Salah Latah Soal New Normal: untuk Apa dan demi Siapa?


Sejak pelonggaran PSBB diberlakukan di berbagai kota kemudian disusul kebijakan new normal (normal baru), kita menyaksikan sebagian kalangan masyarakat begitu euforia menyambutnya. Seolah, virus Covid-19 telah tiada. Jalanan dan tempat-tempat umum kembali ramai dikunjungi. Dan tidak semua dari mereka  memiliki kesadaran menerapkan protokol kesehatan.Terjadilah kerumunan, tidak semua memakai masker, jaga jarak tak lagi dipedulikan. 

Sebagiannya, beraktivitas keluar rumah karena terpaksa dalam rangka mencari penghidupan demi dapur keluarga agar tetap "ngebul." Bahkan ada yang berprinsip lebih baik keluar rumah 'bertarung' dengan Corona, daripada di dalam rumah terancam mati kelaparan. Di tengah situasi ekonomi yang masih lesu, banyak perusahaan tutup, PHK dan pengangguran meningkat,  kesehatan jiwa  terganggu, kasus KDRT tinggi, dst. 

Padahal hingga kini,  kurva penularan Covid-19 di Indonesia belum melandai, belum mencapai puncaknya dan masih terbilang terus bergerak menanjak. Hingga Selasa (23/6/2020), pasien positif mencapai 47.896 orang, bertambah 1.051 dari hari sebelumnya. Sementara jumlah pasien sembuh bertambah 506 orang, sehingga total pasien sembuh ada 19.241 orang. Sedangkan  pasien yang meninggal bertambah 35 orang, sehingga total ada 2.535 pasien Covid-19 meninggal. Patut diduga, kondisi normal baru ikut menyumbang bertambahnya pasien positif setiap harinya.


Salah Latah Soal New Normal 

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, normal baru adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, tapi ditambah dengan penerapan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Prinsip normal baru adalah bisa menyesuaikan dengan pola hidup. Menurutnya, transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya hingga ditemukannya vaksin untuk Covid-19.

Untuk membiasakan masyarakat, Tim Gugus Tugas telah siap meracik gerakan bertajuk empat sehat lima sempurna. Gerakan ini tidak sama dengan pola konsumsi makanan yang sudah ada sebelumnya. Ini lebih ditujukan pada pencegahan penularan virus corona. Empat sehat yang dimaksud adalah memakai masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan, serta istirahat yang cukup dan tidak panik. Makan bergizi menjadi bagian lima sempurna.

Namun, menjadi hal penting untuk memahami asal-usul istilah normal baru agar kita tidak terjebak pada sikap latah, bahkan salah kaprah. Terlebih saat istilah ini diadopsi dan diberlakukan oleh negara,  jangan sampai kelatahan ini menjadi indikasi tidak mandirinya penguasa dalam menyelesaikan persoalan bangsa. 

The New Normal (Normal Baru) adalah istilah yang didengungkan oleh masyarakat ekonomi dunia, pertama kali digunakan untuk menunjukkan perubahan perilaku bisnis dan politik akibat krisis ekonomi tahun 2007-2008. Tercatat dalam sejarah, yang mempopulerkan istilah tersebut adalah seorang aktivis bernama Paul Glover, walaupun tampaknya bukan dia penemu asli istilah tersebut.

Istilah normal baru diadopsi dalam Pemilihan Presiden AS tahun 2012 merujuk  perubahan perilaku akibat Era Disrupsi (krisis finansial, fluktuasi harga minyak dan perang dagang timur barat). Istilah ini muncul lagi untuk menunjukkan perubahan perilaku manusia akibat pandemi Covid-19, digunakan pada waktu Seminar Dampak Covid-19 di Texas University. 

Normal baru menggunakan variabel-variabel ekonomi dan sosiohuman behaviour (perilaku sosial manusia) sebagai jangkar untuk mengatasi multiplier effect dari stucknya pergerakan ekonomi akibat kebijakan lockdown/PSBB/karantina negara dan wilayah yang dimaksudkan untuk membatasi dan mematikan penyebaran virus Corona dari dan keluar wilayah.

Ketika suatu negara  merencanakan melakukan gerakan normal baru pada kondisi pandemi Covid-19, pertimbangan utama tentu saja adalah terjadinya tren penurunan kasus baru, pelandaian grafik penyakit, peningkatan angka kesembuhan dan penurunan kasus kematian. 

Akan menjadi tanda tanya besar ketika suatu negara sudah melakukan ancang-ancang melakukan  strategi normal baru, pada saat semua indikator epidemiologi (penurunan insidens, penurunan mortalitas, penurunan morbiditas, peningkatan angka recover) kasus Covid-19 belum sedikitpun menunjukkan angka perbaikan. Sebagaimana yang tengah terjadi di negeri ini. Jadi, sebenarnya istilah normal baru terminologinya tidak tepat digunakan bagi bencana kesehatan dan kemanusiaan seperti Covid-19 ini. 


Kebijakan Normal Baru: untuk Apa dan demi Siapa? 

Ketika kebijakan normal baru dipaksakan berlangsung, sementara prasyarat yang harus dilewati seperti: telah terjadi perlambatan kasus, optimalisasi PSBB  sudah dilakukan, masyarakat lebih waspada, pemerintah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung normal baru, ini semua belum terpenuhi, wajar jika banyak kalangan mempertanyakan, sebenarnya normal baru ini untuk apa dan demi  siapa?

Beberapa analis politik dan kebijakan publik menilai bahwa normal baru tak lepas dari kepentingan (tuntutan) kapitalis (pengusaha kelas kakap) dan para pemilik modal yang tidak mau terus-terusan merugi akibat masyarakat melakukan karantina mandiri di rumah. Mereka para pemilik mall, jaringan hotel besar, maskapai penerbangan, migas, dst. yang berusaha menghidupkan lagi usahanya. Para analis menduga kuat bahwa, para kapitalis ini tinggal menekan para penguasa untuk menyegerakan terjadinya normal baru. Toh mereka dulu bisa naik tahta karena jasa dan atas dukungan para pengusaha. 

Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi "perselingkuhan" antara penguasa dan pengusaha dalam penerapan demokrasi saat ini. Untuk bisa berkuasa, calon penguasa membutuhkan dukungan dana yang luar biasa dari pengusaha. Saat kekuasaan telah di tangan, pengusaha menagih balas jasa agar bisnisnya kian meraja dengan pembuatan kebijakan/UU. Bahkan banyak pengusaha yang merangkap menjadi penguasa itu sendiri.

Demokrasi bak macan ompong. Tak ada lagi kedaulatan rakyat. Yang ada adalah kedaulatan konglomerat. Bukan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi dari dari, oleh dan untuk konglomerat. Ini menjadi bukti bahwa demokrasi bukanlah harga mati, tapi justru menuju kematian dengan eksisnya oligarki (sistem pemerintahan yang dikuasai oleh beberapa orang/kalangan tertentu). 

Inilah realitas yang ada di alam kehidupan yang diatur oleh sistem hidup kapitalisme sekular. Di tengah pandemi Covid-19 yang mengancam jiwa rakyat, berbagai kebijakan yang dibuat, tak lagi mempertimbangkan keselamatan/nyawa rakyat, tetapi berdasar untung-rugi yang didapat oleh penguasa dan kroninya. Nampak bahwa yang menjadi landasan kebijakan adalah masalah ekonomi, uang dan investasi. 

Ekonomi memang penting. Akan tetapi nyawa manusia tentu lebih penting lagi. Jika manusia masih hidup, maka masalah ekonomi akan dicari solusinya. Tapi jika manusia banyak yang mati, apakah bisa menghidupkan ekonomi. 

Kita patut mengapresiasi ungkapan Presiden Ghana yang viral beberapa waktu lalu. "Kami tahu cara menghidupkan kembali ekonomi. Yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan kembali orang yang mati," ungkap beliau. 

Apalagi dalam Islam, nyawa seorang manusia begitu berharga dan sangat dijaga eksistensinya. Di sisi Allah Swt, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya daripada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani)


Hidup Harmoni dalam Normal Baru Hakiki 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB)I, normal artinya sesuai keadaan yang biasa, tanpa cacat, tanpa kelainan. Meski saat ini istilah normal baru disosialisasikan dan  masyarakat diajak untuk menjalaninya, bukan berarti keadaan di sekitar kita betul-betul normal. 

Apakah hidup berdampingan dengan virus itu normal? Bahkan beberapa waktu lalu kita diseru agar bersahabat dengan Corona. Dan ada yang menganalogikan Corona sebagai istri. Normalkah? Saat kita keluar rumah dengan perasaan deg-degan, khawatir tertular virus dari orang lain, apakah itu normal? 

Jika bicara normal atau abnormal kehidupan umat Islam selama ini, maka jika kita standarkan dengan ajaran Islam, jelas kehidupan umat hari ini berada dalam keadaan abnormal alias tidak normal. Mengapa? Karena umat Islam hidup tidak sesuai fitrah kemanusiaannya, memuaskan akal sehat dan menenteramkan hati. Sebagai hamba Allah Swt yang diliputi kelemahan dan kealpaan, dipenuhi oleh nafsu dan syahwat, akan sulit bagi manusia membuat aturan yang objektif dan benar untuk diri mereka sendiri. 

"Wajar" jika dari penerapan aturan manusia yang mewujud dalam sistem sekularisme kapitalis liberal saat ini, muncul berbagai jenis kemaksiatan dan keburukan. Korupsi, suap, gaul bebas, narkoba, dst. Hingga kini, kondisi abnormal masih terus berlangsung seiring masih eksisnya sistem hidup sekularisme, sebuah aturan hidup yang menempatkan Islam sebatas agama ritual dan meminggirkannya dalam berbagai lini kehidupan. Jadi, kondisi sekarang lebih tepatnya disebut sebagai new abnormal (abnormal baru).

Jika kita menginginkan hidup normal sebagai seorang muslim, baik sebagai individu, dalam lingkup keluarga, masyarakat, bahkan tatanan negara, maka tak ada pilihan lain kecuali kembali kepada penerapan aturanl Allah Swt. Karena Allah telah menurunkan syariat Islam agar kehidupan  manusia terlaksana secara normal, tanpa cacat atau kelainan sesuai standar Allah dan Rasul-Nya. Sebagai wujud Ar Rahman Ar Rahiim Allah kepada makhluk-Nya. Inilah normal baru hakiki yang didamba semua insan sejati.

Aturan Islam mampu membawa pada kehidupan yang normal karena pertama, sesuai dengan fitrah manusia. Kedua, memuaskan akal sehat. Ketiga, menenteramkan hati. Coba bandingkan dengan situasi kehidupan saat ini ketika umat Islam jauh dari aturan Allah. Kesejahteraan hanya milik kaum berpunya. Keadilan adalah mimpi karena prakteknya senantiasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Bahkan suara-suara umat Islam yang kritis, menuntut pada kebenaran pun kian terabaikan.

Sementara, dengan segala kebaikannya, syariat Islam telah teruji dipraktikkan selama lebih dari 1300 tahun, sejak Rasulullah Saw membangun masyarakat Islam yang pertama di Madinah Munawaroh, dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, hingga kekhilafahan terakhir yaitu Utsmaniyah pada tahun 1924.

Apalagi dengan adanya pandemi ini, Allah Swt telah menampakkan kelemahan sistem buatan manusia (kapitalisme sekular) yang terbukti gagal menyelesaikan masalah pandemi. Kita saksikan, semua negara kapitalis tengah "ngos-ngosan" bahkan kolaps menghadapi Corona, meski mereka memiliki banyak senjata.

Semoga penerapan syariat Islam kaffah akan berlangsung tak lama lagi. Inilah yang akan mewujudkan kondisi normal baru hakiki yang mencipta hidup harmoni.[]

Oleh: Puspita Satyawati, S. Sos
Analis Politik dan Media dan Dosol UNIOL 4.0 Diponorogo

Posting Komentar

0 Komentar