Pendidikan Sukses di Era Pandemi, Songsong Kebangkitan Islam


Menyambut tahun ajaran baru 2020-2021, perbincangan terhangat di segala lapisan masyarakat adalah adanya wacana dibukanya kembali sekolah dengan aturan New Normal Life. 

"Sekolah akan dibuka bagi daerah yang sudah terkategori zona hijau, dengan tetap menjalankan protokoler Covid-19." Demikian pernyataan pihak terkait, baik dari Kemendikbud atau pemerintah setempat yang menjadi bagian satuan tugas gugus Covid-19. Protokoler tersebut misalnya penggunaan masker, duduk yang berjarak di dalam kelas, dan pengaturan jam sekolah. 

Namun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan penerapan protokol new normal di sekolah akan terkendala, karena akan sulit memantau siswa untuk tidak berkerumun atau untuk disiplin menggunakan masker. Kesehatan dan keselamatan nyawa siswa akan terancam jika segera masuk sekolah. 

Sebelum diterapkan masuk sekolah saja jumlah anak terpapar positif Covid-19 berjumlah 584 anak dan 14 anak meninggal dunia. Sedangkan jumlah PDP anak sebanyak 3.324 anak dan 129 anak PDP meninggal dunia. Artinya, anak di Indonesia yang terinfeksi dan meninggal (karena Corona) dibanding negara lain masih cukup tinggi (Kompas.com, 31/5 2020).

New Normal Yang Dipaksakan

Keresahan para orang tua siswa muncul ketika pemerintah memutuskan akan memberlakukan New Normal. Padahal ketika kebijakan ini dicetuskan, kondisi pandemi Corona di Indonesia belum tuntas. Kurva pandemi Covid-19 di Indonesia belum melandai. 

Kebijakan new normal yang diterapkan di Prancis ketika kembali membuka sekolah untuk anak-anak, menuai masalah baru. Kasus positif pada anak langsung ditemukan. Dilansir Anadolu Agency, setidaknya 70 kasus Covid-19 dilaporkan di kalangan siswa di kelas penitipan anak dan sekolah dasar di Prancis ketika 1,4 juta anak kembali ke bersekolah. Lebih dari 50.000 siswa sekolah menengah juga kembali ke sekolah pada Senin (18/5/2020), seminggu setelah pencabutan karantina nasional. Akhirnya sekolah pun ditutup kembali pasca terdeteksinya virus di kalangan anak sekolah.

Begitu juga yang terjadi di Korea Selatan setelah kurva infeksi Covid-19 menurun nyatanya tidak bisa bertahan lama. Begitu sekolah sekolah dibuka, 2 siswa langsung terinfeksi Virus Corona. 75 sekolah seketika memulangkan para guru dan ribuan siswanya. Kebijakan itu terbukti gagal di mana lonjakan infeksi virus covid-19 terbesar terjadi pada tanggal 29/5/2020. Kondisi itu memaksa pemerintah Korsel memberlakukan kembali pembatasan sosial di beberapa wilayah.

Di sinilah fakta yang terjadi bahwa New Normal hanyalah sebuah istilah yang terkesan dipaksakan. Sebab sejatinya ini adalah tuntutan para kapitalis pemilik modal yang tidak mau terus merugi dengan adanya pembatasan sosial di masa pandemi. Semua sektor ekonomi, dari perdagangan, transportasi, jasa hotel, pariwisata dll harus segera diaktifkan kembali. Akhirnya pendidikan pun terkena imbasnya untuk segera siap dibuka kembali. Maka generasi muda bangsa ini akan bertaruh nyawa jika new normal ini tetap diterapkan sebelum masa pandemi ini berakhir. 

Peran Ibu di Rumah

Sejak wabah merebak, dunia pendidikan dipaksa menyesuaikan diri dengan pola interaksi sosial yang tiba-tiba harus berubah dan diperparah perekonomian yang kolaps. Pendidikan yang biasanya diserahkan di sekolah tiba-tiba berpindah di rumah. 

Sekolah daring menjadi tambahan beban tersendiri bagi para orang tua. Baik secara ekonomi maupun mental. Mengapa hal ini terjadi? Karena terlalu lamanya para orang tua, terutama Ibu meninggalkan peran dan tanggung jawabnya di rumah. Mendidik anak yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya diserahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan. 

Saatnya para ibu memahami kembali betapa besarnya peran dan tanggungjawabnya bagi pembentukan generasi. Saatnya para ibu di rumah mengisi kegiatannya dengan kegiatan yang memberikan berkontribusi positif bagi pembentukan generasi bangsa yang berkualitas. 

