Sekolah di Era New Normal, Akankah Anak jadi Tumbal?


Pemerintah, melalui Kemendikbud menyatakan sekolah akan dibuka bagi daerah yang sudah terkategori zona hijau, dengan tetap menjalankan protokoler Covid-19. Yakni penggunaan masker, duduk yang berjarak di dalam kelas, serta pengaturan jam sekolah sehingga bisa dilakukan dua satuan waktu agar kelas tidak terlalu penuh dan berdesakkan saat KBM dilaksanakan. 

Namun, kembalinya anak-anak masuk sekolah di era new normal menjadi polemik di tengah-tengah orang tua. Pasalnya, kebijakan ini dicetuskan ketika kurva penyebaran Covid-19 belum melandai dan jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi Covid-19 terus meningkat.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun merespon wacana pembukaan sekolah, seiring berakhirnya masa tanggap darurat Covid-19 serta berakhirnya pemberlakuan PSBB di sejumlah daerah hingga transisi new normal. Ketua Umum IDAI, Dr. Aman B Pulungan mengatakan IDAI telah melaksanakan deteksi kasus pada anak secara mandiri hingga 18 Mei 2020 lalu. Diketahui, yang terinfeksi Covid-19 berjumlah 584 anak dan 14 anak meninggal dunia. Sedangkan PDP anak sebanyak 3.324 dan 129 anak PDP meninggal dunia. Artinya, anak di Indonesia yang terinfeksi dan meninggal dibanding negara lain masih cukup tinggi. (Kompas.com, 31/5020)

Sementara itu Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengungkapkan hasil angket yang telah diunggahnya. Dari kalkulasi yang didapat, 80 % responden (orang tua) menolak sekolah dibuka kembali saat tahun ajaran baru meski dengan aturan normal baru. Mereka khawatir karena situasi pandemi yang masih belum menentu. Namun berbeda dengan hasil survei dari responden anak-anak yang menginginkan bisa kembali ke sekolah. Mereka diduga jenuh belajar di rumah dan ingin segera bertemu kembali dengan kawan-kawan di sekolah. 

Namun, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), penerapan protokol new normal di sekolah akan terkendala, karena akan sulit memantau anak-anak untuk tidak berkerumun atau untuk disiplin menggunakan masker. Walhasil kesehatan dan keselamatan nyawa generasi ini akan terancam jika siswa harus segera masuk sekolah meski dengan penerapan protokol new normal bidang pendidikan di masa pandemi ini.

Semuanya menjadi serba salah. Memang, belajar dari rumah bukanlah model pembelajaran terbaik. Siswa menjadi bosan, pusing dengan seabrek tugas yang diberikan guru, apalagi bagi siswa dengan berbagai keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Sementara masuk sekolah untuk melaksanakan pembelajaran secara langsung lebih besar lagi risikonya.

Namun, tetap saja pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyiapkan sejumlah skenario menyambut tahun ajaran baru pada 13 Juli 2020 mendatang. Dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Rabu (20/5) lalu, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan estimasi optimistis adalah membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli sesuai dengan kalender pendidikan dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Namun, jika kasus Covid-19 masih tinggi, maka pembelajaran jarak jauh untuk pendidikan PAUD, pendidikan dasar dan pendidikan menengah tetap dilanjutkan. 

Rupanya pemerintah tidak berupaya mengambil pelajaran dari pelaksanaan new normal di Korea Selatan (Korsel). Korsel yang notabene memiliki mekanisme penanganan pandemi Covid-19 yang lebih baik saja terbukti gagal menjalankan konsep tersebut. Kebijakan new normal yang diterapkan Korsel setelah kurva infeksi Covid-19 menurun nyatanya tidak bertahan lama. Begitu sekolah dibuka, 2 siswa langsung terinfeksi. 75 sekolah seketika memulangkan para guru dan ribuan siswanya. Dan pada 29 Mei 2020 lalu memaksa pemerintah Korsel memberlakukan kembali pembatasan sosial di beberapa wilayah.

Sama halnya dengan Prancis. Dilansir Anadolu Agency, dilaporkan setidaknya 70 kasus Covid-19 di kalangan siswa di kelas penitipan anak dan sekolah dasar ketika 1,4 juta anak kembali ke sekolah. Lebih dari 50.000 siswa sekolah menengah juga kembali ke sekolah pada Senin 18 Mei 2020, seminggu setelah pencabutan karantina nasional. Akhirnya sekolah pun ditutup kembali pasca terdeteksinya virus di kalangan anak sekolah.

Ini akibat dipaksakannya konsep new normal yang sejatinya adalah tuntutan para kapitalis pemilik modal yang tidak mau terus merugi. Semua sektor ekonomi, dari perdagangan, transportasi, jasa hotel, pariwisata dan lainnya harus segera diaktifkan. Akhirnya pendidikan pun terkena imbasnya untuk segera siap dibuka kembali. Maka generasi muda bangsa ini akan bertaruh nyawa jika new normal ini tetap diterapkan sebelum masa pandemi ini berakhir. Dengan memaksakan sekolah di era new normal, akankah anak jadi tumbal?

Padahal, Islam telah mengatur sejak awal bagaimana menangani wabah. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Namun akibat pengabaian penguncian areal wabah (lockdown), akhirnya banyak nyawa menjadi korban yang telah menyebar ke seantero dunia. Begitu pun di Indonesia, pemerintah enggan melakukan lockdown bahkan tetap menerima turis asing dan TKA (bahkan dari pusat wabah), maka seantero Indonesia pun terkena wabah virus mematikan ini. 

Seandainya dari awal kebijakan lockdown diterapkan, kebijakan kesehatan yang Islami juga dijalankan, sehingga mereka yang terjangkit virus corona benar-benar di karantina dan diberikan pelayanan kesehatan maksimal sampai sehat total, tentu masyarakat yang sehat tetap bisa beraktivitas. Kegiatan ekonomi masih bisa berjalan, sekolah pun tetap bisa dilaksanakan secara normal. 

Islam adalah satu-satunya solusi yang dapat mengatasi permasalahan negara dalam kasus corona ini. Selama pandemi anak-anak tetap wajib menuntut ilmu dengan dilaksanakannya sistem pembelajaran yang telah disiapkan oleh negara. Negara turut memberikan apresiasi terhadap para guru yang juga turut berjuang di tengah wabah. 

Maka, idak ada lagi sekolah-sekolah yang dilema agar sistem pembelajaran di rumah dapat dilakukan dengan baik, guru-guru tetap mendapatkan haknya, anak-anak dapat belajar dengan nyaman tanpa stres dan orang tua tidak perlu dilema dengan tugas sekolah yang menggunung tinggi. Ekonomi tetap berjalan sebagaimana mestinya, tidak ada rakyat yang kelaparan di tengah pandemi ini. []

Oleh Husna
Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar