TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Peran Keluarga dan Negara Menjaga Kesehatan


Indonesia benar-benar mengambil kebijakan new normal life dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Karena biaya pengobatan untuk virus ini teramat besar. Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir  mengungkapkan bahwa biaya yang harus ditanggung pemerintah dalam menangani pasien Covid-19, mencapai ratusan juta rupiah. Erick bahkan menyebut angkanya antara Rp105 juta hingga Rp 215 juta.

Karena itu, Erick menegaskan agar masyarakat tetap berdisiplin menjalankan protokol kesehatan selama menjalani masa normal baru. Kedisplinan dalam new normal ini juga salah satu upaya menggairahkan roda perekonomian Indonesia.(warta ekonomi.co.id, 1/6/2020)

Kesehatan memang hal yang sangat penting dalam kehidupan. Rasulullah saw. Bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918)

Apa yang ditegaskan oleh Erick Thohir menunjukkan bahwa kesehatan individu wajib dijaga oleh dirinya sendiri. Namun disitu juga ditegaskan pula bahwa biaya kesehatan menjadi tanggungan individu itu sendiri bukan oleh negara. Benarkah demikian? Bagaimana islam memandang masalah kesehatan?

Dalam ketentuan Islam negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, papan, dan sandang untuk tiap-tiap individu rakyat. Negara juga wajib menyediakan pelayanan keamanan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan untuk seluruh rakyat. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban ini di akhirat. 

Namun penjagaan Kesehatan Masyarakat ini tidak hanya menjadi tanggung jawab negara tetapi juga menjadi tanggung jawab individu atau keluarga. Islam telah mengatur sedemikian rupa diantaranya:

Pertama, dianjurkan kepada setiap manusia untuk memakan makanan yang baik dan halal apakah itu zatnya maupun cara memperolehnya.

Q.S al-Maidah: 88

وَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ 

Artinya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Kedua, nafkah yang halal. Keluarga yang senantiasa menjaga keluarganya dari rizki yang halal akan membawa ketentraman dan keberkahan dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Kewajiban orang tua menafkahi anak dengan cara ma'ruf ditetapkan berdasarkan firman Allah SWT :

“Dan kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (TQS Al Baqarah: 233)

Ketiga, Pengelolaan lingkungan. Lingkungan yang sehat dan bersih yang senantiasa dipelihara oleh keluarga muslim tentu akan membawa kebaikan bagi kesehatan keluarga dan masyarakat akan menghindarkan diri dari segala macam penyakit dan keburukan.

Keempat, membiasakan amar ma'ruf nahi munkar. Dalam kehidupan bermasyarakat setiap individu dianjurkan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Misalnya, membiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Ketika ada yang membuang sampah sembarangan maka kita wajib mengingatkannya bukan untuk kita tapi demi menjaga kesehatan bersama.

Namun semua peran ini akan sia-sia jika negara abai dalam melaksanakan kewajibannya terutama dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebagaimana yang terjadi pada saat ini. Karena sesungguhnya kewajiban utama dalam menjaga kesehatan individu keluarga dan masyarakat ada pada pundak negara.

Kewajiban Negara Menjamin  Kesehatan.

Sistem kesehatan Khilafah yang tumbuh dalam sistem kehidupan Islam meniscayakan tersedianya secara memadai segala aspek yang dibutuhkan bagi terwujudnya pelayanan kesehatan gratis berkualitas terbaik bagi setiap individu masyarakat. Haram negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator, apapun alasannya.

Pertama, pelayanan kesehatan termasuk dalam pelayanan dasar publik. Bukan jasa untuk dikomersialkan.

Kedua, pemerintah bertanggung jawab langsung dan sepenuhnya dalam hal pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat tanpa terkecuali. Gratis namun berkualitas terbaik bagi siapapun, kapanpun, dan di manapun.

Ketiga, pembiayaan berkelanjutan yang sesungguhnya. Pembiayaan Kesehatan telah ditetapkan Allah SWT sebagai salah satu pos pengeluaran pada Baitul Mal atau kas negara. Pengeluarannya bersifat mutlak. Demikian sumber-sumber pemasukannya untuk Pembiayaan Kesehatan. Semua ini telah didesain oleh Allah SWT sedemikian rupa sehingga memadai untuk pembiayaan yang berkelanjutan. Pembiayaan dan pengeluaran tersebut diperuntukkan bagi jaminan kesehatan gratis berkualitas terbaik bagi semua individu masyarakat.

Keempat, kendali mutu yang sesungguhnya. Konsep kendali mutu jaminan kesehatan Khilafah berpedoman pada tiga strategi utama yaitu 1.administrasi yang sederhana, 2. segera dalam pelaksanaan dan 3. dilaksanakan oleh orang-orang yang kapabel.

Berdasarkan tiga strategi utama tersebut pelayanan kesehatan Khilafah harus berkualitas, SDM berkompeten, semua jenis pelayanan terpenuhi, dan lokasi mudah dicapai tanpa ada hambatan geografis.

Inilah sejumlah konsep cemerlang pengelolaan pelayanan kesehatan Negara khilafah. Konsep yang hanya serasi dengan sistem politik Islam, yaitu khilafah islam. Sebuah sistem yang sempurna yang akan senantiasa membawa keberkahan bagi seluruh manusia sangat berbeda dengan sistem sekuler kapitalis yang diterapkan saat ini. Sudah saatnya kita semua berjuang untuk melepaskan diri dari jerat sistem yang rusak dan menggantinya dengan sistem Islam. Lebih dari pada itu, Khilafah adalah ajaran Islam yang disyariatkan Allah SWT.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar