TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Radikalisme, Narasi Lawas Lawan Dakwah Islam



Pasca penyerangan di  Mapolsek Daha Selatan pada Senin (1/6/2020) sekitar pukul 02.15 Wita lalu. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)  Komjen Pol Boy Rafli Amar, menggelar pertemuan khusus dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalsel di Bandara Sjamsudin Noor, Banjarbaru. 

Kepala BNPT meminta kepada pengurus FKPT Kalsel, untuk menguatkan kepengurusan dengan merangkul para ulama untuk pencegahan radikalisme dan terorisme (06/6/2020)

Ya, perang terhadap radikalisme dan Terorisme mencuat Pasca penyerangan di  Mapolsek Daha Selatan. Anehnya penyerangan itu terjadi ditengah Pandemi Covid 19, dimana masyarakat berjibaku melawan Covid 19.

Ditambah lagi kondisi perekonomian negara, bukannya membaik malah semakin memburuk, persoalan utang negara yang semakin bertambah, kemudian persoalan-persoalan sosial yang semakin ruwet. 

Maka, muncul pertanyaan apakah narasi perang terhadap radikalisme dan terorisme dalam rangka menutupi semua kegagalan penguasa dalam mengelola negara, sehingga masyarakat akan melupakan, dan beralih kepada perang terhadap radikalisme dan terorisme?

Radikalisme dan Asal-usulnya

Radikalisme adalah istilah Barat, bukan dari Islam. Istilah fundamentalisme atau radikalisme muncul pertama kali di Eropa pada akhir abad ke-19.

Istilah ini untuk menunjukkan sikap gereja terhadap ilmu pengetahuan (sains) dan filsafat modern serta sikap konsisten mereka yang total terhadap agama Kristen.

Gerakan Protestan dianggap sebagai awal mula kemunculan fundamentalisme. Mereka telah menetapkan prinsip-prinsip fundamentalisme pada Konferensi Bibel di Niagara tahun 1878 dan Konferensi Umum Presbyterian tahun 1910. 

Saat itu mulai terkristalisasi ide-ide pokok yang mendasari fundamentalisme. Ide-ide pokok ini didasarkan pada asas-asas teologi Kristen, yang  bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan  yang lahir dari ideologi Kapitalisme yang berdasarkan akidah pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme).

Radikalisme sebagai Alat untuk Menyerang Islam

Istilah radikalisme oleh Barat kemudian dijadikan sebagai alat untuk menyerang dan menghambat kebangkitan Islam. 

Barat melakukan monsterisasi bahwa Islam adalah paham radikal yang membahayakan. 

Monsterisasi inilah yang kelak melahirkan islamophobia di Barat dan seluruh dunia. Inilah cara terakhir Barat untuk melanggengkan hegemoni ideologi Kapitalisme sekular dengan menyebarkan paham demokrasi. 

Proyek anti radikalisme atau deradikalisasi terus digulirkan dengan menggulirkan wacana moderasi agama hingga memunculkan istilah baru. yakni “Islam Nusantara”. 

Ironinya, banyak kaum Muslim tertipu dengan proyek ini. Mereka ikut terlibat dalam berbagai program deradikalisasi, baik karena kebodohan maupun karena pragmatisme semata.

Setelah mengamati berita penyerangan di Mapolsek Daha Selatan ada beberapa hal yang bisa dikritisi.

Pertama, Islam jelas menolak penyerangan yang terjadi di Mapolsek Daha Selatan, dengan cara apapun bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia, karena Allah swt berfirman :
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا ......
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. ….. (QS. Al Maidah: 32).

Kedua, menolak narasi lawan Radikalisme yang di seruhkan oleh BNPT melalui UU No.05 Tahun2018, karena sejatinya  lawan Radikalisme sebenarnya lawan terhadap Islam itu sendiri, ini sungguh narasi yang membahayakan, dan menimbulkan Islam phobia dikalangan kaum muslim bahkan non muslim. 

Disisi yang lain penyerangan yang dilakukan oleh kelompok / ormas yang bukan dari islam dianggap hanya kelompok bersenjata bukan kelompok radikal, seperti di Papua yang dilakukan oleh OPM, pembantaian kaum muslim di Palestina dan pembantaian kaum muslim di beberapa negara, yang muslim minoritas disana, dan sampai saat ini pembantaian masih saja terjadi

Maka sungguh jelas seruan BNPT untuk melawan Radikalisme, merupakan cara dari Ideologi Kapitalisme (Demokrasi), untuk menghambat laju perjuangan ummat Islam yang ingin kembali kepada Islam. 

Maka kita menyaksikan siapa saja, kelompok Islam yang mendakwahkan Islam Kaffah akan di cap sebagai kelompok terlarang, radikal, anti Pancasila, anti NKRI, anti kebhinekaan, dsb. 

Bukankah Allah Swt berfirman dalam Q.S. Ali-imran ayat : 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan (al-Khayr’). menyuruh kepada yang ma’ruf dan yang mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang berjaya.” 

Allah swt berfirman dalam Q.S. Ali-imran : 110 
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS: Ali Imron 110)

Wallahu ‘alam.

Oleh : Aslan al-Kandary
Editor: SM

Posting Komentar

0 Komentar