Saatnya para ibu menyadari bahwa kemuliaan terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, adalah perannya menjadi seorang Ibu. 

Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”,  jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)

Ibu adalah sosok yang terdekat dengan anak. Maka ibulah yang memiliki banyak waktu dan mempunyai pengaruh dalam mendidik anak-anaknya. Maka sudah semestinya seorang ibu menjadi panutan terbaik bagi anak-anaknya. 

Dalam kisah-kisah para pahlawan bisa kita lihat bahwa dalang di dalam keberhasilan anak menjadi seorang yang pemberani, ahli ilmu atau bahkan seorang imam, tak lain adalah adanya ibu yang membimbingnya.

Sebut saja, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Al-Bukhori dll adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan. Maka semakin jelaslah bahwa ibu merupakan tumpuan besar bagi pembentukan generasi bangsa yang berkualitas.

Pendidikan Butuh New Sistem Bukan New Normal

Konsep New Normal menjadi pembahasan yang menuai pro dan kontra, tak terkecuali di dunia pendidikan. Benarkah kita membutuhkan New Normal? Sementara selama ini sistem pendidikan yang diterapkan terkesan rapuh dan tak jelas arah.

Pendidikan telah kehilangan sisi strategis sebagai salah satu pilar pembangun peradaban, ini yang terjadi dalam penerapan sistem secara keseluruhan. Sebab dalam sistem sekuler kapitalistik ini, pendidikan hanya ditempatkan sekadar sebagai pengukuh penjajahan kapitalisme global. Yakni sekadar sebagai pencetak mesin pemutar roda industri saja. Bahkan negara berperan besar dalam mendorong terjadinya kapitalisasi dan sekularisasi di bidang pendidikan.

Visi “mencetak sosok generasi peradaban cemerlang”, sudah lama hilang dari ingatan dan dianggap sebagai khayalan belaka. Wajar saja jika sistem pendidikan cenderung hanya mampu mencetak output dengan skill yang sangat minimal, dan mengesampingkan adab dan moral. 

Berbeda jauh dengan pendidikan dalam sistem Islam. Islam menempatkan sistem pendidikan sebagai salah satu pilar peradaban cemerlang yang harus mendapat perhatian serius oleh negara, baik dalam menjaga kemurnian visi, kurikulum, metode pembelajaran, hingga dukungan sarana dan prasarananya. 

Dalam Islam, negara memiliki fungsi sebagai pengurus dan penjaga umat. Memastikan agar sistem pendidikan ini berjalan sempurna, dengan turut menciptakan suasana kondusif melalui penerapan sistem-sistem hidup lainnya.

Wajar jika dari sistem pendidikan Islam yang ini lahir sosok-sosok yang berkepribadian Islam dengan skill yang mumpuni, hingga berhasil membawa umat ini pada level kehidupan jauh di atas level umat-umat lainnya, sebagai khairu ummah dalam masa yang sangat panjang.

Visi dan aturan-aturan Islam yang komprehensif inilah yang terus dipegang teguh para penguasa Islam dari satu generasi ke generasi lainnya. Sehingga setiap situasi yang dihadapi mampu dilewati dengan sebaik-baiknya.

Sepanjang sejarahnya, umat Islam yang hidup di bawah naungan sistem kepemimpinan Islam dikenal sebagai pionir peradaban. Sehingga peradaban barat modern pun begitu berutang kepada Islam. Maka masihkah kita ragu-ragu dengan kepemimpinan Islam? Saatnya kita menentukan nasib kita. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ

"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)

Akhir dari tulisan ini, sesungguhnya kehidupan yang benar-benar normal sejatinya tak bisa kita harapkan pada sistem selain Islam. Hanya Islamlah yang mampu memberikan solusi bagi segala problematika kehidupan manusia, sebab hanya Islam sistem yang dirancang khusus oleh Sang Kholiq pemilik alam semesta, manusia dan kehidupan.

Pada era pandemi ini, mengembalikan fungsi ibu sebagai pendidik utama akan membawa kesuksesan pendidikan di era pandemi. Sudah saatnya peran ibu dimaksimalkan sebagai guru dan sekolah terbaik dalam menyongsong kebangkitan dan kemenangan Islam. Sebab pendidikan tak butuh New Normal, tapi butuh New Sistem dalam bingkai Khilafah Islamiyah. 

Wallahu'alam bi showab.

Oleh: Puput Yulianti, S.Psi., S.Pd

Posting Komentar

0 Komentar