Pasar Terpapar, Jutaan Pedagang Terancam Gulung Tikar



Hingga jumat 12 juni 2020 Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat ada 529 kasus penyebaran covid ditemukan di pasar seluruh Indonesia. Ditambah 19 temuan kasus COVID di pasar Kebun Semai Palembang. Sebanyak 29 orang meninggal, menurut keterangan Ketua Bidang Keanggotaan DPP IKAPPI, Dimas Hermadiyansyah. (Borobudur news, 13 juni 2020)

Masih di berita yang sama Dimas Hermadiyansyah menyayangkan bila hal ini tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, beliau khawatir 12 juta orang yang notabene merupakan pedagang pasar akan kehilangan mata pencahariannya.

Masa transisi new normal saat ini menjadikan pasar sebagai media transmisi yang potensial bagi virus Covid-19. Karena pasar adalah tempat berkumpulnya manusia untuk melakukan kegiatan ekonomi dari berbagai penjuru tempat yang melibatkan barang dan jasa.

Walaupun masker dan hand sanitizer sudah dikenakan, dilengkapi dengan penyediaan tempat cuci tangan oleh pemerintah. Namun bila orang yang terpapar corona tak terdeteksi kemudian diisolasi apalah guna.

Banyak orang tanpa gejala tetap beraktivitas layaknya orang normal, pergi kepasar untuk memenuhi aneka kebutuhannya. Baik sebagai penjual maupun pembeli demi sesuap nasi dan mencukupi kebutuhan gizi.

Bila ada satu saja orang tanpa gejala (OTG) masuk ke pasar  kemudian melakukan transaksi jual beli dengan sesamanya, disitu akan menjadikan pasar sebagai cluster baru penyebaran virus Covid-19, yaitu cluster Pasar.

Hal ini akan memicu langkah dari pemerintah untuk melakukan penutupan pasar untuk menghentikan penularan yang lebih banyak lagi. Seperti penutupan beberapa pasar di Semarang, Jakarta, Surabaya dan Temanggung.

Hal ini akan berdampak bagi ketidaknormalan kehidupan perekonomian di pasar. Beberapa pasar menjadi sepi pengunjung karena ketakutan akan tertular virus Covid-19 dari pasar.

Namun disisi lain hal ini menjadi duka bagi banyak penjual yang mengais rizkinya dari pasar. Mereka harus menerima pil pahit dari corona effect.

Padahal sebelum ada virus corona, secara umum banyak pasar tradisional menjadi sepi pengunjung karena harus bersaing dengan e-commerce dan sejumlah mall.

Kini jutaan pedagang pasar harus memutar otak dan memeras keringat agar dagangan tetap laku dan dapur tetap ngebul. Asal kebutuhan sehari-hari masih bisa tercukupi saat pandemi.

Harusnya pasar tetap bertahan di tengah wabah, karena darinya jutaan rumah tangga bisa mendapatkan segala kebutuhan sehari-hari. Pasar adalah pusat kegiatan ekonomi yang sangat istimewa. Karena pasar memudahkan bertemunya produsen dengan konsumen, petani dengan pedagang, dan sebagainya.  

Islam sudah memiliki solusi atas keberlangsungan pasar saat pandemi. Negara sebagai pelindung warga dari segala bahaya memberikan layanan kesehatan secara optimal keseluruh masyarakatnya dan gratis.

Dari pusat kota sampai ke pedesaan dilakukan pemeriksaan kesehatan, kemudian mengisolasi dan melakukan pengobatan bagi yang hasil tesnya positiv terinfeksi virus. Mereka yang terinfeksi kemudian diisolasi dan mendapatkan perawatan secara intensif sampai benar-benar sembuh.

Sedangkan bagi yang sehat tetap beraktifitas secara normal. Roda ekonomi negara akan berjalan normal, termasuk kegiatan jual-beli didalam pasar.

Aktivitas akan berjalan normal tanpa diliputi oleh rasa was-was baik bagi penjual maupun pembeli. Karena virus telah dijauhkan dari kehidupan umum.

Justru dengan berjalannya aktivitas ekonomi di pasar akan menopang ekonomi dalam negeri dan daerah sekitar yang terdampak wabah.

Sebagaimana masa kekhilafahan Umar bin Khattab saat tertimpa wabah thaaun amwas. Tidak semua tempat yang melakukan karantina, tapi hanya tempat yang terdapat wabah.

Khilafah juga memperhatikan keberlangsungan pasar secara serius, baik disaat pandemi maupun tidak ada pandemi. Terbukti dengan adanya qadhi hisbah dimasa kekhilafahan Islam yang khusus menangani segala permasalahan yang muncul di dalam pasar.

Adanya doa masuk pasar, merupakan salah satu perhatian serius Islam kepada pasar. Agar kita terjaga dari gangguan syetan didalam pasar. Lafadz doanya sebagai berikut:

لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير

Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah, Yang Mahaesa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan, bagiNya pujian. Dialah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tanganNya kebaikan, Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu."

Selain doa, Rasul juga memberikan predikat terbaik bagi orang yang berjalan ke pasar untuk mencari nafkah karena Allah, diberikan predikat laksana jihad sebagaimana perjalanan k masjid maupun tempat lainnya.

Semua ini disampaikan baginda Nabi dalam sebuah hadits sebagai berikut:
"orang-orang yang datang membawa barang ke pasar ini laksana orang berjihad fisabilillah, sedangkan orang-orang yang menaikkan harga adalah seperti orang yang ingkar kepada Allah."( Akhmad Affandi Mahfudz :2014:19)

Kisah Abdurrahman Bin Auf pun membuktikan bahwa berkah yang beliau dapatkan saat berjualan di pasar pasca hijrahnya dari Makkah meninggalkan seluruh kekayaannya menjadikan ia mampu menghidupi istri-istri Nabi Muhammad setelah baginda Rasul meninggal dunia.

Ironi dengan keadaan saat ini, dimana pasar  tidak mendapatkan regulasi dengan baik. Semakin hari semakin sepi karena persaingan e-commerce dan banyaknya mall disekitar pasar tradisional. Semakin ngeri lagi saat pandemi.

Banyaknya pasar terpapar Covid-19 menjadikan beberapa pasar sepi pengunjung akibat pengaturan dalam mengatasi wabah yang kurang tepat. Kini jutaan pedagang pasar terancam gulung tikar karena pasar terpapar.

Sudah saatnya ekonomi masyarakat diperhatikan hanya dengan aturan Islam. Begitu istimewanya pasar di dalam Islam berbekal aturan Sang Pencipta dan pemimpin yang taat membawa keberkahan bagi semua umat didunia. Waalahualam.[]

Oleh Heni Trinawati, S. Si
Owner Toko Syifa Magelang

Posting Komentar

0 Komentar