mewujudkan pendidikan berkualitas dalam lingkup keluarga. Orang tua dapat menjadi pendidik pertama dan utama bagi anaknya saat di rumah. Sementara untuk saat ini, orang tua masih kurang menyadari peran sesungguhnya dalam memberikan pendidikan. Sehingga, saat terjadi pandemi yang mengharuskan pembelajaran di rumah tidak sedikit dan tidak jarang orang tua kebingungan dalam menerapkan metode dan kurikulum bagi anaknya.  

Kedua, masyarakat yang mendukung. Dengan adanya masyarakat yang mendukung maka proses pembelajaran akan lebih kondusif karena faktor eksternal yang berpeluang mengganggu proses pembelajaran anak dapat diminimalisir. Tapi nyatanya, saat ini banyak pengaruh buruk yang merebak di tengah masyarakat. Anak-anak yang melewati proses pembelajaran di rumah dapat terpengaruh temannya yang mungkin membawa dampak buruk seperti lebih sering mengajak bermain dan kurangnya kontrol masyarakat saat budaya buruk menyerang anak-anak.

 Ketiga, negara yang dapat menjamin hak semua warganya. Dalam daulah islam, negara akan menyiapkan segala sarana dan pra sarana yang dibutuhkan dalam proses pendidikan. Jika dalam pandemi saat ini yang mengharuskan proses pembelajaran di rumah, negara seharusnya menyiapkan kuota tunjangan secara cuma-cuma tanpa syarat agar pembelajaran dapat berlangsung secara maksimal. 

Tidak hanya itu, negara akan menyiapkan gaji atau upah atas jasa dan dedikasi seorang guru dengan nominal yang tinggi sehingga guru dapat menyusun formula pengajaran dengan maksimal karena merasa dihargai dengan gaji atau upah yang diterima. Semua itu ditopang dengan dana negara yang lebih dari cukup. Karena sumber pendapatan dalam negara daulah islam tidak hanya mengandalkan hutang dan pajak. Tapi dari olahan sumber daya alam, pos fai’, dan pos kharaj. Sehingga negara daulah islam memperoleh cukup dana untuk menunjang hajat hidup orang banyak yang berada di bawah naungannya.

Oleh: Vania Puspita Anggraeni (Mahasiswi Kampus Jember)

Posting Komentar

0 Komentar