New Normal Life, Bahaya?

sumber foto: m.malangpostonline.com

Dalam rangka menyambut era new normal Wakil Presiden RI Prof. Dr. K. H. Ma'ruf Amin mengimbau agar masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan untuk mengahadapi bahaya Covid-19 dan keterpurukan ekonomi. Menjaga physical distancing, menggunakan masker, mencuci tangan, dan menghindari berbagai kerumunan.

Apabila itu bisa kita laksanakan dengan baik, Insya Allah new normal akan dapat kita lalui dengan baik dan kita bisa menghilangkan dua bahaya itu yaitu darurat Covid-19 dan darurat keterpurukan ekonomi. Mari bersemangat kembali, sambut new normal dengan new spirit", ungkapnya. ( detik.com, 12/6/2020)

Nekat new normal disaat angka kasus Covid-19 belum ada tanda-tanda penurunan adalah tidaklah tepat. Karena
sama saja menghadapkan rakyat dengan dua bahaya yaitu darurat Covid-19 dan darurat keterpurukan ekonomi.

New normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, masjid, sosial, pendidikan dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar (protokol) kesehatan yang sebelumnya tidak ada semasa belum ada pandemi. Pelaksanaan new normal wajib distandarisasi protokol kesehatan yang lebih tinggi. Masyarakat dihimbau untuk disiplin memakai masker, mencuci tangan, menyemprot desinfektan, menjaga jarak, menghindari sentuhan, hingga mengutamakan pembayaran non-tunai.

Nekat new normal sama dengan bahaya. Karena tingkat risiko penularan sebenarnya masih sangat tinggi. Kurva pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak. Dengan demikian, Indonesia masih jauh dari akhir pandemi. Lihatlah angka penambahan jumlah kasus positif Covid-19 berdasarkan kompas.com sampai dengan 14 Juni 2020 masih sangat tinggi, yaitu 38.277 kasus, 14.531 sembuh dan 2.134 meninggal.

Belajarlah dari pengalaman beberapa negara yang telah dinyatakan aman dari Covid-19 seperti Korea. Baru beberapa pekan lalu Korea Selatan merayakan kesuksesan mereka melawan virus corona penyebab pandemi Covid-19 dengan melonggarkan jaga jarak sosial, membuka kembali sekolah. Namun, kemunculan kasus penularan baru di kawasan Seoul yang dihuni sekitar 51 juta membuat beberapa pekan belakangan Seoul dan beberapa kota di sekitarnya kembali memberlakukan pembatasan dengan menutup ribuan klub malam, bar dan tempat karaoke.

Apakah mau Indonesia begitu? rakyat dibiarkan tertular? Kita ketahui selama masa PSBB diberlakukan saja masih banyak pelanggaran. Ditambah lagi banyaknya hoaks atau rumor yang menyangsikan apakah benar Covid-19 ini adalah virus berbahaya. Akibatnya, sebagian masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah. Dampaknya sebagian besar masyarakat abai dalam menjalankan protokol kesehatan. 

Sangat miris, memang benar pemerintah menghimbau masyarakat waspada Covid-19. Namun disisi lain pemerintah membiarkan masyarakat bertarung sendirian melawan musuh yang tidak terlihat. Sungguh pertarungan yang tidak seimbang. Seharusnya negara tampil sebagai perisai rakyat, melindungi keselamatan nyawa rakyat bukan keselamatan ekonomi.

Begitulah kebijakan penanganan wabah ala kapitalisme. Sejatinya mereka hanya peduli dengan ekonomi. Para pengemban ideologi kapitalisme lebih takut  ekonominya hancur  daripada kehilangan nyawa rakyatnya. Untuk itulah, mereka membuat skenario penanganan corona sekaligus meminimalisir kejatuhan ekonomi kapitalis. Yaitu, dengan konsep new normal life. 

Setelah adanya kebijakan new normal bisa dipastikan masyarakat akan berduyun-duyun keluar rumah. Bahkan ada yang memilih mudik. Kendaraan umum sudah dibuka lagi demi lancarnya aliran ekonomi. Bayangkan apa yang akan terjadi kepada rakyat 14 hari ke depan? akankah muncul gelombang kedua yang lebih besar lagi? di mana akan banyak rakyat bertumbangan di jalan-jalan, astaghfirullah. Semoga Allah melindungi negeri ini, aamiin.

Seharusnya pemerintah benar-benar berani memulai segalanya dari nol. Segeralah menutup wilayah yang masuk zona merah, lebih-lebih zona hitam seperti Surabaya. Namun sepertinya pemerintah tidak terlihat akan melakukannya. 

Sikap pemimpin seperti ini merupakan cerminan pemimpin dalam sistem kapitalisme. Pemimpin dalam sistem kapitalisme ini tidak akan pernah serius dalam mengurusi urusan rakyatnya. Namun justru akan sangat serius dalam mengamankan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Berbeda dengan kepemimpinan menurut islam. Pemimpin adalah pemelihara urusan rakyat yang tidak hanya berdimensi dunia, tetapi juga akhirat.

Inilah yang membuat para khalifah dalam sistem Islam atau khilafah sangat serius mengurusi urusan rakyatnya. Menjaga keselamatan mereka terutama jika terjadi wabah penyakit seperti saat ini. Khalifah akan  melakukan lockdown di wilayah pandemi sebagai upaya untuk menekan penyebaran penyakit dari zona merah ke zona hijau.

Sebagaimana syariat memerintahkan tidak mencampurkan orang yang sakit dengan orang yang sehat. Upaya ini akan membantu wilayah di luar wabah dapat melakukan aktivitas perputaran roda ekonomi dalam kondisi normal. Sehingga masyarakat di luar wilayah wabah bisa memberikan bantuan. 

Lalu mengisolasi yang sakit dan menyembuhkan yang sakit hingga benar-benar sembuh. Khalifah akan menjamin kesejahteraan rakyatnya, menjamin ketersediaan makanan, minuman, alat kesehatan dan penanganan untuk mengobati penyakit serta meningkatkan imunitas tubuh rakyat yang dikarantina. Adapun pembiayaan selama masa karantina tersebut akan ditanggung oleh negara melalui pos baitul maal.

Semestinya dengan adanya wabah covid19 ini manusia bisa mengambil hikmah betapa kecil dan lemahnya manusia. Menghadapi makhluk yang tak terlihat ini manusia tak berdaya. Semestinya manusia sadar bahwa hanya Allah Yang Maha Besar yang berhak mengatur kehidupan hambaNya..

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar