New Normal, New President, and New System


     Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin segera menerapkan tatanan norma baru atau new normal saat pandemi covid-19 berlangsung. Namun, apa yang direncanakan Jokowi itu disindir oleh Pengamat Politik Muslim Arbi. Menurutnya, rakyat saat ini tak meninginkan penerapan new normal. Kata dia yang diinginkan oleh rakyat saat ini adalah new presiden atau presiden baru.

     Muslim yang juga sebagai Direktur gerakan perubahan ini menjelaskan bawha kebijakan baru pemerintah tersebut bukan menjadi jalan keluar demi mencegah penyebaran virus corona. Sebab, kata dia hal itu malah akan meningkatkan kasus covid-19. Lantas, dia menduga Jokowi ingin mengorbankan rakyat dalam menghadapi pandemi ini melalui kebijaknnya.

     Muslim juga menambahkan walaupun kebijakan new normal akan mendongkrak kegiatan ekonomi namun mempunyai dampak terhadap kesehatan masyarakat. Meski mendapat kritikan, Presiden Joko Widodo sudah meminta jajarannya untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh rakyat Indoensia tentang new normal ini. (Idtoday.co.29/05/2020) 

     Penerapan kebijakan yang baru ditengah pandemi kembali jadi polemik. Muncul fase baru yang diterapkan oleh pemerintah yang disebut dengan New Normal. Kurva pandemi dikabarkan belum menunjukkan landai, lalu dengan cepat terjadi pergantian fase baru dari PSBB menjadi New Normal. Benarkah Indonesia sudah siap dengan fase New Normal ini? Dan Apakah negeri ini akan benar-benar menjadi normal? 

New Normal dalam Situasi abnormal? It's nonsense! 

     Berbicara kata normal tentu tidaklah sembarang. Sebab normal tidaknya suatu keadaan harus dilihat dari sebuah sudut pandang yang khas. Bukan asal membuat label normal tetapi faktanya dalam keadaan abnormal. 

     Pemberlakuan fase new nornal untuk kategori wabah tentu harus dibuktikan juga dengan data empiris dan data akurat tanpa rekayasa. Pasalnya, soal data-data bukan hal yang aneh jika direkayasa sesuai kepentingan situasi atau desakan tertentu. Makanya banyak orang yang sulit mempercayai perolehan data jika berasal dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan dibalik data tersebut. Dan merujuk data independen juga sangat sulit karena minimnya penelitian yang tanpa kepentingan. Kalaupun ada, dengan mudah tergilas data yang memiliki kekuatan seperti media dalam mempublikasikannya. 

      Data-data yang diberitakan kepada masyarakat oleh media terkait pasien terinfeksi juga seperti sedang bermain adu cepat dan adu rating. Disatu sisi memberitakan kenaikan pasien covid-19, disisi lain memberitakan drastis penurunan dan kesembuhan pasien covid-19. Beginilah sajian berita yang sulit dipahami oleh The readers mana yang layak di percaya. Pasal corona saja, pemerintah sudah gagal memberikan informasi yang benar kepada rakyat. Membiarkan media bermain informasi tanpa peduli masyarakat percaya kepada siapa. Sungguh abnormal. 

     Seketika pemberlakuan fase new normal jelas mengejutkan masyarakat. Apalagi defenisi dan jalan pemikiran new normal yang diterapkan tersebut jauh dari kondisi normal yang diinginkan oleh rakyat. Katanya new normal, tetapi hanya mall dan supermarket yang dibuka. Sementara pedagang-pedagang kecil masih dibatasi bahkan dilarang dengan alasan PSBB. 

     New Normal juga memiliki beberapa fase hingga akhir tahun. Dan program new normal tersebut terlihat sangat tidak normal bagi rakyat secara umum sebab harus bertarung dengan kondisi kesehatan yang buruk dan kebijakan yang carut marut. 

     Situasi upnormal Indonesia semakin terlihat ditengah pandemi. Sebelumnya masih banyak masyarakat yang tidak yakin dan paham bahwa Indonesia tengah tergadai utang, praktik kongkalikong, juga kebohongan rezim. Sekarang seperti terkuak dengan lebar dari segala sisi. Contoh sederhana saja soal kartu prakerja, yang tadinya jadi harapan generasi milenial kini kandas sebab tidak jelas dana maupun programnya. Justru yang diuntungkan adalah tetap pengusaha pengelola program, yaitu swasta. 

     Kemudian secepat kilat UU Minerba disahkan dan juga Omnibus law. Ditambah biaya BPJS terus dinaikkan. Padahal MK telah membatalkannya. Penjahat di remisi hukumannya, tetapi orang-orang yang sebenarnya dibutuhkan negeri ini seperti ilmuwan, habaib, justru diburu. Belum lagi kedzaliman UU Corona yang syarat dengan keselamatan penguasa dan anti kritik. 

     Permasalahan tenaga media juga tak kalah miris. Awalnya diberi janji insentif tenaga medis karena wabah akan ditambah oleh pemerintah. Faktanya, sampai sekarang yang dicairkan hanya beberapa RS Rujukan. Bahkan berdasarkan informasi yang sedang viral, malah insentif awal tenaga medis dipotong. Bantuan covid-19 rusuh dan tidak tersentuh menyeluruh. Bahkan menurut kabar terbaru, untuk pencairan selanjutnya negara hanya mampu memberikan 300.000/RT. Kemana 300 ribu sisanya?

     Belum  bicara soal surat utang 50 tahun diterbitkan. Pembengkakan utang luar negeri seakan-akan tidak terkendali lagi. Kemana semua uang yang diutangkan? Apakah ribuan triliun tidak mampu menyelamatkan negeri ini? Sedihnya lagi, dana haji juga akan dipakai untuk penanganan wabah. 

Indonesia New Normal? Butuh New Pemimpin dan New System

     Pernyataan yang disampaikan oleh Muslim Arbi ada benarnya. Sebab rakyat tidak butuh fase new normal yang tidak normal. New normal macam apa tapi menyengsarakan rakyat? Itukah nornal defenisi baru? Bahkan Muslim mengatakan sudah butuh Presiden baru. Jika melihat kondisi negeri yang hampir tumbang ibarat kapal yang sedang oleng, tentu membutuhkan nakhoda baru yang mumpuni, cakap, juga adil. 

     Tuntutan kebutuhan adanya pemimpin baru sangatlah mendesak bagi Indonesia. Namun satu catatan penting harus digaris bawahi, bahwa sosok saja tidak akan cukup dalam menyelesaikan masalah bangsa ini. Jika hanya terus bertumpu pada sosok, maka rakyat akan terus kecolongan dengan politik pencitraan yang pada akhirnya kekecewaan yang muncul seperti sekarang. 

     Sosok memang perlu. Tetapi isi kepalanya tidak biasa dianggap main-main. Betapapun sosok tersebut berkharisma secara fisik, tetapi jika kebijakan yang diambil hanya melanjutkan kerusakan sebelumnya, tidak akan mampu membawa perubahan hakiki. 

     Indonesia dengan mayoritas penduduknya muslim sebenarnya layak menjadi rujukan negeri muslim lain. Sayangnya, malah jadi olok-olokan. Karena tidak berdiri di atas hukum mulia yang diamanahkan oleh Sang Pencipta manusia. Hukum yang telah diabadikan sejarah mampu memberikan contoh kondisi dunia dan peradaban yang normal bagi manusia. Kenormalan hidup yang belum pernah diberikan oleh sistem kehidupan manapun di dunia ini. Itulah sistem pemerintahan Islam yang disebut Khilafah. 

     Pelajaran penting yang harus diambil dari musibah wabah ini adalah bahwa Indonesia dan rakyat keseluruhan hanya akan selamat dan bangkit menuju Indonesia yang lebih baik dengan sistem Islam. Islam telah memberikan kriteria sosok bagi calon pemimpin sistem terbaik sedunia. Disamping ia juga telah dibekali dengan seperangkat aturan hidup dan menjalankan roda pemerintahan agar rakyat mencapai hidup yang betul-betul normal, dengan syariah Islam. 

     Standar hidup normal tidaknya masyarakat tergantung pada ideologi yang dianut. Ideologi yang melahirkan aturan yang sesuai fitnah manusia, menentramkan jiwa dan memuaskan akal. Itulah kenormalan sejati. Semua itu hanya ada dalam seperangkat syariah Islam yang mulia. 

     Indonesia hanya akan meraih predikat normal life dengan new system yakni sistem Islam yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang sudah ditetapkan standarnya oleh syariah. Mari menuju new normal dengan new system bersama Islam kaffah. InsyaAllah. Wallahu a'lam bissawab.

Oleh Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Posting Komentar

0 Komentar