RUU HIP yang Menuai Polemik di Masyarakat


Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) tengah menjadi sorotan dan memicu sejumlah tanggapan dari beberapa tokoh dimasyarakat, dari politisi hingga tokoh agama. Salah satunya dari tokoh agama Kalsel yaitu Habib Abdurahman Bahasyim. Beliau adalah Anggota Komite I DPD RI dan sering disapa Habib Banua. Beliau  menyerukan penolakan terhadap RUU HIP sebab tak mencantumkan TAP MPRS Nomor 25/MPRS/1966 tahun 1966 tentang Pembubaran Komunis Indonesia (PKI). Sesuai aspirasi  yang berkembang di masyarakat, Habib Banua tersebut  menyatakan diri siap memimpin ribuan massa untuk turun ke jalan dalam rangka menolak RUU HIP (apahabar.com, 13/06/20).

Tanggapan juga datang dari politisi PDI-P. Dalam rilis resminya, kader serta elit PDI-P secara tegas tak akan mengakomodir ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dalam RUU tersebut. Anggota DPR RI Fraksi PDI-P, Rifqinizamy Karsayuda, mencontohkan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila seperti  marxisme-komunisme, kapitalisme-liberalisme, serta radikalisme (kalsel.antaranews.com, 15/06/20)

Lalu apa itu RUU HIP? melansir  dari Catatan Rapat Badan  Legislasi Pengambilan Keputusan Atas Penyusunan Rancangan Undang-Undang Tentang Haluan Ideologi Pancasila tanggal 22 April 2020, RUU HIP adalah RUU yang diusulkan oleh DPR RI dan disebut telah ditetapkan dalam Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2020 (kompas.com, 17/06/20).

Berdasarkan catatan rapat tersebut, dikatakan bahwa saat ini belum ada undang-undang sebagai landasan hukum yang mengatur mengenai Haluan Ideologi Pancasila untuk menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga diperlukan Undang-Undang tentang Haluan Ideologi Pancasila (kompas.com,17/06/20).

RUU tersebut menjadi polemik di masyarakat, sebab draf  RUU tersebut memuat klausul Trisila dan Ekasila di dalam salah satu pasalnya. Dilansir dari draf RUU tersebut, konsep Trisila dan Ekasila tertuang dalam pasal 7 dan memuat 3 ayat. Banyak kalangan berpendapat, konsep pancasila menjadi Trisila dan Ekasila merupakan sebuah bentuk pengkhianatan terhadap bangsa dan Negara (kompas.com, 17/06/20).

Selaras dengan pendapat dari para tokoh masyarakat, RUU HIP merupakan sebuah bentuk pengkhianatan terhadap para pendiri bangsa ini. Pancasila lahir dari para perjuangan para tokoh nasional negeri ini. Jika nilai-nilai Pancasila tersebut diperas menjadi Trisila dan Ekasila dengan menghilangkan satu atau dua sila lainnya, tentu ini sebuah pengkhianatan. Apalagi jika yang dihilangkan adalah sila pertama, tentu ini menjadi gerbang masuknya para komunisme, yang tak mengakui adanya Tuhan, dan jelas ini akan menjadi kediktatoran bagi penguasa terhadap rakyatnya. 

RUU HIP ini juga menunjukkan jika sejatinya para penguasa negeri hari ini, telah menjauh dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Ini menjadi wajar, ketika kapitalisme serta sekulerisme telah nyata menjajah negeri ini lewat berbagai kerjasama dengan pihak asing-aseng. Bisa dipastikan juga jika RUU tersebut akan memuat kepentingan-kepentingan serakah para pemburu harta dan tahta.

Sejauh inipun banyak kebijakan bersumber dari konsep kapitalisme, dimana kebijakan tersebut tidak bisa memberikan kesejahteraan secara utuh untuk masyarakat. Bahkan lebih menguntungkan para pemilik modal. Pancasila yang dipandang sebagai pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara, nyatanya tidak dipakai secara utuh oleh para pembuat kebijakan saat ini.

Islam pun secara tegas juga menentang konsep marxisme-komunisme, kapitalisme-liberalisme-sekulerisme dan radikalisme-terorisme. Islam bukan sekedar agama tapi juga pandangan hidup manusia. Dalam islam, berbagai aspek ada aturannya. Dimana aturan tersebut bersumber dari Allah yang Maha Kuasa. Konsep islam, jika diterapkann secara benar dan komprehensif akan mengantarkan umat kembali bangkit, menjadikan negeri ini hidup penuh dalam keberkahan karena penerapan aturan Allah dimuka bumi. 

Lewat RUU HIP ini, membuka mata kita akan kebobrokan sistem hari ini, yang jauh dari aturan Allah. Maka wajar kekacauan terjadi dimana-dimana, ditambah lagi dengan penanganan pandemi COVID-19 yang kurang maksimal sehingga menimbulkan banyak korban. Maka apakah kita akan terus bertahan dengan ini semua ? tentu kita menginginkan perubahan, perubahan hakiki yang membawa pada kemenangan sejati bagi umat saat ini. Wallahu’alam.[]

Oleh Sarinah A
Pegiat Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar