TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Rohingya Ditendang, China Diundang


Menyikapi terdamparnya 94 warga negara asing (WNA) diduga etnis Rohingya di pesisir Pantai Seunuddon, Aceh Utara, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak otoritas setempat agar segera memberi perlindungan terhadap mereka.

Namun, kabar terakhir yang diterima KontraS, Pemerintah Aceh Utara menyatakan tidak dapat menerima para pengungsi tersebut.

Kapal yang sempat mendarat itu lantas akan didorong kembali ke tengah laut setelah dilengkapi logistik. Pemerintah beralasan, situasi pandemi Covid-19 membuat mereka perlu mewaspadai kedatangan etnis Rohingya.(liputan6.com, 26/6/2020)

Secara umum, umat Islam-lah yang paling banyak berstatus menjadi pengungsi tersebar di seluruh dunia. Dari Afrika hingga Asia, sebagian menjadi pengungsi dengan ancaman yang setiap saat mengintai nyawa mereka.

Para pengungsi muslim Rohingya adalah contoh yang paling jelas. Menjadi orang-orang yang paling dipersekusi di dunia, genosida terhadap muslim Rohingya membuat mereka berlarian meninggalkan kampung halaman.

Sebagai rakyat Indonesia, saya bangga dan terharu dengan aksi solidaritas rakyat Aceh yang dengan segera mengevakuasi WNA di kapal tersebut setelah 3  Anak Buah Kapal (ABK) Aceh yang tengah melaut melihat sebuah kapal barang yang nyaris tenggelam tak jauh dari lokasi mereka. Masyarakat Aceh tanpa banyak kata, mereka telah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka berketuhanan yang Mahaesa dan berperikemanusiaan. Seharusnya tak perlu menjadi orang Aceh untuk dapat menolong pengungsi Rohingya tapi cukuplah menjadi manusia yang punya hati.

Namun apa yang terjadi? Alih alih menerima para pengungsi, pemerintah Aceh Utara menyatakan tidak dapat menerima dengan beralasan situasi pandemi Covid-19 sehingga perlu mewaspadai kedatangan etnis Rohingya.

Padahal kalau alasannya Covid-19, pemerintah bisa menerapkan protokol kesehatan dan menyiapkan tempat karantina, dan bukankah di Langsa sudah ada tempat penampungan?

Secara logika kesehatan, pengungsi Rohingya tidak mungkin membawa virus Covid-19. Karena mereka tidak melakukan kontak fisik dengan siapapun selama berminggu-minggu. Kalaupun masih ada keraguan, negara dan daerah bisa menyediakan tes swab demi menjamin keamanan rakyat dalam negeri. 

Tentu saja alasan Covid-19 tidak dapat diterima masyarakat karena mereka mengetahui bahwa selama ini pusat dan daerah justru mempersilahkan TKA asal China untuk masuk ke Sultra. Padahal jelas China merupakan negara asal dari virus Covid-19.

Dilansir dari cnnindonesia.com 23 Juni 2020 sebanyak 156 tenaga kerja asing (TKA) asal China tiba di Bandar Udara Haluoleo Kendari, Selasa (23/6). Kedatangan mereka langsung mendapat pengawalan ketat aparat TNI dan Polri.
Di tengah gelombang demo warga di sekitar bandara, rombongan TKA ini turun sekira pukul 20.30 WITA menggunakan pesawat Lion Air. Para TKA kemudian diarahkan melewati pintu keluar khusus.

Masih dalam pengawalan ketat, para TKA dibariskan satu per satu lalu masuk dalam mobil sedang. Setiap mobil mengangkut enam orang TKA China.

Tak ada pemeriksaan terhadap identitas para TKA ini. Sebelum diberangkatkan ke Morosi Kabupaten Konawe, rombongan mobil lebih dulu dibariskan sambil menunggu seluruh TKA masuk dalam mobil

Lihatlah bagaimana kontrasnya respon penguasa atas pengungsi Rohingya dan TKA asal China. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia sedang tunduk kepada asing dan aseng, demi kelancaran investasi asing, kemudahan utang ekonomi luar negeri dan perputaran roda perekonomian. Pemerintah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan undang-undang yang telah dibuat sendiri.

Merujuk pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri dimana Indonesia telah komitmen memberikan perlindungan, baik ketika pengungsi ditemukan, memberi pengamanan, serta pengawasan bersama lembaga domestik dan internasional.

Aturan tersebut juga merupakan manifestasi dari Pasal 28 G UUD 1945, yang salah satu poinnya kurang lebih menjelaskan bahwa setiap orang berhak atas rasa aman, serta perlindungan dari ancaman ketakutan. 

