TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pancasila, antara Harga Mati dan Bisa Diperas


Dari Bung Karno, pencetus Pancasila, dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, kita jadi tahu Pancasila bukan harga mati, karena bisa diperas menjadi Trisila, Trisila bisa diperas menjadi Ekasila.

Dari Mbak Mega, ketua umum partai penguasa, dalam pidato HUT PDIP 10 Januari 2017, kita jadi tahu Pancasila bukan harga mati, karena bisa diperas menjadi Trisila, Trisila bisa diperas menjadi Ekasila.

Dari RUU Haluan Ideologi Pancasila, yang telah disahkan menjadi RUU inisiatif DPR pada rapat paripurna DPR ke-15 Masa Persidangan III pada 12 Mei 2020, kita jadi tahu Pancasila bukan harga mati, karena bisa diperas menjadi Trisila, Trisila bisa diperas menjadi Ekasila.

Itu menunjukkan Pancasila bukan harga mati karena bisa diperas. Maka wajar tidak ada teriakkan Pancasila harga mati atau pembubaran paksa pengajian eh perayaan HUT PDIP atau pun membawa Mbak Mega ke meja hijau. Tapi giliran umat Islam menginginkan syariat Islam diterapkan secara kaffah maka dipersekusi dan dikriminalisasi sembari diteriaki itu melanggar Pancasila, Pancasila harga mati.

Sebaliknya, ketika Shophia (minuman keras beralkohol 40 persen) dibuat dan diedarkan tak ada teriakkan itu melanggar Pancasila, Pancasila harga mati. Bahkan minuman najis dan haram dalam pandangan Islam tersebut dilegalkan dan menjadi pendapatan asli salah satu daerah di negara Pancasila ini.

Begitu juga dengan praktik riba/bunga bank atau perampokan sumber daya alam oleh asing-aseng-asong tidak dikatakan itu melanggar Pancasila, Pancasila harga mati. Perbuatan-perbuatan haram dalam Islam itu malah dilegalkan dalam UU perbankan dan UU Minerba di negara Pancasila ini.

Jangan heran, karena dari pernyataan orang yang paling memiliki otoritas dalam pembinaan 'ideologi' Pancasila, Ketua BPIP Yudian Wahyudi pada 12 Februari 2020 bahwa "agama (baca: Islam) merupakan musuh terbesar Pancasila". Pernyataan dia tentu saja mengonfirmasi fakta sejarah. 

Bila kita baca sejarah, kita akan dapati permusuhan orang-orang sekuler terhadap Islam terjadi sejak Pancasila belum lahir, lahir, anak-anak, remaja hingga dewasa ini. Bahkan sejak Bung Karno berkuasa dan memberikan ruang yang besar bagi komunis, maka Pancasila pun dijadikan oleh sekuler dan komunis untuk menggebuk siapa saja yang ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah. 

Jadi sejatinya, sekarang ini terjadi peperangan tiga ideologi yakni (1) kapitalisme (akidah: sekuler; sistem pemerintahan: demokrasi); (2) komunisme (akidah: ateis [tetapi followernya bisa saja mengaku percaya Tuhan]; sistem pemerintahan: diktator [tapi bisa saja berkedok demokrasi]; dan (3) Islam (akidah: tauhid; sistem pemerintahan: khilafah [tapi terkadang umat Islamnya enggak paham khilafah sehingga mengira syariat Islam dapat diterapkan secara kaffah dalam demokrasi]). 

Sedangkan Pancasila? Hanya hasil kompromi dari orang-orang yang berideologi. Dan pada praktiknya sepanjang sejarah berdirinya NKRI hingga hari ini, menjadi alat kaum sekuler dan komunis untuk menggebuk upaya penerapan syariat Islam secara kaffah.

Oleh Joko Prasetyo, S. Sos
Jurnalis

Posting Komentar

0 Komentar