TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Satu Tahun Penjara untuk Pelaku Penyiram Air Keras Novel Baswedan: Inikah Wajah Demokrasi?


Dua penyerang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan hanya dituntut 1 tahun penjara. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Jakarta Utara menjelaskan alasannya karena kedua terdakwa telah meminta maaf dan menyesali perbuatan.

Novel Baswedan sendiri saat dihubungi mengaku prihatin terhadap tuntutan ringan tersebut. Novel pun mengaku sebagai korban mafia hukum. Novel menilai sejak awal tahu bahwa persidangan tersebut sekadar formalitas. "Mau dibilang apa lagi, kita berhadapan dengan gerombolan bebal," kata Novel.(republika.co.id, 11/6/2020)

Bayangkan seorang Kompol. Novel Baswedan dimana beliau adalah seorang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia adalah cucu dari Pahlawan Nasional Abdurrahman Baswedan, dan sepupu dari Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Bisa mendapatkan keputusan hukum semacam ini. Apalagi keadilan hukum bagi rakyat jelata yang mungkin tetangganya sendiri tak mengenalnya lantaran tingginya tembok tetangga.

Secara fitrah, setiap manusia menyukai keadilan dan membenci kezaliman. Secara fitrah pula, manusia akan berpihak pada pelaku keadilan dan bersimpati kepada orang yang terzalimi.

Maraknya kriminalitas di negara ini merupakan makanan sehari hari, hampir setiap hari ada saja berita kriminalitas berjejer baik di media televisi ataupun media sosial. Lebih lebih menjelang lebaran. Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan, pada pekan ke-19 yang dimulai pada 4 Mei hingga 10 Mei, Polri mencatat ada 3.481 kejahatan.(jpnn.com, 18/5/2020)

Kenapa hal ini terjadi?. Masalahnya adalah karena sistem yang diterapkan saat ini adalah sistem sekuler. Bahwa agama tidak memiliki tempat di ruang publik. Agama cukuplah ada di benak individu-individu saja tak boleh mengurusi urusan umat apalagi urusan negara. Jadilah dinegeri yang mayoritas muslim namun tidak menjadikan islam sebagai norma dalam kehidupan. Islam tidak dijadikan pedoman dalam aturan bertingkah laku, berbangsa dan bernegara.

Dampaknya terlihat nyata dalam aspek pendidikan. Sistem pendidikan di negeri ini digiring ke arah sekulerisme sistem ini menjamin kebebasan beragama berbicara dan bertingkah laku tanpa batasan yang jelas. Generasi muda digiring Untuk jauh dari aturan agamanya. Maka wajar jika dinegeri ini rame tawuran, geng motor, pergaulan bebas, narkoba yang seringkali berujung kepada perbuatan kriminalitas yaitu pencurian, penjambretan bahkan pembunuhan.

Dalam sistem sekuler Tingginya tingkat kriminalitas menjadi sebuah hal yang lumrah. Sementara dalam ideologi Islam agama dan kehidupan adalah menyatu tidak bisa dipisahkan.

Khilafah Islamiyah sebagai institusi penjaga kaum muslimin akan menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Semua kemaksiatan terhadap aturan Allah merupakan tindakan kriminal. Maka Khilafah Islam akan memberantas segala bentuk tindakan kriminal tersebut.

Pemberantasan tindak kriminal oleh Khilafah secara umum mencakup 2 hal:

PERTAMA, pencegahan tindak kriminal dengan penerapan syariat Islam di tengah kehidupan. Berikut upaya-upaya preventif yang dilakukan:

Pertama, dengan menanamkan akidah islam kepada setiap individu melalui berbagai sarana media termasuk sistem pendidikan yang Islami kepada generasi. Dengan demikian mereka akan memahami bahwa diri mereka adalah seorang muslim bukan sekuler, komunis atau yang lainnya. Akidah islam inilah yang kemudian akan menjadi landasan dalam berfikir atau menilai segala sesuatu tentang hakikat benar dan salah sesuai syariat islam.

Kedua, negara menjamin syariat islam selalu diterapkan dalam segala aspek kehidupan.

Ketiga, pengkondisian masyarakat agar tidak terbawa arus yang salah. Khilafah akan mencegah masuknya pemikiran dan budaya asing yang akan merusak pemikiran umat.