Cengkeraman hutang riba luar negerilah yang telah membuat Indonesia tidak memiliki kedaulatan penuh dan kemandirian baik secara politik maupun ekonomi. Adapun suara rakyat hanyalah suara tanpa makna yang nyaris tak terdengar di ruangan anggota dewan kehormatan. Karena hanya ada suara para pemilik modal.

Gonjang-ganjing politik hanya menambah kepedihan kaum Muslimin yang selama ini sudah menderita dalam pengungsiannya. Jumlah mereka tersebar di seluruh dunia, dari Afrika hingga Asia, termasuk di Indonesia. Jargon humanisme universal ala barat terbukti tak berdaya di hadapan tekanan dan tawar-menawar politik.

Terlebih kini nasionalisme negara bangsa di Eropa menunjukkan sisi gelapnya dengan tidak mengakui hak-hak para pengungsi secara layak sebagai manusia. Mengusir mereka karena dianggap sebagai tamu tak diundang. Padahal dahulu para negara-negara Barat-lah yang datang sebagai tamu tak diundang ke negeri-negeri Asia dan Afrika di bawah kibaran bendera kolonialisme.

Dunia Butuh Khilafah

Semua realitas di atas menambah daftar panjang betapa besar penderitaan umat Islam sekarang. Sebab Rohingya tak sendirian. Nasib serupa juga dialami oleh Muslim Pattani Thailand, Moro Philipina, Palestina, Suriah, Uighur dan lain-lain. Semua penderitaan kaum Muslim ini semakin meneguhkan kesimpulan tentang betapa butuhnya umat terhadap Khilafah.

Mengapa Khilafah? Tentu karena umat Islam di berbagai wilayah mengetahui bahwa keselamatan mereka hanya ada pada Islam, juga pada kekuasaan Islam (Khilafah). Sebab Khilafah adalah perisai/pelindung sejati umat Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi Saw.:


وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia (HR al-Bukhari dan Muslim).

Menjadi junnah (perisai) bagi umat Islam khususnya dan rakyat umumnya meniscayakan Imam/Khalifah harus kuat, berani dan terdepan. Bukan orang yang pengecut dan lemah, yang dengan mudah dapat disetir ataupun dijadikan boneka asing dan aseng.

Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi pada institusi negaranya, yakni Khilafah. Kekuatan ini dibangun karena pondasi pribadi Khalifah dan negara Khilafah-nya sama, yaitu akidah Islam. Inilah yang ada pada diri kepala Negara Islam pada masa lalu, baik Nabi saw. maupun para khalifah setelah beliau. Ini antara lain tampak pada surat Khalid bin al-Walid:

Dengan menyebut asma Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid bin al-Walid, kepada Raja Persia. Segala pujian hanya milik Allah, Yang telah menggantikan rezim kalian, menghancurkan tipudaya kalian dan memecahbelah kesatuan kalian. Karena itu, masuk Islamlah kalian. Jika tidak, bayarlah jizyah. Jika tidak, aku akan mendatangkan kepada kalian kaum yang mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.

Hal yang sama dilakukan oleh para Khalifah setelah beliau. Khalifah Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, misalnya, pernah menyumbat mulut lancang Nakfur, Raja Romawi, dan memaksa dia berlutut kepada Khilafah. 

Khalifah Al-Mu’tashim, juga di era Khilafah ‘Abbasiyyah, pernah memenuhi permintaan tolong wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Ia segera mengirim ratusan ribu pasukan kaum Muslim untuk melumat Amuriah, mengakibatkan ribuan tentara Romawi terbunuh, dan ribuan lainnya ditawan. 

Demikian pula yang dilakukan oleh Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyah dalam melindungi kaum Muslim. Semuanya melakukan hal yang sama karena mereka adalah junnah (perisai).

Bandingkan dengan saat ini, khususnya di negeri ini. Jangankan melindungi rakyatnya, menolong 94 kaum muslimin yang terombang ambing di lautan saja tidak sanggup.

Karena itu jelas, kita tak bisa berharap banyak kepada para pemimpin Muslim saat ini. Khilafahlah satu-satunya harapan. Sebab Khilafahlah pelindung sejati umat sekaligus penjaga agama, kehormatan, darah dan harta mereka. Khilafah pula yang bakal menjadi penjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan setiap jengkal wilayah mereka.

Semoga kali ini, semua penderitaan kaum muslim di seluruh dunia, khususnya muslim Rohingya, menyadarkan kita semua bahwa Khilafah sudah saatnya hadir kembali. Tak bisa lagi kaum muslim menunggu terlalu lama. Saatnya Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang kedua ditegakkan di muka bumi ini.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar