TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pertarungan Tiga Ideologi di Negeri Ini, tuk Kesekian Kali Kapitalisme Menang Lagi, Kok Bisa Begini?


Pertarungan tiga ideologi (kapitalisme, komunisme dan Islam) tak jua terhenti meski di masa pandemi. Namun tuk kesekian kalinya di masa wabah Covid-19 ini kapitalis menang lagi.

Banyak yang bisa dijadikan indikasi, dua di antaranya adalah: 

PERTAMA, rezim dan DPR berhasil mengesahkan UU Minerba yang semakin membuat para kapitalis semakin leluasa merampok mineral dan batu bara. 

Umumnya kaum Muslimin diam karena merasa itu tidak ada kaitannya dengan akidah maupun syariat Islam. Wajarlah, karena isi kepala sebagian kaum Muslimin telah tersekulerkan  sehingga mengira Islam hanyalah terkait akidah dan ibadah mahdah saja.

Padahal dalam pandangan Islam, minerba yang hasilnya melimpah tersebut merupakan milkiyah ammah (kepemilikan umum), khilafah wajib mengelolanya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, di antaranya untuk biaya pendidikan, kesehataan dan keamanan seluruh rakyat baik kaya maupun miskin. Sehingga rakyat mendapatkan layanan dasar tersebut sangat murah bahkan gratis. Islam pun mengharamkan kepemilikan maupun pengelolaan milkiyah ammah diserahkan kepada swasta apalagi asing.

Kapitalis paham itu, maka melalui boneka bermahkota, mereka mempersekusi dan mengkriminalisasi gerakan Islam dan para aktivis Islam yang konsern pada dakwah penerapan syariat Islam secara kaffah. 

KEDUA, terjadi perdebatan seru di tengah publik terkait RUU Haluan Ideologi Pancasila. Karena disinyalir oleh kalangan Islam, RUU kental dengan muatan komunisme yang lebih populer disebut PKI. 

Lantaran arus penolakannya begitu kuat, akhirnya pihak pengusung RUU HIP pun tak bisa mempertahankan sikapnya yang dinilai sangat membela PKI. Tapi meski  kapitalisme dan komunisme itu musuh ideologis, mereka masih bisa 'bersatu' untuk menyerang Islam. Maka, bila PKI dilarang, pengusung RUU HIP pun dengan lantang mengusulkan agar khilafah dilarang pula. 

Bila umat Islam diam saja terkait isu khilafah ini atau bahkan mengaminkan maunya mereka, maka siapa yang kembali menang? Tentu saja para kapitalis. 

Lantas Mengala di Negeri Mayoritas Muslim ini Kapitalis Kerap kali Menang?

Karena:

PERTAMA, kaum Muslimin mau mengikuti aturan main alias jebakan yang dipasang oleh para kapitalis yakni dengan (secara de facto): (a) dijadikannya sekularisme menggantikan akidah Islam sebagai dasar negara dan (b) sistem pemerintahan demokrasi menggantikan khilafah. 

KEDUA, masih menganggap biang kerok masalahnya hanya sebatas rezim. Padahal (a) selain rezimnya ruwaibidhah dan zalim, (b) dasar negara dan sistem pemerintahannya pun kufur alias bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. 
Solusi:

PERTAMA, (a) pahami dengan baik dan benar akidah Islam secara rasional dan (b) taati semua aturan (sistem) yang lahir darinya. Baik dari sisi (b.1) akidah dan berbagai solusinya (solusi atas masalah pemerintahan, pendidikan, pergaulan, ekonomi, hubungan luar negeri dan lainnya) maupun (b.2) metode untuk menerapkan (khilafah), menjaga (khilafah dan uqubat) dan menyebarluaskannya (khilafah, dakwah dan jihad). 

KEDUA, jadikan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah sebagai gol bersama umat Islam. Jangan lagi mengkhayal menerapkan syariat Islam secara bertahap melalui sistem kufur demokrasi. Apa tidak bisa mengambil pelajaran sejak rezim Orla, Orba, Orref hingga rezim Orson sekarang ini? Jadi sekadar ganti rezim bukanlah solusi.

KETIGA, keep istiqamah menjaga kemurnian perjuangan di jalan Islam sehingga seluruh syariat tegak secara kaffah dalam naungan khilafah dan menjadi rahmatan lil alamin. Allahu Akbar!

Oleh Joko Prasetyo, S. Sos.
Jurnalis

Posting Komentar

0 Komentar