TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

'New' Rumit Bagi Anak di Tahun Ajaran Baru



Anak-anak rentan terinfeksi covid, baik karena tertular orang tuanya atau lingkungannya. Maka rencana Tahun ajaran baru dengan sekolah new normal akan menghadapi kerawanan masalah tersendiri.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah, khawatir mengancam kesehatan anak karena penyebaran virus corona (Covid-19) belum menurun. (Okezone.com, 27/5/2020)

Menurut data IDAI, hingga tanggal 18 Mei 2020 jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus. Anak status PDP meninggal sebanyak 129 orang dan 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19. (Kumparan.com, 1/6/2020)

Bila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah. Bagi orang tua yang super protect, masa iya anaknya diwajibkan memakai APD?

Kemudian, sanggupkah semua tenaga pendidik dan kependidikan mendisiplinkan siswa untuk rajin cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak. Belum lagi kondisi keuangan sekolah, cukupkah untuk menjaga lingkungan sekolah tetap bersih dan selalu disemprot cairan disinfektan. Kadang masih ada sekolah yang kesulitan air bersih. Benar-benar ini new rumit, bukan new normal.

Curhat sana sini, berkeluh kesah pun tiada guna. Alhamdulillah masih ada yang peduli dan membuat petisi tunda masuk sekolah kala pandemik. Apakah petisi ini direspon baik dan kemudian pemerintah membatalkan keputusannya? Bagaimana kalau tidak ada yang membuat petisi penolakan kebijakan ini? Bagaimana pula jika pemerintah tetap pada kebijakannya?

New rumit ini sesungguhnya dampak dari penerapan sistem kapitalisme-sekuler. Ketundukan pada tuan kapitalis lebih utama daripada nyawa rakyat. Menyelamatkan ekonomi kapitalis lebih penting ketimbang lockdown. Logikanya, kalau banyak yang sakit, maka akan banyak pula dana yang dikeluarkan, mungkinkah Indonesia akan menambah hutang? Kemudian, produk-produk kesehatan laris manis.

Bisnis adalah pertimbangan utama kapitalis tetap berdenyut. Rival bebuyutan AS, Inggris juga tak mau kalah. Negara ini telah mengembangkan tes deteksi virus corona (SARS-CoV-2) secara massal dan murah berwujud perangkat yang bisa digenggam seharga US$120 (Rp1,9 juta) yang dikembangkan peneliti Brunel University London, Lancaster University, dan University of Surrey.

Yang tak kalah seksi adalah bisnis vaksin. Tak hanya produsen farmasi global macam Pfizer Inc., GlaxoSmithKline, Novavax, atau Takeda Pharmaceutical Company Ltd., sejumlah negara akan patungan hingga US$4 miliar (Rp64 T) untuk melakukan riset vaksin di bawah kendali G20 yang akan bekerja sama dengan WHO dan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI).

Dan bisnis yang menguntungkan dalam situasi krisis adalah utang. Bank Dunia baru saja menyetujui pinjaman US$300 juta (Rp4,95 triliun) untuk Indonesia. Sebelumnya Asian Development Bank/ADB turut memberikan ‘hibah’ senilai US$3 juta (Rp48 miliar) untuk membeli ventilator dan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan, apron, dan masker bagi tenaga medis. (Muslimahnews.com, 13/4/2020)

Begitulah kapitalisme. Sebagai orang tua yang sayang anak, yang kita lakukan harus lebih dari petisi "Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemik" saja, alangkah baiknya ada petisi lanjutan yaitu menolak sistem kapitalisme-demokrasi yang menjadi sumber berbagai permasalahan kehidupan, dan mendukung penerapan Islam secara kaffah (total). Para orang tua juga harus ikut melakukan dakwah amar ma'ruf nahi munkar kepada masyarakat dan negara.

Di dalam penerapan syari'at Islam, salah satunya terdapat solusi hifdzun an-nafs (menjaga jiwa); Melindungi nyawa rakyat merupakan hal utama daripada melindungi stabilitas ekonomi. Nabi SAW bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasai & Turmudzi).

Hal tersebut dapat diwujudkan melalui institusi Negara Khilafah. Karena Khilafah memiliki peran wajib yang berhubungan langsung dengan ketundukan dan ketaatan pada Allah Ta'ala.

Pertama, peran sebagai “raa’in”, pengurus urusan rakyat, termasuk pengurusan hajat hidup publik sesuai tuntunan syariat. Ditegaskan oleh Rasulullah SAW,

 الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ 

“..Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Ahmad, Bukhari).

Kedua, adalah peran sebagai “junnah” (perisai) yakni pelindung sekaligus sebagai pembebas manusia dari berbagai bentuk dan agenda penjajahan. Ditegaskan Rasulullah SAW,

 إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ 

“Imam adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, di dalam Islam, harta, darah dan kehormatan setiap warga negara adalah tanggung jawab penuh negara. Rasulullah SAW bersabda,

(( فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ ))

“Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini, dan negeri ini. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir…" (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan penerapan Islam secara kaffah (total) dalam Negara Khilafah, maka rakyat akan mendapatkan pemenuhan asasinya dan perlindungan dari bahaya hegemoni neo-imperialisme kapitalisme. Yang menjadi pemimpin pun tunduk dengan hukum-hukum Allah SWT dalam menjaga kedaulatan negara dan mengurusi rakyat. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ

“Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum muslim, lalu dia tidak memedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan memedulikan kebutuhan dan kepentingannya (pada Hari Kiamat).” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Islam itu tidak rumit. Kerumitan terjadi disebabkan sekulerisme dimana agama dijauhkan dari kehidupan, ini merupakan asas ideologi kapitalisme. Pilihan ada pada Anda, ingin mulia dengan Islam, atau jahiliyah dengan capitalism. Wallahu'alam.[]

Oleh : Sri Wahyu Indawati, M.Pd (Inspirator Smart Parents)


Posting Komentar

0 Komentar