KEDUA, penjatuhan sanksi hukum bagi orang yang melakukan tindak kriminal. Khilafah melalui sistem peradilan islam akan bertindak seadil adilnya berupa penjatuhan sanksi hukum bagi semua pelaku tindak kriminal tanpa memandang bulu. 

Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menceritakan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib ra suatu ketika menemukan baju besinya ada pada seorang Nasrani (dalam riwayat Abu Nuaim di dalam Hilyah al-Awliya adalah seorang Yahudi). Lalu keduanya mengajukan perkaranya kepada Qadhi Suraih. 

Saat itu Qadhi Suraih menanyakan kepada Ali apakah ada bukti? Ali menjawab bahwa ia tidak punya bukti. Dalam riwayat Abu Nuaim, Ali mengajukan dua orang saksi, Qanbar, mawla-nya dan Hasan bin Ali, putranya. Qadhi Suraih menerima kesaksian mawla itu, namun menolak kesaksian al-Hasan. 

Akhirnya, Qadhi Suraih memutuskan baju besi itu untuk orang Nasrani (atau Yahudi) itu. Menerima putusan demikian, orang itu berkomentar, bahwa sungguh itu merupakan hukum para nabi. Amirul Mukminin berperkara dengan dirinya di hadapan qadhi-nya. Lalu qadhi-nya memutuskan vonis yang mengalahkan Amirul Mukminin dan Amirul Mukminin ridha. Menyaksikan demikian, orang itu pun masuk Islam.

Inilah keadilan dan keindahan syariat Islam. Memberikan perlindungan yang nyata dan sebenar-benarnya tanpa basa-basi dan berat sebelah. Bukan keadilan semu yang dibalut oleh kepentingan kekuasaan dan manuver politik atau seperti kata bang Novel Baswedan atas kasusnya bahwa keadilan hanya sebagai sekedar formalitas saja. Jangan berharap keadilan bisa ditegakkan di negeri ini selama asas negara dan masyarakat masih keuangan yang maha kuasa artinya asas materi diatas segalanya bukan ketuhanan yang maha kuasa (landasan iman).

Adapun Qadhi (hakim) dalam negara khilafah akan memutuskan perkara dengan syariah Islam dan dia memiliki integritas atas dasar iman dan rasa takut akan azab neraka di akhirat, pasti dia akan memutuskan perkara secara adil.

Dalam hal ini secara lebih khusus seorang qadhi (hakim) harus senantiasa mengingat peringatan Rasul Saw:

«الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ رَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ، فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ، فَلَمْ يَقْضِ بِهِ، وَجَارَ فِي الْحُكْمِ، فَهُوَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ لَمْ يَعْرِفِ الْحَقَّ، فَقَضَى لِلنَّاسِ عَنْ جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ»

Qadhi (hakim) itu ada tiga. Dua di neraka dan satu di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran dan memutuskan dengan kebenaran itu, dia di surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran, tetapi tidak memutuskan dengan kebenaran itu dan bertindak jahat dalam hukum (putusan), dia di neraka. Seseorang yang tidak mengetahui kebenaran lalu dia memutuskan untuk masyarakat tanpa ilmu, dia pun di neraka.” (HR al-Baihaqi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

Di sisi lain, dengan penerapan syariah Islam secara kaffah, suasana keimanan terbangun dan melingkupi masyarakat. Dengan itu semua orang yang terlibat dalam perkara, baik yang menuntut, yang dituntut serta orang yang membantu keduanya, termasuk pengacara, tidak lepas dari suasana keimanan dan rasa takut kepada Allah SWT. Dengan demikian motivasi dalam berperkara bukan yang penting menang, meski dengan segala cara. Akan tetapi, semuanya karena mendambakan terwujudnya keadilan.

Rasulullah SAW bersabda,
"Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’” (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688)

Dengan demikian pelaksanaan sistem hukum Islam termasuk sanksi sanksinya ditentukan oleh dorongan ketakwaan kaum muslimin dan ketegasan pemimpin negara di dalam menjalankan sistem hukum Islam.

Semua ini tentu memerlukan eksistensi masyarakat Islam yang memiliki ketakwaan tinggi yang berada di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang menjalankan sistem hukum Islam secara total.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar