TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

New Normal, Solusi Jitu atau Ajang Coba-coba


Awal Maret 2020 Covid-19 hadir di Indonesia, ditandai dengan pengumuman  Presiden Joko Widodo yang menyatakan  dua orang positif terjangkit virus. Hingga bulan Juni 2020 jumlah kasus kian bertambah. Tak hanya Indonesia, berbagai negara lainpun mengalami hal yang sama. Alih-alih mengharapkan grafik jumlah terpapar virus akan mengalami penurunan, realita yang ada malah semakin melonjak. Belum lagi ancaman serangan pandemi gelombang kedua.

Sebelum kasus Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO, pemerintah Indonesia saat itu tidak mengambil langkah yang tepat bahkan terkesan lamban mengantisipasi penyebaran virus, padahal beberapa negara telah terpapar virus dalam waktu yang sangat cepat. Parahnya lagi pemerintah sempat mengatakan bahwa Indonesia kebal Covid-19.

Di tengah kekalutan Indonesia  menghadapi pandemi, pemerintah malah menawarkan solusi baru yang diusulkan oleh PBB melalui lembaga kesehatan dunia (WHO), yaitu menyerukan New Normal Life agar perekonomian, tatanan kehidupan masyarakat dan negara bisa berjalan. New normal dimaknai bahwa rakyat harus berdamai dengan Covid-19 dan menjalankan aktivitas seperti biasa layaknya sebelum pandemi dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Padahal situasi saat ini masih sangat riskan dan risiko terinfeksi masih tinggi. Tanpa berfikir panjang tentang dampak yang ditimbulkan dan penolakan dari berbagai pihak terutama para pakar kesehatan, Indonesia malah mengikuti arahan New normal yang seolah-olah bagaikan angin segar di tengah teriknya matahari.

Belum cukup satu bulan sejak diberlakukannya New normal, kasus Corona terus mengalami peningkatan di berbagai daerah. Jumlah kasus baru tembus di atas seribu per hari. Berdasarkan data yang dihimpun dalam 24 jam terakhir, penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 54, 010 (Kompas.com 28/6/2020)

Pakar epidemologi memprediksikan angka penyebaran Covid-19 di Indonesia akan tembus 6000 per hari, bahkan salah satu media Australia dalam sebuah artikel yang berjudul “The World’s next coronavirus hotspot is emerging next door” yang dimuat dalam situs berita The Sidney Morning Hearld (SMH) ditulis pada tanggal 19 juni 2020 menyebutkan Indonesia mungkin akan menjadi hotspot atau pusat baru virus Corona. Prediksi ini bukan tanpa alasan, melihat kasus yang tiap hari semakin melonjak tajam. 

Dewan pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Herman Saputra menuturkan bahwa pemerintah telah bersikap gegabah dengan membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) hingga menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat. Inilah risiko pembukaan sektor-sektor tersebut, kita sekarang mengalami kenaikan kasus secara  konsisten di atas 1.000 per hari. Lonjakan ini terjadi di berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang cukup signifikan. (Bisnis.com 21/6/2020)

Dengan diberlakukannya New normal dan pelonggaran PSBB, tingkat kewaspadaan di tengah-tengah masyarakatpun berkurang. Meski ada arahan dari pemerintah untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan, namun pemerintah sendiri kurang memberikan pemahaman melalui sosialisasi kepada masyarakat. Wajar jika akhirnya muncul kebingungan dalam menyikapi new normal. Padahal jika merujuk pada aturan WHO, New normal baru bisa diterapkan ketika tidak ada penambahan kasus baru atau grafik penyebaran Covid-19 mengalami penurunan. 

Sebelum Indonesia, ada beberapa negara yang mengambil langkah New normal dengan alasan pertumbuhan ekonomi namun semuanya mengalami kegagalan seperti Iran, Pakistan, India dan negara-negara lainnya. Indonesia dengan alasan yang sama menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan. Demi meraup keuntungan segelintir orang, nyawa rakyat pun dijadikan taruhan.

Kesehatan merupakan hak dasar yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh pemerintah selaku pelayan rakyat sebelum memikirkan kebijakan di bidang lainnya. Jika Indonesia masih tetap melakukan pelonggaran atas  pembatasan sosial di masa pandemi ini, jangan heran jika korban masih terus berjatuhan. Rela mengorbankan rakyat demi meraup keuntungan adalah suatu hal yang biasa terjadi karena saat ini kita berada dalam cengkeraman kapitalis-sekuler dengan asas manfaatnya. Tidak diperhatikan lagi sudah berapa banyak korban berjatuhan akibat salah mengambil kebijakan. 

Dengan adanya virus Corona semakin membuka mata dan fikiran kita, begitu buruknya sistem kehidupan yang diterapkan hari ini. Pertanyaannya Pertanyaannya sekarang, ketika sistem dinilai gagal dalam menghindarkan bahaya yang menimpa masyarakat serta problematika yang tak kunjung terselesaikan, adakah sistem yang mampu menyelamatkan serta menyelesaikan problematika umat? Jawabannya tentu ada, yakni dengan diterapkannya syari’at Islam di segala lini kehidupan yang terbukti mampu memuliakan manusia, pun dapat menyelesaikan persoalan wabah dengan tepat. 

Cara Islam dalam menghentikan wabah yaitu dengan isolasi wilayah yang terkena wabah/pandemi. Di saat yang sama negara harus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat seperti pangan, sandang, dan papan sepanjang waktu, ketika kondisi normal sekalipun. Jaminan kesehatan dan keamanan juga diberikan kepada seluruh warga negara sehingga kemiskinan dan kelaparan dapat terselesaikan.

Di masa kepemimpinan Rasulullah SAW ternyata pernah terjadi wabah Tho'un. Beliau memerintahkan untuk mengisolasi wilayah serta orang-orang yang tertular. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Islam kepala negara memiliki tanggung jawab yang besar dalam melindungi rakyat. Ia akan ikhlas dalam melayani. Ia pun tak akan menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan layaknya pemimpin dalam sistem kapitalis-sekuler, yang atas dasar mempertahankan perekonomian bangsa memberlakukan New normal yang sangat berisiko terhadap rakyat.

Sudah saatnya kita kembali menerapkan syariat Islam secara kaffah yang akan menyelesaikan seluruh problematika kehidupan, termasuk masalah wabah. Hanya Khilafah penerap syari'at Islam yang mendatangkan kemaslahatan bagi sekalian alam, memberikan aturan yang memanusiakan manusia, hingga Allah swt Melayakkan keridlaan-Nya untuk kita. Wallaahu a'lam.[]

Oleh Rasdiana

Posting Komentar

0 Komentar