New Normal: Gagal dan Rapuhnya Kapitalisme


Banyaknya masalah yang belum bisa diselesaikan dinegeri ini, ditambah meningkatnya korban covid karena penanganan yang tidak maksimal, menjadikan masyarakat kecewa. Terlihat kegagalan penguasa dalam menangani wabah. Masyarakat dipaksa menelan pil pahit dari setiap kebijakan yang dikeluarkan.

Semua bermula dari lstana, Presiden sering membuat kebijakan yang sering berubah, inkonsisten dan ujungnya tetap tidak membuahkan hasil. Bahkan pernyataan salah satu menteri yang menyamakan corona dengan istri,  menjadikan banyak pihak meragukan kepemimpinannya. Rakyat berjibaku melawan wabah, sebaliknya pejabat terlihat tak serius menanganinya.

Yang terbaru, Presiden membuat kebijakan new normal life atau berdamai dengan wabah. Rencana awal juni ini sekolah dibuka, mal dan pusat perbelanjaan boleh beroperasi, kantor, bandara dan seluruh layanan publik diminta untuk melayani sebagaimana kehidupan normal.

Ekonomi menjadi alasan pemerintah untuk menerapkan new normal life. Ketika kerja dan sekolah dari rumah maka terjadi keterpurukan pendapatan. Padahal sebelum wabah pun ekonomi indonesia sudah mengalami devisit, hal ini terlihat sepinya pusat perbelanjaan maupun pasar tradisional ditenggarai turunnya daya beli masyarakat.

Inilah salah satu bukti sistem kapitalis yang tak memihak pada masyarakat bawah. Kebijakan selalu berbicara untung rugi, dan kapitalah yang selalu mendapatkannya, rakyat tetap dalam kecemasan antara wabah dan himpitan ekonomi. Pemimpin terlihat setengah hati jika menyangkut urusan rakyat, tapi sigap dan cepat bila terkait kepentingan pemodal.

Ditengah kepungan wabah yang belum jelas kapan berakhir, seruan new normal justru mengkuatirkan banyak pihak. Apalagi tenaga medis yang berada digarda terdepan melawan wabah menyayangkan kebijakan tersebut.

Skenario new normal ini berpotensi menciptakan peningkatan kasus Covid-19 lagi dan berimbas pada tenaga medis, khususnya para perawat.

"Ini yang menjadi perhatian kami. Kami sudah punya prediksi, khawatir ada banyak eskalasi kasus. Jika kasus meningkat, maka kami-kami juga yang menjadi ujung tombak," ujar Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhillah ketika dihubungi Kompas.com pada Senin (18/5/2020).

Lagi-lagi kepentingan kesehatan dan nyawa rakyat diabaikan. Seandainya sejak awal wabah menyebar diberlakukan lockdown dengan dipenuhinya kebutuhan masyarakat tentu kondisi bisa segera diatasi. Hal ini tidak akan terjadi dalam sistem kapitalisme. Selalu kepentingan para kapital yang diutamakan, rakyat jadi korban. Ini menjadi bukti, Kapitalisme gagal dan tidak mampu menyelesaikan persoalan umat manusia.

Disisi lain Islam hadir di dunia sebagai solusi berbagai permasalahan. Dalam sistem islam, kebijakan yang dikeluarkan pemimpin negara/Khalifah adalah untuk kemaslahatan rakyat.

Kesehatan dalam islam adalah hak rakyat, dan pemimpin wajib memenuhinya dengan murah bahkan gratis.  Maka Khalifah akan bersungguh-sungguh mengupayakan agar sarana prasaran tersedia dengan kualitas yang baik.

Khalifah adalah jabatan berat yang hanya sanggup dipikul orang yang amanah. Kepemimpinan bukan untuk pencitraan, apalagi demi kepentingan segelintir orang. Jabatan adalah amanah besar dan akan diminta pertanggung jawaban dihadapan-Nya. Khalifah takut bahwa jabatan akan menghantarkan penyesalan yang abadi di akhirat kelak.

Sebagaimana yang pernah dilakukan Khalifah Umar bin khathab menghadapi wabah tha’un di Syam. Khalifah dengan cepat mengisolasi wilayah terdampak serta memenuhi kebutuhan rakyat maka wabah tak menyebar keluar.

Kebijakan yang tepat akan menjadikan kehidupan rakyat tenang dan tidak diliputi kecemasan. Rakyat akan mencintai pemimpinnya, karena mengurusi dengan sepenuh hati. Tak ada untung rugi, bagi khalifah menjalankan amanah hanya mengharap ridlo-Nya.

Pemimpin yang baik dan sukses menghantarkan kehidupan masyarakat sehat jasmani maupun ekonomi hanya ada dalam sistem lslam.
Allahu a’lam.

Oleh: Umi Hanifah (Aktivis Muslimah Peduli Negeri dan Generasi).

Posting Komentar

0 Komentar