Rapid Test Gratis Beresiko, Berbayar Bikin Kantong Ambyar


Salah satu upaya pemerintah kota Surabaya untuk menekan laju penularan covid-19 dengan mengadakan Rapid test masal. Pemkot bekerjasama dengan Badan Integen Negara (BIN). Test masal dilaksanakan di daerah yang memiliki angka kasus positif tinggi  Di antaranya di lakukan di Terminal Keputih.

Ratusan hingga ribuan warga mengantri. Dari ribuan warga yang hadir di Terminal Keputih Surabaya, perilaku warga Surabaya tidak terkontrol. Mereka pun antri dan tak memperdulikan protokol kesehatan yang disiapkan petugas kesehatan dan Satpol PP yang disiapkan. Alhasil, dalam sehari, dari ribuan warga yang ikuti rapid test, 100 orang dinyatakan reaktif alias positif Covid-19. (Surabayapagi.com, 4/6/2020)

Antrian panjang dan sesak tersebut terjadi karena jumlah warga yang hadir tidak sebanding dengan fasilitas mobil lab dan petugas yang disiapkan.

Jika kita cermati alasan membludaknya warga adalah ditetapkannya surat rapid test non reaktif sebagai salah satu persyaratan perjalanan ke luar kota, khusus penumpang kereta api.

Tak heran jika mereka rela berdesakan karena Rapid test masal gratis. Karena jika rapid tes mandiri berbayarnya pun mahal. Sebagaimana yang dikeluhkan warga,dia harus mengeluarkan 285 ribu per orang ,(surya.co.id, 12/6/2020). Bahkan ada warga yang mengeluh biaya rapid sampai mencapai 325 ribu radartanggamus.co.id (27/5/2020) 

Dalam posisi ini rakyat serba sulit. Yang gratis beresiko, karena harus antri panjang dengan kerumunan yang kadang tidak memenuhi protokol kesehatan. Jika ingin aman mandiri, bikin kantong bolong. Itu pun jika kantong ada isinya. Bagaimana jika uang cukup untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Serasa sesak dada ini melihat kondisi tersebut. Meski bukan kita yang mengalami langsung. Tapi mereka bagian tubuh kita. Saudara kita. Umat Rasulullah Muhammad.

Tentu ini hanya satu fakta dari berbagai fakta keruwetan dari penanganan covid-19. Rapid yang sedari awal bertujuan untuk menekan penularan namun, bisa berpeluang jadi sarana penularan. Akhirnya pun masyarakat uang mundur tidak berani Rapid karena kondisi demikian.  

Kondisi ini mengingatkan sebuah doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

“Ya Allah, barang siapa yang mengurus urusan umatku lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan barang siapa yang mengurus urusan umatku lalu dia mengasihi mereka maka kasihilah dia.” (HR. Muslim)

Memang tidak mudah menjadi pemimpin di era Kapitalisme. Sistem yang di desain bukan untuk  memberikan kesejahteraan bagi rakyat secara umum. Meski jargon sistem nya pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Faktanya, sekedar teori ilusi.

Karena sistem ini terbangun oleh kebebasan kepemilikan. Siapa yang kuat dialah yang menang. Ibarat hutan rimba. Yang berduit akan mendominasi keuntungan dan kebijakan. Tak heran jika kebijakan cenderung berpihak bagi para kapital. Kondisi dibatas seakan menginfirmasi jika ingin dapat fasilitas enak harus berduit. Jika, tidak punya ya terima saja seadanya. Itulah kejamnya kapitalisme.

Lalu bagaimana peran pemimpin? Sebagai pemimpin, apapun kondisinya. Tentu punya peluang dan potensi untuk menggunakan tangan "kekuasaan" yang rakyat amanahkan untuk mengambil kebijakan terbaik semampu mungkin. Sebagaimana hadist Rasulullah tentang peluang potensi penguasa.

Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Memang tidak mudah menentukan kebijakan yang tepat dan memihak di sistem kapitalis. Dibutuhkan sistem yang mendukung. Di sinilah Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna telah memberikan seperangkat aturan lengkap dan metode penerapannya.

Khilafah Islam adalah sistem penerapan syariat kaffah yang dijanjika Allah akan membawa Rahmad bagi seluruh alam ketika diterapkan. Sistem yang memberikan rambu-rambu uang jelas bagi sang pemimpin (khalifah) untuk melakukan amanahnya.

Rakyat pun punya kemudahan untuk mengkoreksi pemimpinnya karena satandar pengukur pemimpin amanah dan tidak pun jelas. Yaitu hukum syariat Islam. 

Karenanya untuk menciptakan kemudahan dan keluar dari segala keruwetan tiada jalan lain pilihan selain kembali kepada aturan Allah. Mungkin sudah terlalu lama kita lalai dari peringatannya hingga segala kesempitan hidup bermasyarakat datang bertubi. Tidak berkurang namun kian bertambah. Sebagai penghujung tulisan mari bersama kita renungkan firman Allah dalam Al-Quran Surat Thaha Ayat 124 

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ 

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".[]

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar