TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Perempuan di Tengah Lumpuhnya Ekonomi Keluarga Karena Corona


"Mi, coba jualan deh. Siapa tau ada rezeki lebih lewat umi", kata seorang suami pada istrinya suatu hari. 

Pandemi ini sudah melumpuhkan roda perekonomian kita, sampai ke skala rumah tangga. Berapa banyak orang yang akhirnya dirumahkan, di PHK? Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik menyebut warga yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi corona (Covid-19) bisa mencapai 15 juta jiwa (cnnindonesia, 1/5/2020).

Sebelum pandemi, para perempuan, termasuk istri sudah dipaksa keadaan untuk membantu perekonomian keluarga, bekerja atau berjualan apa saja. Di tengah pandemi, saat roda perekonomian lumpuh, perempuan didesak lebih kuat untuk turun membantu perekonomian keluarga. Yang tadinya hanya ibu rumah tangga pun kini memutar otak untuk mencari kepingan rupiah demi menyambung kebutuhan keluarga. Setidaknya demi mengepulnya dapur. 

Tak jadi masalah bagi perempuan untuk bekerja, berjualan atau apapun yang menghasilkan uang, mubah. Yang jadi masalah ketika perempuan dipaksa meninggalkan tugas utamanya sebagai ummu wa rabbatul bayt demi menjalankan yang mubah ini. Apalagi masih ada bayi dan balita yang butuh didampingi. Kehadiran dan kasih sayang ibu bagi bayi dan balita tak bisa tergantikan bahkan oleh nenek sekalipun. Ditambah lagi jika anak butuh bantuan dan pendampingan dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh dari sekolahnya. 

Ranah optional, pilihan, bagi perempuan, jangan dipaksa kalau ia lebih memilih membersamai anaknya. Apalagi memaksa dengan dalil yang seolah menyatakan perempuan yang menghasilkan uang itu bagus di mata agama. 

"Harta istri itu obat", katanya. Bahwa ada lelaki datang kepada Ali radhiyallahu anhu, berkata : “Sesungguhnya dalam perutku ada penyakit”. Ali bertanya kepadanya: “Apakah kamu memiliki istri ?”. Dia menjawab : “Iya”. Ali berkata : “Pergilah dan mintalah suatu pemberian dari harta istrimu dalam keadaan istrimu memberi dengan senang hati, lalu belilah madu, tuangkan padanya air hujan, lalu minumlah !

Jangan keliru, kisah ini bukan dalil bagi istri untuk bekerja atau mencari uang. Ia jadi penguat untuk dalil dalam al qur'an dalam urutan menyedekahkan harta istri. Allah berfirman dalam al qur'an surat Al baqarah ayat 215 yang artinya,  "Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya".

Kisah itu pula jadi dalil bagi keberkahan harta istri. Kemuliaan dan keutamaan juga keberkahan didapat oleh istri kala ia menjalankan dalil dalam qur'an surat al baqarah ayat 215 dalam menyedekahkan harta. 

Kembali lagi, jangan paksa istri bekerja mendulang uang ketika ia masih kewalahan dengan kewajiban utamanya sebagai ummu warobbatul bayt. Tapi, bagi istri, jika mampu, tak ada salahnya ikut mencari rezeki demi keluarga. Karena harta yang dimakan oleh keluarga menjadi berkah dan mulia. 

Ini sebetulnya jadi bukti betapa kapitalisme gagal dalam mengurusi urusan rakyatnya. Rakyat terlunta-lunta, terpaksa berjuang sendiri. Karena negara tak peduli. Dalam kapitalisme, negara hanya bertugas sebagai mandor. Kacamata yang dipakai dalam melihat hubungan pemerintah dan rakyat adalah kacamata penjual - pembeli, untung-rugi. Kalau mendatangkan untung bagi pemerintah akan dilakukan, kalau tidak, akan ditinggalkan. Miris. 

Masihkah kita betah dinaungi sistem seperti ini? Sudah saatnya kita kembali pada sistem yang turun dari ilahi rabbi. Islam saja. 

Wallahu'alam bish shawab. 

Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd. 



Posting Komentar

0 Komentar