TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Saatnya Hidup Normal?


Masih seputar Covid-19, kali ini Indonesia menjadi sorotan Media Asing dalam hal kebijakan “New Normal Life”. Asia Times menyebutkan kebijakan New Normal Indonesia ‘sedang dalam bencana’ dalam artikel yang berjudul Indonesia’s ‘new normal’ a disaster in the making. “Kemampuan Indonesia untuk mengatasi krisis ekonomi dan kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh Covid-9 selalu menjadi hal yang sulit.” Tulis Asia Times pada artikel yang diterbitkan tanggal 8 Juni 2020. 

Dikutip dari suara.com 10/6/2020 “Menurut Dr.Corona Rintawan, mantan anggota Satuan Tugas Nasional Covid-19 Indonesia, mengatakan pada Asia Times bahwa tanpa peraturan dan sanksi yang jelas tentang kebijakan “New Normal Life” akan menjadi masalah besar saat membuka kembali sektor perekonomian. Terlebih dengan mengabaikan saran ahli ilmiah yang memperingatkan pemerintah agar tidak meremehkan skala infeksi, kematian, dan kemungkinan adanya gelombang kedua Covid-19.

Sementara itu, sebuah survei dan penelitian yang dilakukan Deep Knowledge Group, sebuah konsorsium perusahaan dan organisasi nirlaba melaporkan, 100 negara yang dianggap paling aman di dunia dari infeksi virus corona jenis baru (Covid-19). Dalam daftar tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke-97.

Sebagaimana diberitakan detiknews.com 17/6/2020, kasus positif virus Corona di tanah air bertambah 1.031  sehingga total menjadi 41.431. DKI Jakarta dan Jawa Timur masih menjadi wilayah dengan kasus virus Corona terbanyak di Indonesia.

Jika diingat sekitar akhir bulan Mei kemarin, cuitan Aditya C. Janottama, salah satu dokter di RS rujukan di Surabaya banyak diperbincangkan di media sosial. Dokter ini menyampaikan jika kesulitan untuk merujuk pasien Covid-19 ke RS rujukan yang lebih besar. “Pengalaman kami merujuk pasien itu selalu ditolak di rumah sakit-rumah sakit lain dengan alasan penuh”. (27/05). Alasan penolakan bermacam-macam. Mulai dari kurangnya tenaga perawat sampai kurangnya tempat tidur pasien. “(Saat ini) sudah ada 5 pasien di RS saya tidak dapat bed. Nggak dapat rujukan,” katanya.

Inilah kondisi terkini penanganan pandemi wabah corona di Indonesia. Disaat para ahli telah menyampaikan bahwa belum saatnya “New Normal Life” diberlakukan, namun sayangnya pemerintah mengambil langkah yang berseberangan dengan pendapat para ahli. Bahkan pemerintah telah merilis beberapa skenario “New Normal Life” untuk PNS, karyawan swasta hingga pegawai BUMN. 

Mirisnya, gagasan “New Normal Life” ini tidak diiringi dengan optimalisasi penanganan wabah dari sisi kesehatan. Curahan hati tenaga medis yang langsung berada di lapangan, sungguh menguak berbagai kondisi ketidaksiapan pemerintah untuk mengurangi laju virus Corona.

Selain itu, masyarakat masih belum mempunyai pemahaman yang sama terkait protokol kesehatan Covid-19. Anggapan yang penting sudah memakai masker, masih menjadi pemikiran yang umum dilakukan masyarakat. Sehingga wajar, kita lihat terkait jarak fisik juga jelas-jelas diabaikan. Belum lagi tentang protokol harus sering mencuci tangan dengan sabun, yang seiring waktu akan mudah dilupakan. 

Hendaknya pemerintah meninjau ulang keputusan untuk pemberlakuan “New Normal Life”. Kondisi di Indonesia jelas berbeda dengan negara-negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan aturan pembatasan sosial yang tegas dan didukung oleh masyarakatnya yang melakukan aktivitas di rumah saja.

Apalah gunanya ekonomi masyarakat yang produktif, namun akan berdampak pada lebih banyak nyawa dan kesehatan yang tergadaikan. Masyarakat hanya butuh jaminan yang manusiawi sebagaimana normalnya kehidupan. Yaitu jaminan kebutuhan dasar baik itu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Yang mana semua kebutuhan dasar tersebut adalah menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai pengurus dan pelindung masyarakat. 

Maka dari itu, pandemi wabah Covid-19 ini seharusnya mengingatkan kita agar bersama-sama melakukan taubatan nasuha dari segala macam kemaksiatan. Dan sesegera mungkin untuk mengambil syariah Islam sebagai obat untuk menyembuhkan wabah yang dahsyat ini. Hingga kita bisa hidup normal kembali sesuai fitrahnya, yaitu dengan ketundukan yang totalitas kepada Allah Ta’ala.

Dengan Islam, maka jaminan akan kelangsungan nyawa manusia akan benar-benar bisa diwujudkan. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw, “Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR. an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Semoga umat manusia mendapatkan hikmah dari musibah pandemi wabah ini, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih sabar kala menghadapi wabah. “Siapa saja yang menyadari bahwa setiap bencana (musibah) pasti akan berakhir, ia akan benar-benar sabar saat bencana itu turun” (Imam al-Mawardi, Adab ad-Dunya’ wa ad-Din, 1/370). Wa ma taufiqi illa billah.[]

Oleh Dahlia Kumalasari

Posting Komentar

0 Komentar