Rasa Keadilan pada Kasus Novel Baswedan


Rasa keadilan kembali terusik setelah beredar berita jaksa menuntut dua penyerang Novel Baswedan dengan hukuman pidana hanya 1 tahun penjara. Lebih rendah dibanding hukuman pada kasus yang serupa, yaitu penyiraman air keras. Sebut saja apa yang dilakukan Ruslam terhadap istri serta mertuanya pada 18 Juni 2018. Ruslam mendapat tuntutan dari jaksa selama 8 tahun, kemudian dijatuhi hukuman selama 10 tahun penjara. 

Begitu pula kasus penyiraman air keras yang dilakukan Rika Sonata terhadap suaminya pada Oktober 2018. Rika dituntut jaksa dengan pidana penjara selama 10 tahun, yang kemudian dijatuhi, yaitu 12 tahun penjar. Terakhir ialah penyiraman air keras yang dilakukan Heriyanto kepada istrinya hingga meninggal dunia pada 12 Juli 2019. Jaksa kemudian menuntut Heriyanto dengan pidana penjara selama 20 tahun. Tuntutan jaksa itu kemudian dikabulkan Majelis Hakim PN Bengkulu. (cnnindonesia.com, 13/06/2020)

Jika nanti hakim memutuskan hukuman kepada pelaku kasus Novel Baswedan tetap lebih rendah dibanding kasus yang sama, sungguh akan menjadi preseden buruk. Semakin menguatkan dugaan adanya ketimpangan keadilan di negeri ini. Meskipun dikatakan terdakwa telah mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada korban. Juga ketidak sengajaan, padahal motif penyiramannya dendam.

Profesi sebagai jaksa yang memiliki andil besar melakukan tuntutan hukum harusnya berhati-hati ketika menangani kasus hukum. Begitu juga para hakim yang berwenang memutuskan hukuman. Seorang Hakim  hendaknya senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kemandirian saat menjalankan tugasnya pada kasus-kasus yang diadili. Sebab tanpa ketiganya, maka profesionalisme jabatan hakim menjadi bernuansa materialistis dan pragmatis. Jauh dari nuansa penjaga dan penegak keadilan bagi  masyarakat.

Jaksa dan hakim seharusnya adalah yang takut kepada Allah SWT, bukan kepada orang-orang. Apalagi yang berkepentingan. Sehingga ketika memtuskan suatu perkara senantiasa berpatokan kepada ketentuan Allah SWT. Mereka memperhatikan firman Allah SWT dalam Surat Annisa’ Ayat 135:  

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah SWT. Biarpun terhadap dirimu sendiri, atau Ibu Bapakmu dan Kaum Kerabatmu, jika Ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.Maka janganlah kamu mengikuti Hawa Napsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah SWT. Adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Annisa’: 135) 

Sudah seharusnya jaksa dan hakim juga memperhatikan sabda Rasulullah SAW: 
“Hakim itu ada tiga golongan, yang satu golongan akan masuk Syurga dan dua golongan lainnya akan masuk Neraka. Golongan hakim yang akan masuk Syurga adalah hakim yang memenuhi persyaratan intlektualitas, profesionalisme dan memiliki moral yang baik serta memutus perkara dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya. Sedangkan satu golongan hakim yang masuk  Neraka adalah hakim yang memiliki ilmu pengetahuan/intlektual dan profisionalisme yang tinggi, tetapi dia tidak memutus perkara dengan tuntunan Allah dan Rasulnya tetapi dia memutus perkara dengan hawa nafsunya. Dan satu golongan lagi hakim yang akan masuk Neraka adalah hakim yang bodoh, tidak memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan tidak memiliki profesionalisme dalam bidang tugasnya serta memutus perkara dengan kebodohannya.” (HR. Ahmad)

Tetapi, mungkinkah di era sekuler ini tercetak jaksa dan hakim yang mempunyai keimanan dan ketakwaan yang kokoh? Memiliki kesadaran bahwa setiap keputusannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak? 

Seperti Syuraih al Qadhi, seorang hakim di Kufah, Irak. Ketika itu pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Dikisahkan oleh Dr. Abdurrahman Rafa'at Basya dalam kitab  Shuwar min Hayati Tabi'in, dia disebutkan sebagai hakim adil dan bertakwa. Selama menjalankan amanah dan menegakkan keadilan itu ia tak pernah mengistimewakan pejabat atau kerabatnya sendiri. 

Para jaksa dan hakim sekelas Syuraih akan lahir pada sistem kehidupan islami yang menerapkan Islam kaffah. Didalamnya terdapat sistem peradilan Islam yang terdiri atas sistem persanksian, sistem pembuktian, serta struktur dan birokrasi peradilan Islam. Wallahua’lam.[]

Oleh Betty JN 
Institut Kajian Politik dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar