TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

New Normal Dipaksakan atau Sesuai dengan Harapan?

Pandemi Corona yang melanda negeri ini belum berhenti sampai di sini. Penyebarannya masih tinggi dan hampir tersebar di seluruh penjuru negeri. Jawa Timur menjadi salah satu provinsi yang terkena pandemi. Hampir semua kota di Jawa Timur berstatus zona merah. Surabaya sebagai jantung kota Jawa Timur kini masih dalam kungkungan virus Corona yang mematikan. Surabaya berstatus zona hitam, artinya Surabaya daerah yang dinyatakan "darurat" corona. 

Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia Kota Surabaya, Jawa Timur masuk zona hitam penyebaran virus corona (Covid-19) setelah kasus positif di daerah itu per 1 Juni 2020 mencapai angka 2.633 orang. Dari jumlah itu 240 orang dinyatakan sembuh, 2.147 orang masih menjalani perawatan dan 246 orang meninggal dunia.

Data tersebut diambil dari situs resmi Pemprov Jawa Timur, infocovid19.jatimprov.go.id yang diakses CNNIndonesia.com Selasa (2/6), pukul 18.03 WIB.

Peta corona Jawa Timur dalam situs tersebut disertai dengan keterangan warna. Berdasarkan keterangan itu, warna hitam digunakan untuk daerah dengan jumlah kasus lebih dari 2.049. Terpantau hanya Kota Surabaya yang mendapat warna hitam dalam peta sebaran corona di Jatim. Sementara daerah lain seperti Sidoarjo dan Gresik yang masuk dalam kawasan Surabaya Raya berwarna merah tua. (Cnnindonesia,selasa 02/05/2020) 

Itulah kondisi kota Surabaya dan kota-kota di Jawa Timur. Namun pemerintah Provinsi Jawa Timur hendak menyiapkan kondisi New Normal. Ditengah grafik Corona yang masih tinggi, masyarakat Jawa Timur diminta hidup berdampingan dengan Corona. Jelas kondisi ini sangatlah berbading terbalik dengan keadaan. 

Tidakkah kita berkaca kondisi Seoul Korea Selatan? Korea Selatan ketika menerapkan New Normal dengan berbagai kajian dan keadaannya sudah membaik. Namun ketika kebijakan New Normal diterapkan, salah satunya dengan pembukaan sekolah. Lonjakan virus corona semakin meningkat. Akhirnya sekolah di tutup kembali.

Jika kita telisik mengapa pemerintah daerah begitu memaksakan menerapkan kebijakan New Normal. 
Pertama, menggerakkan kembali laju perekonomian yang telah mati akibat pendemi. Tak dipungkiri pendemi yang terjadi saat ini berimbas ke lesunya ekonomi. Hampir semua sektor perekonomian mati suri. Mulai dari pariwisata, mall, kuliner, travel dan lain sebagainya. Kebijakan New Normal yang di ambil pemerintah kota Surabaya tujuan untuk menggerakan laju perekonomian.

Hal ini sebagaimana General Manager Mal BG Junction Surabaya, Heru Prasetya menegaskan, selama pandemi virus corona, mal tersebut mengalami penurunan pengunjung hingga 80 persen. Bahkan, dari total 600 tenant yang dikelola mal, 450 diantaranya memilih tutup dan merumahkan karyawannya selama pandemi COVID-19.

"Pada saat ini, kami lagi persiapan gencar-gencarnya menempel poster dan sosialisasi kepada tenant-tenant, dengan harapan masyarakat akan semakin sadar saat berkunjung ke mal," ujarnya, di lokasi, Senin (1/6/2020). (Surya.co.id)

Mereka harus mengikuti protokol New Normal, karena penting untuk mencegah penularan virus corona. Mengingat, hampir semua mall pasti mengalami penurunan pengunjung.

Kedua, kebijakan yang dipaksakan. New Normal yang diambil oleh Pemerintah Kota (PemKot) Surabaya adalah sebuah kebijakan yang dipaksakan. Pasalnya Jawa Timur masih dalam kondisi puncak penyebaran virus Corona. Keselamatan jiwa masyarakat tidak menjadi prioritas utama. Meski pemerintah telah menyiapkan protokoler kesehatan namun hal ini tidak menjamin virus corona semakin menyebar. 

Ketiga, Mengakomodir kepentingan para pengusaha besar. Tak dapat dipungkiri bahwa skema New Normal  adalah demi mengakomodir kepentingan para pengusaha besar. Lihatlah! Belum resmi New Normal saja mall di Surabaya sudah aktif. Sedang masjid-masjid masih ditutup. Hal ini tanpa memperhatikan keselamatan rakyat. Pasalnya pelaku bisnis mall di jantung kota adalah kalangan konglomerat bukan "wong melarat" (baca: orang miskin). 

Pergerakan ekomoni yang berbasis rakyat dibiarkan begitu saja. Rakyat dibiarkan menggerakkan laju perekonomiannya sendiri, tanpa tangan pemerintah daerah. 

Inilah realitas negara yang berkiblat kepada Barat dengan konsep sesat kapitalisme sekuler. Tolok ukur dan timbangan setiap kebijakan adalah demi kemaslahatan korporat. Sekuat apapun kesungguhan PemKot memperlihatkan citra peduli masyarakat, sistem kehidupan yang bercokol hampir satu abad ini akan menggilas habis idealisme tersebut. Inilah wajah buruk sistem buatan manusia.

Saatnya kita beralih kepada hukum dari Allah sang pencipta manusia. Karena hukum Allah lah yang mampu mensejahterakan manusia. Hukum Islam adalah solusi dari permasalahan pemberantasan wabah penyakit. Dalam Islam sangatlah mempertahankan nyawa manusia. Hilangnya satu nyawa lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Hal ini sebagaimana dalam hadits: "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani). Sangat disayangkan, nyawa seorang muslim harus hilang untuk sesuatu yang sangat tidak jelas. 

Selain menjamin keselamatan rakyatnya dalam Islam rakyat juga dijamin kebutuhan pokoknya. Salah satu bagian terpenting dalam syariat Islam adalah aturan menjamin kebutuhan pokok bagi setiap rakyat. Kebutuhan pokok tersebut berupa sandang, pangan, papan dan lapangan pekerjaan. Dalam khilafah laki-laki wajib berkerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, keluarga serta anak dan istrinya. Jika laki-laki tersebut tidak mampu berkerja karena alasan tertentu maka kebutuhannya ditanggung oleh sanak kerabatnya. Jika sanak kerabatnya juga tidak mampu maka negara yang akan menanggungnya. 

Negara dengan baitul maalnya akan menanggung nafkah bagi orang-orang yang tidak mampu bekerja dan berusaha. Jika khilafah tidak mampu maka seluruh kaum muslimin wajib menanggungnya. Ini direfleksikan dengan penarikan pajak oleh khilafah kepada orang-orang yang mampu. Setelah itu didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Oleh: Siti Masliha, S.Pd (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar