TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Rapid dan Swab Test Covid 19 Membebani Rakyat


Berdasarkan Surat Edaran Gugus Tugas (SEGT) Nomer 7 Tahun 2020, salah satu persyaratan calon penumpang transportasi umum baik darat, laut maupun udara sebelum melakukan perjalanan harus melakukan rapid dan swab test dengan hasil negatif.  Yang berlaku 3 hari untuk rapid test dan 7 hari untuk swab test, terhitung saat keberangkatan dan setelah itu hasil test sudah tidak berlaku lagi dan harus test ulang jika mau bepergian lagi. (Sindonews.com12/6/2020)


Kebijakan ini menjadi beban baru bagi masyarakat, karena biaya untuk  rapid dan swab testnya lebih mahal dari biaya tiket tranportasi. Sebagaimana di ketahui untuk biaya rapid test antara Rp200 ribu-Rp500 ribu, sementara swab test dengan PCR antara Rp1,5 juta-Rp2,5 juta belum termasuk biaya lain lain. (Kompas.com19/6/2020)

Selain menjadi beban baru rakyat,  tingginya biaya tes telah menelan korban di masyarakat. Seorang ibu di Makassar, Sulawesi Selatan, dilaporkan kehilangan anak di dalam kandungannya setelah tidak mampu membayar swab test sebesar Rp2,4 juta. Padahal kondisinya saat itu membutuhkan tindakan cepat untuk dilakukan operasi kehamilan. (bbc.com18/6/2020)

Hal ini menggambarkan lemahnya peran pemerintah dalam periayaan terhadap umat dalam budang kesehatan. Sistem kesehatan berbasis asuransi yang selama ini dibangga- banggakan nyatanya tidak memberikan solusi. Rakyat yang sudah di bebankan membayar premi mahal saat membutuhkan layanan masih harus membayar karena birokrasi layanan kesehatan dibuat berbelit demi mendapat keuntungan. Tak peduli jika banyak rakyat dikorbankan.

Sistem kesehatan di negeri ini benar-benar jauh dari kata manusiawi. Semuanya  diukur dengan takaran untung rugi, menafikan nilai kebaikan alias halal haram . Sebaliknya  mengagungkan nilai nilai material dan kemanfaatan belaka. Inilah gambaran sistem kesehatan dalam negara berasaskan kapitalis.

Berbeda jauh dengan sistem Islam , sistem ini tegak diatas landasan aqidah islam.  Bahwa manusia di ciptakan sebagai hamba Allah dengan mengemban amanah sebagai pengelola kehidupan dan termanifestasi dalam bentuk ketundukan pada aturan hidup yg diturunkan Allah ta'ala yakni syariat Islam. Dalam Islam negara menjamin kesehatan secara gratis kepada rakyat tanpa membebani apalagi memaksa rakyatnya mengeluarkan uang, sebab layanan kesehatan dipandang oleh Islam sebagai kebutuhan dasar atau primer bagi rakyatnya. 

Pada saat Pandemi, negara akan mengambil kebijakan  lockdown dan segera memisahkan antara yang sakit dan yang sehat,bsehingga yang sehat bisa beraktifitas normal tanpa takut tertular. 

Sementara yang sakit dikarantina dan diberi pengobatan terbaik oleh negara hingga sembuh. Dengan konsep jaminan kesehatan dalam Islam maka negara akan menjamin akses test,  baik rapid test maupun swab test secara masal dengan gratis kepada seluruh rakyat. 

Negara juga menyediakan sarana dan prasarana yang memadai secara kwalitas dan kuantitas yang dapat mendukung percepatan penyembuhan terhadap penyakit, seperti membangun pabrik dan pemproduksi alat-alat kesehatan dan obat obatan dengan tujuan pelayanan bukan mengejar untung.

Wallahu alam bishowab.[]

Oleh: Ummu Haqi
Komunitas Emak Emak Peduli Umat

Posting Komentar

1 Komentar