TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Premanisme ala John Kei, Dimana Peran Negara?


Masyarakat di Perumahan Green Lake City, Cipondoh, Tangerang digegerkan suara rentetan tembakan pada Minggu, 21 Juni 2020 siang. Suara letupan tembakan itu terjadi sekira pukul 12.00 WIB dan sempat terekam kamera warga di sekitar tempat kejadian.

Berdasarkan video amatir yang beredar di media sosial, suara tembakan tersebut berasal dari kawanan perampok yang membawa senjata tajam. Kawanan perampok itu juga terlihat mengenakan topeng dan memecahkan kaca rumah. (Tagar.id, 22/06/2020)

Penembakan tersebut diduga bermula dari pembacokan seorang pengendara motor di Duri Kosambi, Jakarta Barat hingga menewaskan korban. Polda Metro Jaya berhasil mengamankan dalang kejadian ini yaitu John Kei bersama 24 orang lainnya di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Minggu malam.

Selain mengamankan 25 orang termasuk John Kei, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi penangkapan. Di antaranya 28 buah tombak, 24 buah senjata tajam, 2 buah ketapel panah, 3 buah anak panah, 2 buah stik bisbol, 17 buah ponsel. (CNNIndonesia.com, 22/06/2020)

Aksi ini bukanlah aksi pertama yang dilakukan oleh John Refra Kei yang lebih dikenal dengan John Kei yang merupakan ketua geng preman yang paling ditakuti. Dia mulai dikenal tahun 1995 saat menjadi ketua Angkatan Muda Kei (AMKEI). Namun, sebelum menjadi ketua pun sepak terjangnya sudah terdengar. Mulai dari sering berkelahi hingga membunuh orang yang diakuinya sebagai perbuatan tidak sengaja. Berikut adalah rekam jejak aksinya:
1. Pada 2004 silam, John Kei cs mencuri perhatian karena membunuh seorang debt colector bernama Basri Sangaji. Keduanya memang sering kali terlibat konflik karena persaingan bisnis. Hal itulah yang kemudian menjadi awal pemicu kasus pembunuhan tersebut.

2. Kasus yang paling menggegerkan masyarakat adalah kasus pembunuhan Direktur PT Sanex Steel Tan, Harry Tantono alias Ayung pada 2012 silam. Ayung sendiri sebenarnya merupakan teman dekat John Kei sehingga motif pembunuhannya masih menjadi misteri hingga saat ini. Karena perbuatannya tersebut, John Kei dihukum pada 2014 di Lapas Nusa Kambangan.

3. Selama kurang lebih 5 tahun mendekam dibalik jeruji besi, John Kei dinyatakan bebas bersyarat pada 26 Desember 2019. Namun, sebelumnya pria yang juga dijuluki Godfather Jakarta itu sempat mengutarakan keinginannya untuk taubat dan kembali berada di jalan Tuhan. Tak hanya itu, dia juga mengajak anak buahnya untuk ikut bertaubat dan memulai awal hidup yang baru. (Okezone.com, 22/06/2020)

Maraknya aksi kriminal saat ini tentu menambah keresahan masyarakat yang tengah terdampak pandemi Corona. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudahlah tak aman keluar rumah, ternyata tinggal di rumah sajapun tak ada jaminan rasa aman. Pihak sekuriti yang bertugas menjaga keamanan seolah tak ada artinya karena tak berdaya hadapi komplotan preman.

Kasus kriminal di atas setidaknya mengkonfirmasi beberapa hal kepada kita:
Pertama, aksi premanisme masih membayangi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan masih berjamurnya tindak premanisme berkedok ormas atau jasa pengamanan dan jasa penagihan hutang (debt collector) yang kehadirannya justru malah menambah keresahan di tengah masyarakat. John Kei misalnya mengawali kiprah kriminalnya dengan menjadi ketua kelompok Angkatan Muda Kei (AMKEI) yang merupakan himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Mei di Maluku Tenggara. 

Kedua, aksi premanisme yang banyak terjadi seolah menjadi ajang unjuk kekuatan antar kelompok preman. Tak tanggung-tanggung, untuk mencapai tujuannya, aksi yang dilakukan bisa sampai mencederai bagian tubuh bahkan hingga menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang sadis. Nyawa manusia seketika menjadi tak berharga di mata mereka. Wajar jika hal ini menambah keresahan masyarakat di tengah peliknya kehidupan era pandemi.

Ketiga, masih maraknya aksi premanisme menunjukkan bahwa peran negara belum hadir di tengah masyarakat. Masih longgarnya sanksi premanisme di mata hukum mengakibatkan semakin menjamurnya ormas atau kelompok semacam ini. Bahayanya lagi jika terjadi kongkalikong antara mereka dengan oknum aparat hukum sebagaimana yang biasa dipertontonkan polisi India di film-filmnya. Dampak jangka panjangnya negara akan dikuasai oleh mafia preman berduit yang bisa menyetir berbagai kebijakan pemerintah. Na'udzubillaah. 

Sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan akibat sistem yang diterapkan hari ini. Sistem yang menumbuhsuburkan berbagai isme yang merusak termasuk premanisme. Sistem yang memisahkan kehidupan dari aturan Sang Pencipta Yang Maha Rahmat (Penyayang). Padahal sistem Islamlah satu-satunya yang dapat memberantas hingga akar aksi kriminal termasuk premanisme dengan mekanisme penerapan sanksi hukum yang tegas dan memberikan efek jera bagi para pelakunya. 

Atas perilaku premanisme, sesungguhnya Islam memberikan ketentuan yang jelas mengenai itu. Premanisme dalam istilah Arabnya disebut al-balthajah yang artinya penggunaan kekerasan dan kekuatan untuk menakut-nakuti orang lain atau mengambil harta benda miliknya. Islam memandang perilaku premanisme sebagai perbuatan kerusakan di muka bumi dan menganggapnya sebagai dosa besar yang diancam hukuman yang sangat berat karena termasuk kepada kejahatan hirabah (memerangi Allah dan Rasul-Nya).

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS al-Maidah: 33)

Sebagian ulama berpendapat, hukuman bagi para pelaku kejahatan hirabah termasuk premanisme adalah diserahkan kepada penguasa untuk memilih memutuskannya dengan dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kakinya secara silang, atau dibuang. Tetapi, menurut jumhur ulama, hukuman itu dijalankan sesuai dengan kejahatan yang dilakukan para penjahat itu.

Jika penjahat itu membunuh dan merampas harta, maka dia harus dibunuh dan disalib. Jika dia hanya membunuh dan tidak mengambil harta, maka dia hanya dibunuh tidak disalib. Jika dia hanya mengambil harta dan tidak membunuh, maka dipotong kaki dan tangannya secara silang. Dan jika mereka hanya menakut-nakuti tidak sampai membunuh dan mengambil harta, maka dia hanya dibuang (kalau sekarang dipenjara).

Penerapan hukum ini hanya dapat diterapkan oleh penguasa yang menerapkan hukum Islam secara kaffah, dalam bingkai Khilafah Islam. Demikianlah realitas yang terjadi selama kurang lebih 14 abad lamanya. Lalu, masihkah kita ragu untuk menerapkannya? Dan Allah Sebaik-baik Pemberi Pertolongan. Wallaahul musta'aan. []

Oleh  Lely Herawati 
Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar