New Normal Life dan Ancaman Gelombang Kedua Corona


Indonesia bersiap menghadapi era normal yang baru atau new normal pada kondisi angka kasus pandemi virus Corona (COVID-19) masih tinggi.

Jokowi meminta agar tatanan new normal yang sudah dipersiapkan Kementerian Kesehatan disosialisasikan secara masif kepada masyarakat agar menimbulkan kesadaran pentingnya menjalankan protokol kesehatan. Apabila efektif, pemerintah akan gelar perluas lagi ke provinsi yang lain, begitu penjelasan Jokowi di istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.(cnbcindonesia.com, 27/5/2020)

Hal tersebut diharapkan akan dapat menggerakan kembali kegiatan perekonomian yang laju pertumbuhannya sempat terpuruk di kuartal I-2020, yaitu hanya 2,97% berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Lantas apakah era new normal ini menjadi kabar baik bagi perekonomian Indonesia? Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet, hal itu tergantung kesiapan Indonesia untuk hidup berdampingan dengan virus Corona yang hingga kini belum ada vaksinnya.

Menurut Rendy jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, kegiatan lockdown yang terus-menerus akan berdampak buruk bagi ekonomi sehingga mau tidak mau pemerintah harus mengambil jalan tengah. Dan menurut dia jalan tengah yang di-propose pemerintah saat ini adalah dengan mewacanakan untuk melonggarkan dalam hal ini PSBB.(detik.com, 26/5/2020).

Sepertinya Jokowi benar-benar serius untuk menerapkan era new normal ini. 

Pada 26 Mei 2020 lalu Jokowi mendatangi kawasan perniagaan Summarecon Mall Bekasi. Untuk meninjau persiapan protokol new normal di tengah pandemi virus corona. Summercon Mall Bekasi rencananya mulai dibuka kembali pada senin 8 Juni 2020. (kompas.com, 27/5/2020)

Apakah kebijakan era normal baru atau new normal ini berbahaya untuk rakyat bila dikaitkan dengan pernyataan Jokowi sebelumnya yaitu himbauan berdamai dengan corona. Sepertinya era normal baru ini adalah bentuk cara berdamai dengan virus Corona. Dalam bahasa lain setiap orang dipaksa beradaptasi dengan  Covid19 yang terus menginfeksi dan bermutasi.

Hal ini sangat berbahaya terutama untuk kelompok rentan di tengah Indonesia yang tidak memiliki peta yang jelas terkait dengan penyebaran Covid-19.

Menurut Yanuar Nugroho penasehat Center for Innovation Policy and governance(CIPG). Jika masyarakat hidup bersama dengan virus ini tapi tidak ada Measure secara khusus untuk melindungi mereka yang rentan ini sama saja menghadapkan mereka dengan maut. Peta penyebaran Covid-19 di negeri ini tidak jelas. karena tidak adanya tes masif untuk mendeteksinya.(kompas.tv.com, 17/5/2020)

Berapa sebenarnya korban meninggal akibat terinfeksi virus corona di Indonesia? Bagaimana peta sebarannya? Apakah angka-angka yang muncul sudah valid sebagai pijakan kebijakan? Berbagai pertanyaan besar itu menjadi salah satu sumber silang pendapat, antara pemerintah dengan sejumlah ahli epidemiologi dan aktivis gerakan masyarakat.(voaindonesia.com, 28/5/2020)

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan: "Indonesia harus bersiap menghadapi pandemi Covid-19 gelombang kedua jika Pemerintah menerapkan era new normal saat angka penularan virus Corona masih tinggi". 

Menurut Pandu, bahkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) baru bisa dilonggarkan jika angka penularan sudah menurun.

Lalu bagaimana jika era normal baru diterapkan saat penularan masih tinggi dan masih perlu diterapkan PSBB? Maka pemerintah wajib bersiap-siap akan menghadapi gelombang kedua pandemi yang lebih berat.(kompas.com, 18/5/2020)

Efek lanjutannya tentu adalah beban sangat berat untuk tenaga kesehatan. Era new normal hanyalah menambah carut-marutnya kebijakan penanganan Covid-19 oleh rezim penguasa. Era new normal adalah wujud rezim penguasa lebih berorientasi pada ekonomi dan Abai terhadap penanganan Covid-19. 

Dan Jahatnya lagi Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah rapat kabinet terbatas lewat video conference menyatakan apabila terjadi gelombang kedua penularan virus corona, aktivitas bisa kembali dihentikan. "Kalau terjadi secondary wave (gelombang kedua) maka kegiatan akan dihentikan dan kegiatan pun akan terganggu kembali".(katadata.co.id, 27/5/2020)

Astaghfirullah nyawa rakyat dianggap apa?. Bisakah mereka menghidupkan nyawa yang telah hilang dari raga ini jika kebijakan uji coba tersebut dilaksanakan?. Rezim penguasa yang demikian adalah rezim yang jahat dan sangat dibenci oleh Allah.

وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Manusia yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari-Nya adalah pemimpin yang jahat.” (HR at-Tirmidzi).

وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

“Seburuk-buruk para pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; yang kalian laknat dan mereka pun melaknat kalian.” (HR Muslim).

Para pemimpin yang jahat ini menyimpang dari hukum-hukum Allah, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, serta kerap mengkhianati amanah. Para pemimpin seperti ini disebut oleh Nabi saw. sebagai imarah as-sufaha (para pemimpin dungu). 

Wabah corona memang telah memberi kita pelajaran bahwa kekuasaan yang tak berbasis pada Aqidah Islam hanya akan melahirkan kerusakan, kedzaliman demi kedzaliman. Berbeda jauh dengan kekuasaan yang tegak di atas landasan Iman. Kekuasaan Islam telah terbukti membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam. Karena sistem hidup yang diterapkannya berasal dari sang Maha Pencipta kehidupan. Kekuasaan Islam yang disebut sebagai Khilafah senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal dan nyawa rakyatnya dipandang Begitu Berharga.

Fakta Hal ini akan tampak saat negara dalam keadaan ditimpa kesulitan baik karena bencana maupun karena serangan musuh-musuhnya. Di situasi seperti ini kekuasaan selalu tampil sebagai perisai utama di mana penguasa siap membela rakyat dan mendahulukan kepentingan kepentingan mereka dibanding kepentingan dirinya. Tak heran jika benih-benih peradaban Cemerlang bermunculan demi memberi jalan keluar terhadap berbagai persoalan. Berbagai penelitian teknologi, sistem administrasi, pembangunan superstruktur dan infrastruktur, semua didedikasikan Khilafah Islam untuk kepentingan mengurus dan menjaga umat serta demi kemuliaan agama mereka. Bukan demi memuaskan kerakusan Para pemilik modal sebagaimana dalam sistem sekarang.

Sudah saatnya umat kembali ke sistem Islam yang negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat. Sehingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberi mereka predikat bergengsi sebagai sebaik-baik umat

Dalam Q.S Al imran : 110

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ


Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Oleh Nabila Zidane
Forum Diskusi Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar