TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

New Normal: Kapitalisme Cuci Tangan


Sejak munculnya virus corona pada akhir tahun 2019, kurva penyebaran terus meningkat. Hingga saat ini virus tersebut sudah menjangkit 213 negara. Walaupun beberapa negara sudah mulai pulih dari virus ini, namun sejumlah ahli memprediksi pandemi virus corona Covid-19 bisa berlangsung lama. Hal ini dikarenakan belum ditemukannya vaksin atau obat untuk virus corona.

Virus corona yang melanda negri ini menyebabkan kehidupan tidak normal sebagaimana biasanya, Krisis Kesehatan, Ekonomi, dan Sosial terjadi. oleh karena itu presiden Jokowi membuat kebijakan new normal life.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Bapak Wiku Adisasmito, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan virus corona.

Pemerintah sudah gencar mewacanakan pelonggaran ktivitas sosial serta ekonomi dan bersiap kembali beraktivitas dengan skenario new normal. Dan mulai menerapkannya pada lingkungan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji mengatakan skenario ini merupakan pedoman yang disiapkan agar PNS dapat bekerja optimal selama vaksin Corona belum ditemukan. Dia mengatakan waktu penerapan skenario kerja 'new normal' ini akan bergantung pada arahan dari Gugus Tugas Covid-19.

Wahyu menambahkan ada tiga komponen yang diatur dalam skenario new normal. Pertama, skenario ini akan menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel (flexible working arrangement) yang membuat ASN bisa bekerja dari kantor, rumah, atau tempat lain.

Kedua, skenario ini juga mewajibkan penerapan protokol kesehatan, seperti jaga jarak, pemakaian masker dan cuci tangan untuk mencegah penularan virus selama bekerja. Skema ini, jelas Wahyu, tentunya akan diiringi dengan penyesuaian sarana dan ruang kerja.

Ketiga, percepatan dan perluasan penerapan teknologi informasi dan komunikasi juga harus dilakukan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, misalnya melalui e-office, digital signature, dan rapat lewat video conference. (cnbcindonesia.com. Senin, 25/05/2020).

Kebijakan new normal juga mengundang kritik dari pakar ahli kesehatan. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.

Menurut Hermawan wacana new normal ini membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, namun kenyataan belum dan perlu persiapan-persiapan dalam new normal tersebut. (m.merdeka.com. Senin, 25/05/2020). 

Kegagalan Ideologi Kapitalisme
Masyarakat akan menjalani kehidupan secara new normal sampai ditemukannya vaksin dan bisa digunakan sebagai penangkal virus corona.

Beberapa ahli dan pakar kesehatan dunia sudah memastikan kalau kemungkinan paling cepat bisa ditemukannya vaksin adalah pada tahun 2021. Artinya, masyarakat harus menjalani kehidupan secara new normal sampai tahun depan, atau bahkan lebih.

Dampak dari perbincangan new normal belakangan ini membuat masyarakat mengalami pandangan yang bebas tanpa melihat potensi penyebaran virus corona (permisivisme). Sehingga menyebabkan jalanan, pasar,  dan mall kembali ramai. Serta tempat-tempat umum lainnya. 

Ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah untuk menormalkan kondisi ekonomi tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan.

pemerintah juga belum memiliki peta jalan, new normal life hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak menjadi masalah baru. kebijakan ini bertujuan membangkitkan ekonomi namun faktanya justru membahayakan manusia. Alih-alih ekonomi akan bangkit. Hal ini justru mengantarkan wabah gelombang ke dua mengintai di depan mata. 

Ini semua jelas membuktikan kegagalan ideologi kapitalisme dalam mengatur kehidupan. Mau bagaimana pun kebijakan tambal sulam untuk mengatasi krisis, keruntuhan kapitalisme sepertinya sudah tak bisa dihentikan

Kepercayaan masyarakat dunia terhadap sistem kapitalisme sudah semakin berkurang. Pahitnya hidup karena kesenjangan ekonomi-sosial yang besar di tengah masyarakat akibat penerapan sistem kapitalisme sudah jamak dirasakan. Apalagi saat pandemi, semua kerusakan ini semakin parah. Rakyat kecil semakin menjerit, yang miskin semakin miskin. Rakyat ekonomi menengah ke atas juga merasakan dampak buruknya penerapan sistem kapitalisme. Semua pihak terdampak.

Ganti Sistem Islam

Sistem pemerintahan islam bersifat independen, tidak membebek negeri manapun atau bahkan sekedar mengikuti tren sebagaimana yang terjadi saat ini. Dalam islam segala aspek kehidupan hanya diataur oleh hukum yang bersumber dari sang khaliq Allah SWT.

Penguasa dalam Islam siap membela rakyat dan mendahulukan kepentingan-kepentingan mereka dibanding kepentingan dirinya. Senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga. Pencederaan terhadap salah satu di antaranya, dipandang sebagai pencederaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena semuanya adalah jaminan dari penegakan hukum syara’.

Penguasa dalam islam menangani pandemi berdasarkan ajaran Nabi SAW. menerapkan karantina wilayah (lockdown) bagi kawasan zona merah. Melakukan proses isolasi serta pengobatan dan perawatan terbaik bagi yang sakit, sampai mereka sembuh. Serta menjamin warga yang sehat agar tetap sehat dan jangan sampai tertular wabah.

Sistem Islam akan berupaya sekuat mungkin agar angka korban tak bertambah. Karena satu saja sumber daya manusia yang menjadi warganya, adalah aset yang harus dipertanggungjawabkan pengurusannya oleh penguasa di hadapan Allah SWT di akhirat kelak.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Yang negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat. Hingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Sebagaimana Allah SWT telah memberi mereka predikat bergengsi, sebagai sebaik-baik umat. Wallāhu a’lam bis Showāb.


Oleh Nur Itsnaini Maulida



Posting Komentar

1 Komentar

  1. Selama yg dipakai sistem kapitalis, lockdown yg dilakukan di salah satu wilayah spt Tegal yg sukses sbg wil hijau akan mampu bertahan sampai kapan? Beda dg sistem Islam Lockdown keseluruhan zona merah dg dibekali taqwallah😊

    BalasHapus